Berita
Kamis, 24 September 2020 | 18:31 WIB
RUU CIPTA KERJA
Kamis, 24 September 2020 | 17:21 WIB
PERPAJAKAN INDONESIA
Kamis, 24 September 2020 | 17:11 WIB
INPRES 8/2020
Kamis, 24 September 2020 | 17:06 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Review
Kamis, 24 September 2020 | 09:50 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 23 September 2020 | 14:02 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 22 September 2020 | 20:22 WIB
REPORTASE DARI TILBURG BELANDA
Selasa, 22 September 2020 | 09:39 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Kamis, 24 September 2020 | 16:12 WIB
PENELITIAN PERPAJAKAN
Kamis, 24 September 2020 | 14:22 WIB
PAJAK DAERAH (17)
Rabu, 23 September 2020 | 18:42 WIB
KAMUS PAJAK
Rabu, 23 September 2020 | 17:04 WIB
TIPS FAKTUR PAJAK
Data & alat
Rabu, 23 September 2020 | 18:13 WIB
STATISTIK MANAJEMEN PAJAK
Rabu, 23 September 2020 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 23 SEPTEMBER-29 SEPTEMBER 2020
Jum'at, 18 September 2020 | 15:48 WIB
STATISTIK MANAJEMEN PAJAK
Rabu, 16 September 2020 | 15:58 WIB
STATISTIK STIMULUS FISKAL
Kolaborasi
Selasa, 22 September 2020 | 13:50 WIB
KONSULTASI
Selasa, 22 September 2020 | 11:00 WIB
KONSULTASI
Selasa, 15 September 2020 | 13:45 WIB
KONSULTASI
Selasa, 15 September 2020 | 10:28 WIB
KONSULTASI
Reportase

Bagaimana Respons Kebijakan Fiskal pada Masa Krisis Global 2008?

A+
A-
1
A+
A-
1
Bagaimana Respons Kebijakan Fiskal pada Masa Krisis Global 2008?

KRISIS keuangan global pada 2008 tidak hanya menghantam negara-negara berkembang (developing and emerging economies), tetapi juga berimbas pada negara-negara maju (developed economies).

Negara-negara terdampak yang tergolong advanced economies antara lain Amerika Serikat, Selandia Baru, Jerman, Korea Selatan, Australia, Jepang, Kanada, Prancis, Portugal, Spanyol, Belanda, Norwegia, Belgia, Swiss, dan Italia.

Sementara negara-negara terdampak yang tergolong developing and emerging economies antara lain China, Saudi Arabia, Malaysia, Meksiko, Argentina, Hungaria, Thailand, Filipina, Thailand, Cile, Afrika Selatan, Indonesia, Rusia, Vietnam, India, dan Brasil.

Baca Juga: Ini Jasa Konsultan Pajak yang Dibutuhkan Banyak Perusahaan di Amerika

Tabel berikut menunjukkan hasil estimasi yang dilakukan oleh International Institute of Labour Studies (IILS) terkait dengan alokasi anggaran dari paket stimulus fiskal untuk menanggulangi krisis keuangan global pada 2008.

Adapun angka yang terdapat di dalam tabel merupakan rata-rata proporsi alokasi anggaran di 10 negara maju dan 12 negara berkembang. Alokasi anggaran yang diestimasi terkait dengan penurunan beban pajak, proyek infrastruktur, ketenagakerjaan, bantuan langsung terhadap masyarakat kurang mampu, dan alokasi anggaran untuk hal-hal lainnya.


Baca Juga: Siap-Siap! Stimulus Pembiayaan Korporasi Cair Bulan Depan

Hasil estimasi IILS tersebut setidaknya memperlihatkan arah paket stimulus kebijakan fiskal pada masa krisis global 2008 pada masing-masing kategori negara terdampak.

Dilihat dari sisi kategori, negara-negara yang tergolong ke dalam advanced economies lebih mengutamakan alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk menurunkan beban pajak dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Adapun penurunan beban pajak yang dimaksud dapat berupa pengurangan tarif pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penghasilan (PPh) badan, PPh atas gaji karyawan, serta pajak penjualan.

Baca Juga: Produsen Alkes Akui Masih Butuh Insentif Perpajakan Tahun Depan

Di sisi lain, negara-negara yang tergolong ke dalam developing dan emerging economies cenderung mengalokasikan paket stimulus untuk proyek-proyek infrastruktur yang secara tidak langsung berdampak pada ketersediaan lapangan kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Adanya perbedaan struktur ekonomi dan sosial maupun faktor-faktor terkait lainnya tentu memengaruhi arah stimulus fiskal antara negara-negara advanced economies dengan negara-negara emerging and developing economies.

Menariknya, walaupun secara umum negara-negara advanced economies memiliki ruang atau kapasitas fiskal yang lebih besar – tercermin di dalam tax ratio –, rata-rata proporsi paket stimulus fiskal terhadap PDB di negara-negara developing and emerging economies relatif lebih tinggi, yakni mencapai 3,9% dibandingkan dengan negara-negara advanced economies yang hanya sebesar 1,8%.

Baca Juga: Tantangan Profesional Pajak di Perusahaan pada Masa Pandemi

Hal ini menunjukkan besaran stimulus paket kebijakan fiskal saat masa krisis juga dipengaruhi oleh kebutuhan yang didasarkan pada besaran dampak suatu krisis di suatu negara, terlepas dari ruang dan kapasitas fiskal yang dimiliki.*

Topik : narasi data, stimulus fiskal, kebijakan fiskal, krisis
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 10:48 WIB
SIDANG BERSAMA DPR DAN DPD RI
Rabu, 12 Agustus 2020 | 17:15 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:30 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
berita pilihan
Kamis, 24 September 2020 | 18:31 WIB
RUU CIPTA KERJA
Kamis, 24 September 2020 | 17:21 WIB
PERPAJAKAN INDONESIA
Kamis, 24 September 2020 | 17:11 WIB
INPRES 8/2020
Kamis, 24 September 2020 | 17:06 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Kamis, 24 September 2020 | 16:49 WIB
PERPRES 94/2020
Kamis, 24 September 2020 | 16:15 WIB
EKOSISTEM LOGISTIK NASIONAL
Kamis, 24 September 2020 | 16:12 WIB
PENELITIAN PERPAJAKAN
Kamis, 24 September 2020 | 15:56 WIB
KERJA SAMA PERPAJAKAN
Kamis, 24 September 2020 | 15:54 WIB
SWISS
Kamis, 24 September 2020 | 15:25 WIB
ADMINISTRASI PAJAK