Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

'I'm the Taxman, and You're Working for No One But Me'

0
0

PM Inggris Harold Wilson (kedua kiri) bersama The Beatles (dari kiri): John Lennon, George Harrison, Paul McCartney, dan Ringo Starr bertemu pada 19 Maret 1964 (Foto: hillmanweb.com)

GEORGE Harrison tidak sedang mengobarkan revolusi. Tapi di tahun 1966, gitaris, vokalis, sekaligus pencipta lagu berambut dan berkumis gondrong ini menulis sesuatu yang menyengat, yang kemudian menjadi lagu pembuka album Revolver yang dirilis The Beatles tahun itu juga. Lihat liriknya:

Let me tell you how it will be/ There's one for you, nineteen for me

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman

Baca Juga: Tanggapi Aksi Rompi Kuning, Macron Bakal Ubah Aturan Pajak

Should five percent appear too small/ Be thankful I don't take it all

'Cause I'm the taxman, yeah I'm the taxman

If you drive a car, I'll tax the street/ If you try to sit, I'll tax your seat

Baca Juga: Atasi Penuaan Populasi, Ini Rencana Pajak Calon Perdana Menteri

If you get too cold I'll tax the heat/ If you take a walk, I'll tax your feet

Don't ask me what I want it for/ If you don't want to pay some more

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman

Baca Juga: 69 Jutawan Setor Pajak Nol

Now my advice for those who die/ Declare the pennies on your eyes

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman/ And you're working for no one but me

Lirik lagu berjudul The Taxman ini tentu tidak datang dari ruang hampa. Sekitar setahun sebelumnya, pemerintah dan parlemen Inggris sepakat merilis kebijakan pajak penghasilan (PPh) progresif yang mengubah rentang besaran (layer) sekaligus klasifikasi pengelompokan (bracket) pengenaan PPh.

Baca Juga: Gagasan IMF Soal Pajak Internasional Berisiko Dimentahkan?

Dengan perubahan tersebut, tarif PPh untuk layer dan bracket tertinggi di Inggris membubung jadi 83%, dan mereka yang berpenghasilan di atas bracket itu terkena tambahan 15%. Total jenderal, 90%-98%. Tentu ini bukan tarif efektif. Tapi, penghasilan The Beatles sendiri di atas bracket tertinggi itu.

Should five percent appear too small, be thankful I don't take it all,” tulis Harrison.

“Dia memang marah saat menulis lagu itu,” kata Paul McCartney dalam wawancara dengan majalah Playboy tahun 1984. “Dia menulis lirik itu lalu menyanyi dan aku mengiringinya dengan gitar. George marah dengan apa yang dilakukan petugas pajak pada dirinya. Dia tak pernah tahu sebelumnya.”

Baca Juga: Pemberian Kompensasi Pajak Personel Militer Dilanjutkan

Dalam proses rekaman, atas persetujuan Harrison, John Lennon yang juga memahami konteks lirik lagu tersebut bahkan menambahkan frasa “Ah, ah, Mister Wilson” dan "Ah, ah, Mister Heath” yang dinyanyikan dengan teknik falsetto oleh penyanyi latar (backing vocal) pada bagian reffrain lagu.

Mister Wilson and Mister Heath ini tidak lain mengacu pada Harold Wilson, Pemimpin Partai Buruh yang juga Perdana Menteri Inggris saat itu, serta Edward Heath, Pemimpin Partai Konservatif. Kedua partai itu adalah partai terbesar sekaligus pemilik suara mayoritas di parlemen Inggris.

Lalu, apa protes The Beatles yang menyengat ini didengar? Apa kemudian Pemerintahan Wilson yang bertahan 2 periode dari 1964 sampai 1976 menangkap George Harrison, Ringo Starr, John Lennon, dan Paul McCartney dan memasukkan mereka ke penjara atas tuduhan makar?

Baca Juga: Ini Alasan Bos IMF Lihat Perlunya Pendekatan Baru Pajak Internasional

Kita tahu, akibat pajak yang mencekik itu, di tahun 70-an seluruh personel The Beatles pindah dari Liverpool ke Amerika Serikat, disusul The Rolling Stones-nya Mick Jagger yang mengungsi dari Inggris ke Prancis. Begitu pula Rod Steward yang menyusul pindah dari London ke Los Angeles dan David Bowie yang ke Swiss.

