Review
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Kamis, 22 September 2022 | 13:53 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 20 September 2022 | 17:40 WIB
KONSULTASI UU HPP
Fokus
Literasi
Selasa, 27 September 2022 | 16:10 WIB
BUKU PAJAK
Senin, 26 September 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Senin, 26 September 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 23 September 2022 | 18:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Rabu, 14 September 2022 | 09:21 WIB
KURS PAJAK 14 SEPTEMBER - 20 SEPTEMBER 2022
Rabu, 07 September 2022 | 09:33 WIB
KURS PAJAK 07 SEPTEMBER - 13 SEPTEMBER
Komunitas
Rabu, 28 September 2022 | 14:36 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Rabu, 28 September 2022 | 11:14 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Rabu, 28 September 2022 | 09:30 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Selasa, 27 September 2022 | 14:50 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Reportase
Perpajakan ID
Minggu, 25 September 2022 | 09:00 WIB
EDUKASI PAJAK
Jum'at, 23 September 2022 | 11:00 WIB
EDUKASI PAJAK
Kamis, 15 September 2022 | 10:15 WIB
PERPAJAKAN ID
Selasa, 13 September 2022 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

A+
A-
2
A+
A-
2
'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

(Foto: achievement.org/achiever/mikhail-s-gorbachev/)

11 BULAN sebelum membubarkan Uni Soviet, ia menerbitkan satu keputusan. Mulai 1 Januari 1991, di negara terluas di dunia itu berlaku pajak penjualan 5%. Bersama dengan pajak omzet yang eksis sejak 1932, kedua pajak itu menjadi pajak barang dan jasa di negara tersebut.

Berlakunya pajak penjualan itu tentu tidak datang dari ruang hampa. Pemerintah Uni Soviet, yang saat itu sudah ditinggal Estonia, Latvia, Lituania, Armenia, dan Rusia yang mendeklarasikan kedaulatannya, terlalu miskin untuk membiayai besarnya APBN 1991.

Memang, APBN Uni Soviet dalam kesulitan besar. DPR yang dipilih demokratis telah menetapkan program pensiun senilai US$50 miliar. Namun di sisi lain, defisit APBN 1991, ditambah beban defisit tahun-tahun sebelumnya, sudah melampaui US$162 miliar!

Baca Juga: 'Jangan Meminta, tetapi Apa yang Bisa Kamu Sumbangkan kepada Negerimu'

Kesulitan likuiditas ini diperparah transisi menuju glasnost (keterbukaan politik) dan perestroika (restrukturisasi ekonomi) yang gamang. Pada 1991 itu, meski di luar negeri Uni Soviet menuai banyak puja-puji akibat perubahan kebijakannya, laju inflasi di dalam negerinya melejit hingga 300%.

Tak pelak, terjadi kelangkaan makanan berkepanjangan yang mengerek kemiskinan. “Waktu saya ke sana, perempuan di sana masih mau ‘menjual’ dirinya untuk ditukar roti,” kenang seorang wartawan satu harian nasional, saat mengikuti Menteri Perindustrian Tunky Ariwibowo ke Rusia pada 1993.

Dengan merosotnya perekonomian diikuti dengan susutnya nilai mata uang, defisit APBN Uni Soviet bisa melampaui perkiraan US$162 miliar. Namun, ia yakin, dengan penerapan pajak penjualan, defisit APBN Uni Soviet akan susut US$90 miliar sehingga menjadi US$72 miliar.

Baca Juga: 'Monopoli Itu Seperti Perbudakan!'

“Dana pajak ini untuk meredam dampak perpindahan ke ekonomi pasar dengan memberikan subsidi kepada industri yang akan terpukul keras karena harga negara diganti dengan yang didasarkan pada harga pasar,” kata Presiden Uni Soviet Mikhail Sergeyevich Gorbachev (1931-).

Lalu apa hasil kebijakan pajak penjualan itu? Tidak seperti 3 tahun sebelumnya, ketika Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet ini mengerek tarif cukai minuman keras dan sukses mengerek naik usia harapan hidup penduduk Uni Soviet, kali ini hasil yang diterimanya sungguh di luar dugaan.

Orang-orang di jalanan mengolok pajak itu sebagai ‘pajak presiden’. Di satu toko di Moskow, seorang perempuan yang mengantre untuk membeli cangkir, begitu tiba di kasir dengan tagihan 5% lebih banyak, langsung mencerca Gorbachev seraya mengembalikan cangkir itu, lalu beranjak.

Baca Juga: 'Tidak Usah! Saudara Tidak Usah Membayar Pajak!'

“Kurasa mereka akan berlayar, mungkin ke Yunani,” kata seorang perempuan mengomentari rencana liburan Gorbachev bersama istrinya, Raisa, tahun itu. “Tidak,” jawab rekannya sinis. “Raisa akan mendapat mantel bulu baru dan dia akan memiliki beberapa setelan buatan Italia.” (Fein, 1991)

Gorbachev lahir 2 Maret 1931 di Privolnoye, Stavropol Krai, Rusia, Uni Soviet. Ayahnya petani etnis Rusia, ibunya etnis Ukraina. Keduanya datang dari keluarga miskin. Semula ia dinamai Victor, tetapi ibunya, seorang Kristen Ortodoks yang taat, membaptisnya dengan nama Mikhail.

Meski miskin, Gorbachev adalah pembaca yang rakus. Tidak hanya berjilid-jilid buku Marxisme-Leninisme, ia bisa dengan cepat berpindah dari membaca novel-novel barat ke karya sastra Uni Soviet, dari novel Thomas Mayne Reid ke novel Vissarion Belinsky atau Alexander Pushkin.

Baca Juga: Benjamin Franklin: Antara Pajak dan Kematian

Pada 1946, ia bergabung dengan Komsomol (Kommunistícheskiy Soyúz Molodyozhi) Stavropol Krai, divisi pemuda Partai Komunis Uni Soviet, yang belakangan dipimpinnya. Lalu ia bertolak ke Moskow karena diterima tanpa tes di Fakultas Hukum Universitas Negeri Moskow. (Taubman, 2017).

Ia dilantik menjadi pemimpin tertinggi Uni Soviet pada 11 Maret 1985 dan menjadi satu-satunya calon presiden pada pleno Central Committee pada 14 Maret 1990. Pemilu Presiden ini digelar setahun setelah Pemilu Legislatif secara langsung pertama sepanjang sejarah Uni Soviet.

Hanya 8 bulan setelah merilis pajak penjualan itu, di tengah kesulitan ekonomi dan gonjang-ganjing politik, ia dikudeta. Tidak tanggung-tanggung, yang mengudetanya mantan Wakil Presiden yang dipilihnya dan Kepala KGB (Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti), agen intelejen Rusia.

Baca Juga: 'Belanda Tidak Punya Hak Lagi atas Indonesia'

Beruntung, sebagian besar rakyat Uni Soviet menolak kudeta tersebut. Mereka menggelar demonstrasi. Presiden Rusia Boris Yeltsin juga menolak kudeta itu. Akhirnya, kudeta itu berakhir setelah 3 hari. Namun, alih-alih mereda, kasak-kusuk politik justru makin kencang.

Tanpa sepengetahuan Gorbachev, pada 8 Desember 1991 Yeltsin bertemu Presiden Ukraina Leonid Kravchuk dan Presiden Belarusia Stanislav Shushkevich di Belovezha, Belarusia. Mereka menganggap Uni Soviet bubar dan membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).

Gorbachev baru mengetahui ini saat Stanislav mengontaknya. Ia sangat marah, lalu merilis pernyataan yang menyebut CIS ilegal dan berbahaya. Namun, arah angin telanjur berubah. Pada 20 Desember, 11 pemimpin dari 12 republik Uni Soviet bertemu di Alma-Ata, Kazakhstan.

Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Mereka sepakat membubarkan Uni Soviet dan secara resmi mendirikan CIS. Mereka juga menerima pengunduran diri Gorbachev sebagai Presiden dari sisa-sisa Uni Soviet. Pada saat yang sama, Gorby, demikian pers barat menyebutnya, malah sedang berfoto bersama band rock Scorpions.

Pada 25 Desember 1991, Gorbachev mengundurkan diri. “Saya menghentikan aktivitas saya sebagai Presiden. Saya menyesal atas bubarnya Uni Soviet, tetapi ada yang kita capai, yaitu kebebasan politik, agama, demokrasi, ekonomi, serta berakhirnya totalitarianisme dan Perang Dingin." (Bsi)

Baca Juga: 'Saya Harus Memberi Contoh Demokrasi'

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : kutipan, kutipan pajak, Gorbachev

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 02 April 2020 | 16:59 WIB
DENIS HEALEY

'Beda Penghindaran & Penggelapan Pajak Hanya Setebal Dinding Penjara'

Rabu, 01 April 2020 | 18:48 WIB
REUVEN S. AVI-YONAH

'COVID-19 akan Mendorong Pemajakan atas Ekonomi Digital'

Kamis, 26 Maret 2020 | 11:52 WIB
RICHARD MURPHY

'Saya Seorang Diri Menyuarakan Sistem Pajak yang Adil'

Jum'at, 13 Maret 2020 | 18:35 WIB
HOS TJOKROAMINOTO:

'Agar Kita Tidak Lagi Dipandang sebagai Seperempat Manusia'

berita pilihan

Rabu, 28 September 2022 | 16:30 WIB
PMK 203/2021

Ingin Bawa Soju dari Luar Negeri? DJBC Ingatkan Lagi Ketentuannya

Rabu, 28 September 2022 | 16:00 WIB
RAPBN 2023

Anggaran Polri Hingga Kemenhan Ditambah, Belanja K/L Tembus Rp1.000 T

Rabu, 28 September 2022 | 15:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Karyawan Bergaji di Bawah PTKP dan Tak Ada Usaha Lain Bisa Ajukan NE

Rabu, 28 September 2022 | 14:36 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022

Saatnya Mengenakan Pajak Progresif atas Tanah?

Rabu, 28 September 2022 | 14:30 WIB
KPP PRATAMA SINGKAWANG

Mutakhirkan Data Mandiri Langsung ke Kantor Pajak, Begini Alurnya

Rabu, 28 September 2022 | 13:30 WIB
PMK 141/2022

PMK Baru, DJPK Kemenkeu Bakal Punya Direktorat Khusus Pajak Daerah

Rabu, 28 September 2022 | 13:00 WIB
UU PPN

Jangan Lupa! Dikukuhkan Jadi PKP Sudah Wajib Lapor SPT Masa PPN

Rabu, 28 September 2022 | 12:30 WIB
NATIONAL LOGISTIC ECOSYSTEM

DJBC Gencarkan Promosi NLE, Bakal Mudahkan Proses Logistik

Rabu, 28 September 2022 | 12:06 WIB
BEA METERAI

Surat Pernyataan atau Perjanjian Tanpa Meterai, Apakah Sah?