Berita
Minggu, 24 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:30 WIB
UU HPP
Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:00 WIB
SELANDIA BARU
Minggu, 24 Oktober 2021 | 09:30 WIB
LAPORAN TAHUNAN DJP
Review
Kamis, 21 Oktober 2021 | 07:00 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA
Selasa, 19 Oktober 2021 | 09:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 18 Oktober 2021 | 11:42 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Kepala KPP Madya Dua Jakarta Selatan II Kurniawan:
Fokus
Data & Alat
Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 20 OKTOBER - 26 OKTOBER 2021
Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 13 OKTOBER - 19 OKTOBER 2021
Rabu, 06 Oktober 2021 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 6-12 OKTOBER 2021
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Reportase
Perpajakan.id

Terlambat Lapor Realisasi PPh Pasal 21 DTP, Ini Konsekuensinya

A+
A-
6
A+
A-
6
Terlambat Lapor Realisasi PPh Pasal 21 DTP, Ini Konsekuensinya

Pertanyaan:
SALAM kenal. Saya Sandra, bekerja sebagai staf pajak salah satu perusahaan berdomisili di Pekanbaru. Perusahaan tempat saya bekerja baru saja memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 DTP sejak masa pajak Januari 2021. Namun, karena satu dan lain hal, laporan realisasi pemanfaatan insentif tersebut terlambat kami sampaikan.

Saya ingin menanyakan, apa konsekuensi dari terlambatnya melaporkan realisasi insentif yang telah dimanfaatkan? Apakah saya masih dapat memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 masa pajak Januari? Jika tidak bisa, bagaimana dengan masa pajak selanjutnya? Lebih lanjut, apa yang perlu saya lakukan selanjutnya? Terima kasih.

Jawaban:
TERIMA kasih Ibu Sandra atas pertanyaan yang disampaikan. Sebagaimana kita tahu, laporan realisasi pemanfaatan insentif PPh Pasal 21 DTP harus disampaikan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.

Hal ini sebagaimana diatur pada Pasal 4 ayat (5) PMK 9/2021:

“Pemberi Kerja harus menyampaikan laporan realisasi PPh Pasal 21 ditanggung Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.”

Jika tanggal tersebut sudah lewat sementara laporan belum disampaikan, konsekuensinya dapat kita lihat pada Pasal 4 ayat (6) PMK 9/2021 selanjutnya:

“Pemberi Kerja yang tidak menyampaikan laporan realisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak dapat memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 ditanggung Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) untuk Masa Pajak yang bersangkutan.”

Dapat kita pahami keterlambatan tersebut memiliki konsekuensi insentif PPh Pasal 21 DTP pada masa pajak Januari 2021 tidak dapat dimanfaatkan untuk masa pajak tersebut. Walau demikian, pemberi kerja atau perusahaan tersebut masih memiliki kesempatan memanfaatkan untuk masa pajak selanjutnya.

Kemudian, apa yang perlu dilakukan selanjutnya? Terkait dengan PPh Pasal 21 yang menjadi terutang pada masa pajak Januari 2021, perusahaan bersangkutan perlu menyetorkan PPh terutang tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Langkah ini sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (9) PMK 9/2021:

“Pemberi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (6) wajib menyetorkan PPh Pasal 21 terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) untuk Masa Pajak yang bersangkutan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.”

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat membantu. Selanjutnya, semoga perusahaan tempat Ibu Sandra bekerja tidak terlambat melaporkan realisasi tersebut.

Sebagai informasi, Kanal Kolaborasi antara Kadin Indonesia dan DDTC Fiscal Research menayangkan artikel konsultasi setiap Selasa guna menjawab pertanyaan terkait Covid-19 yang diajukan ke email [email protected]. Bagi Anda yang ingin mengajukan pertanyaan, silakan langsung mengirimkannya ke alamat email tersebut. (kaw)

(Disclaimer)
Topik : Kolaborasi, Kadin, DDTC Fiscal Research, insentif pajak, DJP, PMK 9/2021, PPh Pasal 21 DTP

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 12:00 WIB
LAPORAN TAHUNAN DJP 2020

DJP Kejar Pengembangan Sistem Elektronik Hingga 2024, Ini Strateginya

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 11:15 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 10:34 WIB
LAPORAN TAHUNAN DJP

Panggilan Keluar Kring Pajak DJP Naik Tahun Lalu, Anda Juga Dihubungi?

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 08:29 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

DJP Bisa Hubungi Wajib Pajak dengan Kriteria Ini Lewat Telepon

berita pilihan

Minggu, 24 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Perluasan Ultimum Remedium Hingga Tahap Persidangan

Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:30 WIB
UU HPP

Menkeu Bisa Tunjuk Pihak Lain Jadi Pemotong/Pemungut Pajak

Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:00 WIB
SELANDIA BARU

Otoritas Pajak Segera Kirim Surat kepada 400 Orang Terkaya

Minggu, 24 Oktober 2021 | 09:30 WIB
LAPORAN TAHUNAN DJP

Ini Alasan DJP Lakukan Forensik Digital Data Elektronik

Minggu, 24 Oktober 2021 | 09:15 WIB
PAJAK DALAM BERITA

Insentif UMKM di UU HPP & Program Pengungkapan Sukarela, Cek Videonya!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KETUA UMUM METI SURYA DARMA:

‘Pajak Karbon Diperlukan untuk Mendukung Level of Playing Field’

Minggu, 24 Oktober 2021 | 08:30 WIB
UU HPP

Ungkap Harta 1985-2015 dalam PPS Hanya untuk Peserta Tax Amnesty

Minggu, 24 Oktober 2021 | 08:00 WIB
PENGAWASAN PAJAK

Penerbitan SP2DK untuk Wajib Pajak, DJP: Belum Sepenuhnya Digital

Minggu, 24 Oktober 2021 | 07:00 WIB
FILIPINA

Cegah Kejahatan Pajak, Bank Diimbau Cermati Transaksi Mencurigakan

Minggu, 24 Oktober 2021 | 06:00 WIB
LAPORAN TAHUNAN DJP

Publikasi Penegakan Hukum Pajak Terus Digencarkan, Ini Penjelasan DJP