“I'm the taxman, and you're working for no one but me,” kata Harrison. (Bsi)

Baca Juga: Bos IMF: Arsitektur Pajak Internasional Ketinggalan Zaman

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman

Baca Juga: Tanggapi Aksi Rompi Kuning, Macron Bakal Ubah Aturan Pajak

Should five percent appear too small/ Be thankful I don't take it all

'Cause I'm the taxman, yeah I'm the taxman

If you drive a car, I'll tax the street/ If you try to sit, I'll tax your seat

Baca Juga: Atasi Penuaan Populasi, Ini Rencana Pajak Calon Perdana Menteri

If you get too cold I'll tax the heat/ If you take a walk, I'll tax your feet

Don't ask me what I want it for/ If you don't want to pay some more

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman

Baca Juga: 69 Jutawan Setor Pajak Nol

Now my advice for those who die/ Declare the pennies on your eyes

'Cause I'm the taxman, yeah, I'm the taxman/ And you're working for no one but me

Lirik lagu berjudul The Taxman ini tentu tidak datang dari ruang hampa. Sekitar setahun sebelumnya, pemerintah dan parlemen Inggris sepakat merilis kebijakan pajak penghasilan (PPh) progresif yang mengubah rentang besaran (layer) sekaligus klasifikasi pengelompokan (bracket) pengenaan PPh.

Baca Juga: Gagasan IMF Soal Pajak Internasional Berisiko Dimentahkan?

Dengan perubahan tersebut, tarif PPh untuk layer dan bracket tertinggi di Inggris membubung jadi 83%, dan mereka yang berpenghasilan di atas bracket itu terkena tambahan 15%. Total jenderal, 90%-98%. Tentu ini bukan tarif efektif. Tapi, penghasilan The Beatles sendiri di atas bracket tertinggi itu.

Should five percent appear too small, be thankful I don't take it all,” tulis Harrison.

“Dia memang marah saat menulis lagu itu,” kata Paul McCartney dalam wawancara dengan majalah Playboy tahun 1984. “Dia menulis lirik itu lalu menyanyi dan aku mengiringinya dengan gitar. George marah dengan apa yang dilakukan petugas pajak pada dirinya. Dia tak pernah tahu sebelumnya.”

Baca Juga: Pemberian Kompensasi Pajak Personel Militer Dilanjutkan

Dalam proses rekaman, atas persetujuan Harrison, John Lennon yang juga memahami konteks lirik lagu tersebut bahkan menambahkan frasa “Ah, ah, Mister Wilson” dan "Ah, ah, Mister Heath” yang dinyanyikan dengan teknik falsetto oleh penyanyi latar (backing vocal) pada bagian reffrain lagu.

Mister Wilson and Mister Heath ini tidak lain mengacu pada Harold Wilson, Pemimpin Partai Buruh yang juga Perdana Menteri Inggris saat itu, serta Edward Heath, Pemimpin Partai Konservatif. Kedua partai itu adalah partai terbesar sekaligus pemilik suara mayoritas di parlemen Inggris.

Lalu, apa protes The Beatles yang menyengat ini didengar? Apa kemudian Pemerintahan Wilson yang bertahan 2 periode dari 1964 sampai 1976 menangkap George Harrison, Ringo Starr, John Lennon, dan Paul McCartney dan memasukkan mereka ke penjara atas tuduhan makar?

Baca Juga: Ini Alasan Bos IMF Lihat Perlunya Pendekatan Baru Pajak Internasional

Kita tahu, akibat pajak yang mencekik itu, di tahun 70-an seluruh personel The Beatles pindah dari Liverpool ke Amerika Serikat, disusul The Rolling Stones-nya Mick Jagger yang mengungsi dari Inggris ke Prancis. Begitu pula Rod Steward yang menyusul pindah dari London ke Los Angeles dan David Bowie yang ke Swiss.

“I'm the taxman, and you're working for no one but me,” kata Harrison. (Bsi)

Baca Juga: Bos IMF: Arsitektur Pajak Internasional Ketinggalan Zaman
Topik : The Beatles, The Taxman, pph progresif, pajak penghasilan
artikel terkait
Selasa, 26 Maret 2019 | 15:07 WIB
JEAN-BAPTISTE COLBERT:
Senin, 11 Desember 2017 | 06:05 WIB
GIFTY AGYEIWAA BADU
Rabu, 28 September 2016 | 16:40 WIB
ALBERT EINSTEIN:
Kamis, 19 Mei 2016 | 08:22 WIB
JOHN MARSHALL:
berita pilihan
Senin, 11 Desember 2017 | 06:05 WIB
GIFTY AGYEIWAA BADU
Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:
Kamis, 15 Februari 2018 | 21:57 WIB
ARTHUR LAFFER:
Selasa, 16 Oktober 2018 | 11:46 WIB
PANGERAN DIPONEGORO:
Selasa, 26 Maret 2019 | 15:07 WIB
JEAN-BAPTISTE COLBERT:
Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
Kamis, 20 Desember 2018 | 12:57 WIB
MAHATMA GANDHI:
Selasa, 12 Februari 2019 | 14:32 WIB
HAJI WASID:
Jum'at, 28 September 2018 | 20:15 WIB
EDUARD DOUWES DEKKER: