Review
Rabu, 28 Oktober 2020 | 10:01 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:14 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 17:13 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 10:00 WIB
PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (5)
Jum'at, 30 Oktober 2020 | 14:22 WIB
KAMUS PABEAN
Jum'at, 30 Oktober 2020 | 10:21 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 28 Oktober 2020 | 17:01 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Jum'at, 30 Oktober 2020 | 11:17 WIB
STATISTIK KERJA SAMA PAJAK
Rabu, 28 Oktober 2020 | 09:21 WIB
KURS PAJAK 28 OKTOBER - 3 NOVEMBER 2020
Selasa, 27 Oktober 2020 | 17:06 WIB
STATISTIK PAJAK DIGITAL
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Komunitas
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 14:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 13:01 WIB
UIN WALISONGO SEMARANG
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 10:12 WIB
DDTCNEWS GRAFITAX 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 09:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Reportase

Lockdown atau Tidak?

A+
A-
0
A+
A-
0
Lockdown atau Tidak?

Ilustrasi (Foto: republicworld.com)

SITUASI perekonomian di tengah mewabahnya pandemi Corona (Covid-19) akhir-akhir ini sungguh menyesakkan. Federal Reserves pada Minggu (15/3/2020) sekoyong-konyong kembali memangkas suku bunganya 100 basis poin, melanjutkan pemangkasan Selasa (5/3/2020) 50 basis poin.

Dengan pemangkasan terbesar sejak Desember 2008 itu, suku bunga The Fed yang jadi acuan global kini tinggal 0-0,25%, terendah sejak 2015. Pada saat yang sama, The Fed juga mengaktifkan kembali program quantitative easing senilai US$700 miliar, program yang telah berhenti pada Oktober 2014.

Pemangkasan tersebut dilakukan untuk melindungi perekonomian dari dampak negatif pandemi Corona. “Dampak penyebaran virus Corona akan membebani aktivitas ekonomi dalam jangka pendek sehingga menimbulkan risiko terhadap prospek ke depan” ungkap keterangan tertulis The Fed.

Baca Juga: Pengusaha Minta Pembebasan Pajak Orang Pribadi Hingga 2021

Pelonggaran moneter yang mendadak ini sontak menggerogoti nilai tukar dolar dan nilai tukar rata-rata negara emerging market lainnya. Setelah pemangkasan itu, investor asing ramai-ramai melepas portofolionya di emerging market dan mengubahnya ke aset yang lebih aman seperti obligasi AS.

Di Jakarta, tekanan tersebut mengalahkan kabar baik dari pembalikan surplus transaksi perdagangan Februari dari 3 bulan sebelumnya defisit. Akibatnya, rupiah terdepresiasi hingga tembus Rp15.000 per dolar AS, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 29% selama tahun berjalan.

Hingga Selasa (17/3/2020), terdapat 183.304 orang di 163 negara yang terkena virus Corona. Dari jumlah tersebut, 7.166 dinyatakan meninggal, dan 79.731 di antaranya sembuh. Di Indonesia sendiri, ada 172 orang yang terkena virus Corona, 5 dinyatakan meninggal dan 9 yang lain sembuh.

Baca Juga: Upah Minimum Tidak Naik, Ini Kata Sri Mulyani Soal Cara Jaga Daya Beli

Memang, di berbagai negara pandemi itu telah sedemikian rupa menghantam perekonomian. Untuk mencegah semakin banyaknya jatuh korban, beberapa negara telah me-lockdown negaranya. Wuhan (China), Italia, Irlandia, Denmark, Spanyol, Prancis, Filipina, Malaysia, semua memutuskan lockdown.

Lalu, apakah Indonesia perlu mengikuti jejak negara-negara tersebut dengan melakukan lockdown? Di sinilah persoalannya. Beberapa hari terakhir ramai silang pendapat di berbagai media, tentang positif dan negatifnya melakukan lockdown. Ada yang pro, dan ada yang kontra.

Secara tidak langsung, Indonesia terutama di Jakarta, faktanya sudah menerapkan semi lockdown. Sejumlah kantor pemerintah atau swasta, juga sekolah, sudah tutup karena pekerjaan dan kegiatan belajar dilakukan dari rumah. Lalu lintas di jalan sepi, mal dan pasar sepi, tempat wisata juga tutup.

Baca Juga: Sri Mulyani Rombak Jadwal Rapat Kemenkeu Mulai Bulan Depan, Ada Apa?

Memang, nyaris seluruh kegiatan ekonomi terpengaruh pandemi ini. Pegawai Ditjen Pajak hanya 20% yang berkantor sampai 5 April 2020, sisanya bekerja dari rumah. Pemeriksaan, pengawasan wilayah, dan penyuluhan langsung semua dihentikan. Pengadilan Pajak juga tutup sampai 31 Maret 2020.

Situasi isolasi terbatas atau semi lockdown seperti ini tentu buruk untuk perekonomian. Apalagi bila diterapkan lockdown, yang berarti isolasi menyeluruh, misalnya dengan melarang orang bepergian ke luar kota, atau melarang orang menaiki moda transportasi antarkota.

Di sisi lain, dominasi sektor perekonomian informal masih sangat besar di Indonesia. Mereka inilah, para tukang bakso, tukang jahit keliling, tukang ojek online, tukang somay keliling, dan seterusnya, yang akan mengalami kerugian paling besar apabila diterapkan lockdown.

Baca Juga: KSSK: Indikator Sistem Keuangan dalam Kondisi Normal

Karena itu, bagi pemerintah, memutuskan lockdown bukanlah persoalan mudah. Harus ada berbagai persiapan yang dilakukan, misalnya menyiapkan bantuan langsung tunai kepada para pekerja sektor informal, menyiapkan penjagaan ketat di wilayah perbatasan, dan seterusnya.

Apalagi jika lockdown dilakukan di satu kota tertentu. Perlu koordinasi dengan kota-kota sekitarnya. Karena itu, kita mengapresiasi sikap Presiden Joko Widodo yang mengingatkan agar kepala daerah tidak memutuskan lockdown sendirian. Lockdown harus diputuskan pemerintah pusat.

Terakhir, saatnya kita mengurangi aktivitas di luar seraya mengurangi kontak fisik, menerapkan isolasi terbatas. Masyarakat harus lebih disiplin bukan karena virus ini sangat mematikan, tetapi lebih karena virus ini sangat cepat menular. Semoga kita, keluarga kita, dan negara kita selamat dari pandemi ini.

Baca Juga: Pajak Turis di Eropa Masih Berlaku Meski Pandemi Corona, Ini Alasannya

Topik : virus corona, lockdown, pandemi corona
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 20 Oktober 2020 | 10:17 WIB
KABINET INDONESIA MAJU
Senin, 19 Oktober 2020 | 16:51 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Senin, 19 Oktober 2020 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Senin, 19 Oktober 2020 | 15:12 WIB
STIMULUS FISKAL
berita pilihan
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 15:01 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 14:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 13:01 WIB
UIN WALISONGO SEMARANG
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 12:01 WIB
UJI MATERIAL
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 10:12 WIB
DDTCNEWS GRAFITAX 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 10:00 WIB
PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (5)
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 09:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN