Trusted Indonesian Tax News Portal
|
 
Berita
Selasa, 11 Desember 2018 | 20:38 WIB
ZAMBIA
Selasa, 11 Desember 2018 | 16:52 WIB
KEPATUHAN PEGAWAI PAJAK
Selasa, 11 Desember 2018 | 16:22 WIB
PENGEMBANGAN UMKM
 
Review
Senin, 10 Desember 2018 | 08:02 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Jum'at, 07 Desember 2018 | 10:35 WIB
PROFESOR MIRANDA STEWART:
Jum'at, 07 Desember 2018 | 08:22 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Fokus
Literasi
Selasa, 27 November 2018 | 10:52 WIB
PROFIL PERPAJAKAN BULGARIA
Rabu, 21 November 2018 | 11:48 WIB
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (14)
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
 
Data & alat
Rabu, 05 Desember 2018 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 5-11 DESEMBER 2018
Rabu, 28 November 2018 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 28 NOVEMBER-4 DESEMBER 2018
Rabu, 21 November 2018 | 09:23 WIB
KURS PAJAK 21-27 NOVEMBER 2018
 
Komunitas
Sabtu, 08 Desember 2018 | 09:23 WIB
SEMINAR DIGITALPRENEUR-STIAMI
Jum'at, 07 Desember 2018 | 17:38 WIB
TRANSFER PRICING
Jum'at, 30 November 2018 | 18:04 WIB
SEMINAR TAXPLORE 2018-FIA UI
 
Reportase

Bila Kesabaran Kita Terus Diuji

8

SUDAH 2 kali tahun sidang atau 10 kali masa sidang parlemen (2016-2018), RUU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) dibiarkan teronggok di DPR. Selama kurun itu pula kita menerima informasi yang simpang-siur tentang apa yang sebenarnya terjadi, gerangan penyebab situasi ini.

Saat kali pertama pemerintah dan DPR menunda pembahasan RUU KUP dan mendahulukan pembahasan RUU Pengampunan Pajak tak lama setelah pemerintah resmi memasukkan RUU KUP ke DPR melalui Surat Presiden Nomor R-28 pada 4 Mei 2016, kita mungkin bisa mengerti.

Ketika ternyata setelah RUU Pengampunan Pajak rampung dan RUU KUP tetap didiamkan, kita mungkin juga masih bisa paham. Maklum, menteri keuangan, satu dari tiga menteri yang ditunjuk Presiden untuk membahas RUU KUP, baru dilantik menggantikan yang lama.

Baca Juga: Apindo: Badan Independen Pajak Rawan Dipolitisasi

Begitu pun ketika muncul informasi mengenai belum dibuatnya naskah akademik RUU KUP—yang dituding menyebabkan terhambatnya pembahasan. Kita masih bersabar, meski kita tahu dokumen itu sudah ada, dan kalaupun tidak ada, berarti pemerintah dan DPR sama-sama melanggar UU.

Sampai ketika awal Desember 2016 muncul KMK No. 885/KMK.03/2016 yang memerintahkan pengkajian ulang terhadap RUU KUP yang sudah masuk ke DPR—yang dengan sendirinya memberi sinyal pembekuan pembahasan di DPR—kita pun ternyata masih berbesar hati untuk memaklumi.

Mungkin karena kebesaran hati itu pula, kita belum berhenti mengingatkan, betapa pentingnya penyelesaian RUU KUP disegerakan, hingga reformasi pajak bisa berlanjut ke pokok materialnya melalui pembahasan RUU Pajak Penghasilan (PPh) dan RUU Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Baca Juga: BKF: Reformasi Pajak Terus Berjalan

Kita tentu bisa maklum ketika pembahasan RUU KUP kali ini mengulang kesalahan RUU KUP 2007, tidak pararel dengan RUU PPh dan PPN seperti paket-paket RUU Pajak yang lalu. Tapi akal sehat kita jelas mengatakan, mana mungkin melakukan reformasi pajak tanpa memperbaiki UU KUP.

Daftar permakluman itu masih belum selesai. Ketika masuk ke tahun 2017 dan kita tahu ternyata kaji ulang tersebut—yang entah ada atau tidak—ternyata tak sampai menarik atau mengganti RUU KUP, atau menghasilkan usulan baru yang dititipkan ke fraksi-fraksi, kita pun masih bersabar.

Kita juga masih sanggup tersenyum dan berpikir positif ketika beberapa pejabat pemerintah dan sebagian anggota DPR sekonyong-konyong mengumbar optimisme untuk bisa menyelesaikan RUU KUP pada awal 2018, hingga kemudian bisa berlanjut membahas UU PPh dan UU PPN.

Baca Juga: Pilpres Brasil Digelar, Reformasi Pajak Jadi Agenda Utama

Memang, dahi kita mungkin sedikit bekernyit ketika pada Desember 2017 pemerintah dan DPR ternyata sama-sama tidak berinisiatif untuk memasukkan RUU PPh ke dalam daftar RUU Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas 2018)—sebagai kelanjutan pembahasan RUU KUP.

Termasuk ketika kita menyadari, bahwa jadwal persidangan yang disusun Komisi XI DPR untuk masa sidang ke-4 tahun sidang 2017-2018 ini juga tidak mencantumkan agenda pembahasan DIM (Daftar Inventaris Masalah) RUU KUP—yang ternyata juga belum disusun fraksi-fraksi.

Tapi rasanya kita masih bisa bersabar menahan diri, dan berbaik sangka bahwa pemerintah dan DPR pasti akan membahas dan menyelesaikan RUU KUP, meski kita tahu selama 2 tahun ini tidak pernah ada penjelasan tuntas oleh pemerintah atau DPR mengenai teronggoknya RUU tersebut. Tapi, sampai kapan kita masih bisa bersabar?*

Baca Juga: Usulan Revisi Perlakuan Pajak CFC Ditolak

Ketika ternyata setelah RUU Pengampunan Pajak rampung dan RUU KUP tetap didiamkan, kita mungkin juga masih bisa paham. Maklum, menteri keuangan, satu dari tiga menteri yang ditunjuk Presiden untuk membahas RUU KUP, baru dilantik menggantikan yang lama.

Baca Juga: Apindo: Badan Independen Pajak Rawan Dipolitisasi

Begitu pun ketika muncul informasi mengenai belum dibuatnya naskah akademik RUU KUP—yang dituding menyebabkan terhambatnya pembahasan. Kita masih bersabar, meski kita tahu dokumen itu sudah ada, dan kalaupun tidak ada, berarti pemerintah dan DPR sama-sama melanggar UU.

Sampai ketika awal Desember 2016 muncul KMK No. 885/KMK.03/2016 yang memerintahkan pengkajian ulang terhadap RUU KUP yang sudah masuk ke DPR—yang dengan sendirinya memberi sinyal pembekuan pembahasan di DPR—kita pun ternyata masih berbesar hati untuk memaklumi.

Mungkin karena kebesaran hati itu pula, kita belum berhenti mengingatkan, betapa pentingnya penyelesaian RUU KUP disegerakan, hingga reformasi pajak bisa berlanjut ke pokok materialnya melalui pembahasan RUU Pajak Penghasilan (PPh) dan RUU Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Baca Juga: BKF: Reformasi Pajak Terus Berjalan

Kita tentu bisa maklum ketika pembahasan RUU KUP kali ini mengulang kesalahan RUU KUP 2007, tidak pararel dengan RUU PPh dan PPN seperti paket-paket RUU Pajak yang lalu. Tapi akal sehat kita jelas mengatakan, mana mungkin melakukan reformasi pajak tanpa memperbaiki UU KUP.

Daftar permakluman itu masih belum selesai. Ketika masuk ke tahun 2017 dan kita tahu ternyata kaji ulang tersebut—yang entah ada atau tidak—ternyata tak sampai menarik atau mengganti RUU KUP, atau menghasilkan usulan baru yang dititipkan ke fraksi-fraksi, kita pun masih bersabar.

Kita juga masih sanggup tersenyum dan berpikir positif ketika beberapa pejabat pemerintah dan sebagian anggota DPR sekonyong-konyong mengumbar optimisme untuk bisa menyelesaikan RUU KUP pada awal 2018, hingga kemudian bisa berlanjut membahas UU PPh dan UU PPN.

Baca Juga: Pilpres Brasil Digelar, Reformasi Pajak Jadi Agenda Utama

Memang, dahi kita mungkin sedikit bekernyit ketika pada Desember 2017 pemerintah dan DPR ternyata sama-sama tidak berinisiatif untuk memasukkan RUU PPh ke dalam daftar RUU Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas 2018)—sebagai kelanjutan pembahasan RUU KUP.

Termasuk ketika kita menyadari, bahwa jadwal persidangan yang disusun Komisi XI DPR untuk masa sidang ke-4 tahun sidang 2017-2018 ini juga tidak mencantumkan agenda pembahasan DIM (Daftar Inventaris Masalah) RUU KUP—yang ternyata juga belum disusun fraksi-fraksi.

Tapi rasanya kita masih bisa bersabar menahan diri, dan berbaik sangka bahwa pemerintah dan DPR pasti akan membahas dan menyelesaikan RUU KUP, meski kita tahu selama 2 tahun ini tidak pernah ada penjelasan tuntas oleh pemerintah atau DPR mengenai teronggoknya RUU tersebut. Tapi, sampai kapan kita masih bisa bersabar?*

Baca Juga: Usulan Revisi Perlakuan Pajak CFC Ditolak
Topik : RUU KUP, revisi RUU KUP, reformasi pajak
artikel terkait
Jum'at, 02 November 2018 | 14:35 WIB
TAJUK
Rabu, 04 Juli 2018 | 15:56 WIB
TAJUK
Kamis, 17 Mei 2018 | 14:27 WIB
SURAT DARI KELAPA GADING:
Jum'at, 09 Maret 2018 | 21:22 WIB
PAJAK & KORUPSI
berita pilihan
Selasa, 12 Desember 2017 | 12:08 WIB
INFORMASI PERPAJAKAN
Kamis, 17 Mei 2018 | 14:27 WIB
SURAT DARI KELAPA GADING:
Senin, 06 Februari 2017 | 16:20 WIB
TAJUK PAJAK
Senin, 10 Oktober 2016 | 20:01 WIB
TAJUK PAJAK
Senin, 20 November 2017 | 21:05 WIB
SURAT DARI KELAPA GADING
Senin, 17 Oktober 2016 | 18:27 WIB
TAJUK PAJAK
Kamis, 10 Agustus 2017 | 18:45 WIB
EDUKASI PAJAK
Senin, 23 Januari 2017 | 16:01 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 04 Juli 2018 | 15:56 WIB
TAJUK
Jum'at, 02 November 2018 | 14:35 WIB
TAJUK
8