Fokus
Literasi
Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 17:11 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 03 Oktober 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 05 Oktober 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 5 OKTOBER - 11 OKTOBER 2022
Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:15 WIB
KMK 50/2022
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Reportase

Terlambat Lapor Realisasi PPh Pasal 21 DTP, Ini Konsekuensinya

A+
A-
6
A+
A-
6
Terlambat Lapor Realisasi PPh Pasal 21 DTP, Ini Konsekuensinya

Pertanyaan:
SALAM kenal. Saya Sandra, bekerja sebagai staf pajak salah satu perusahaan berdomisili di Pekanbaru. Perusahaan tempat saya bekerja baru saja memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 DTP sejak masa pajak Januari 2021. Namun, karena satu dan lain hal, laporan realisasi pemanfaatan insentif tersebut terlambat kami sampaikan.

Saya ingin menanyakan, apa konsekuensi dari terlambatnya melaporkan realisasi insentif yang telah dimanfaatkan? Apakah saya masih dapat memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 masa pajak Januari? Jika tidak bisa, bagaimana dengan masa pajak selanjutnya? Lebih lanjut, apa yang perlu saya lakukan selanjutnya? Terima kasih.

Jawaban:
TERIMA kasih Ibu Sandra atas pertanyaan yang disampaikan. Sebagaimana kita tahu, laporan realisasi pemanfaatan insentif PPh Pasal 21 DTP harus disampaikan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.

Hal ini sebagaimana diatur pada Pasal 4 ayat (5) PMK 9/2021:

“Pemberi Kerja harus menyampaikan laporan realisasi PPh Pasal 21 ditanggung Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.”

Jika tanggal tersebut sudah lewat sementara laporan belum disampaikan, konsekuensinya dapat kita lihat pada Pasal 4 ayat (6) PMK 9/2021 selanjutnya:

“Pemberi Kerja yang tidak menyampaikan laporan realisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak dapat memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 ditanggung Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) untuk Masa Pajak yang bersangkutan.”

Dapat kita pahami keterlambatan tersebut memiliki konsekuensi insentif PPh Pasal 21 DTP pada masa pajak Januari 2021 tidak dapat dimanfaatkan untuk masa pajak tersebut. Walau demikian, pemberi kerja atau perusahaan tersebut masih memiliki kesempatan memanfaatkan untuk masa pajak selanjutnya.

Kemudian, apa yang perlu dilakukan selanjutnya? Terkait dengan PPh Pasal 21 yang menjadi terutang pada masa pajak Januari 2021, perusahaan bersangkutan perlu menyetorkan PPh terutang tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Langkah ini sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (9) PMK 9/2021:

“Pemberi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (6) wajib menyetorkan PPh Pasal 21 terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) untuk Masa Pajak yang bersangkutan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.”

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat membantu. Selanjutnya, semoga perusahaan tempat Ibu Sandra bekerja tidak terlambat melaporkan realisasi tersebut.

Sebagai informasi, Kanal Kolaborasi antara Kadin Indonesia dan DDTC Fiscal Research menayangkan artikel konsultasi setiap Selasa guna menjawab pertanyaan terkait Covid-19 yang diajukan ke email [email protected]. Bagi Anda yang ingin mengajukan pertanyaan, silakan langsung mengirimkannya ke alamat email tersebut. (kaw)

(Disclaimer)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : Kolaborasi, Kadin, DDTC Fiscal Research, insentif pajak, DJP, PMK 9/2021, PPh Pasal 21 DTP

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 04 Oktober 2022 | 17:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Ditjen Pajak Sebut Ada 2.422 Peserta PPS yang Harus Repatriasi Harta

Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:11 WIB
UNIVERSITAS TRISAKTI

Kanwil DJP Jakarta Barat dan Usakti Perpanjang Kerja Sama Tax Center

Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Ada Tren Kenaikan Harga Komoditas, DJP Bakal Lakukan Dinamisasi

Selasa, 04 Oktober 2022 | 15:30 WIB
IHPS I/2022

BPK Sebut Insentif Pajak Rp15,3 Triliun Belum Dikelola secara Memadai

berita pilihan

Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tingkatkan Kapasitas Pegawai Pajak, DJP Gandeng OECD

Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:27 WIB
LAYANAN PAJAK

DJP Sebut Ada Kepastian Waktu Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak

Kamis, 06 Oktober 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

DJP Sebut Realisasi Restitusi PPN Dipercepat Tembus Rp8 Triliun

Kamis, 06 Oktober 2022 | 17:33 WIB
LAYANAN PAJAK

Pengajuan Pemindahbukuan Bakal Bisa Online, DJP Siapkan Layanan e-Pbk

Kamis, 06 Oktober 2022 | 17:30 WIB
PMK 197/2013

Omzet Melebihi Rp4,8 M Tak Ajukan Pengukuhan PKP, Ini Konsekuensinya

Kamis, 06 Oktober 2022 | 17:00 WIB
KPP PRATAMA PAREPARE

Tunggak Pajak, Saldo Rp348 Juta Milik WP Dipindahbukukan ke Kas Negara

Kamis, 06 Oktober 2022 | 16:41 WIB
KP2KP SIAK SRI INDRAPURA

Beri Efek Kejut, Kantor Pajak Gelar Penyisiran Lapangan Selama 2 Pekan

Kamis, 06 Oktober 2022 | 16:30 WIB
KP2KP PELABUHAN RATU

Usaha WP Tidak Aktif, DJP: Tetap Lapor SPT Masa PPN Selama Masih PKP

Kamis, 06 Oktober 2022 | 16:03 WIB
PRESIDENSI G-20 INDONESIA

Jokowi Titip Pesan untuk Pimpinan Parlemen Anggota G-20, Ini Isinya