Fokus
Data & alat
Rabu, 08 April 2020 | 09:12 WIB
KURS PAJAK 8 APRIL-14 APRIL 2020
Selasa, 07 April 2020 | 13:30 WIB
STATISTIK DAYA SAING PAJAK
Jum'at, 03 April 2020 | 17:01 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Kamis, 02 April 2020 | 14:31 WIB
PROFESI
Komunitas
Selasa, 07 April 2020 | 17:08 WIB
UNIVERSITAS DIPONEGORO
Selasa, 07 April 2020 | 16:45 WIB
STISIPOL PAHLAWAN 12 BANGKA
Kamis, 02 April 2020 | 15:11 WIB
LEE JI-EUN:
Selasa, 31 Maret 2020 | 09:52 WIB
PROGRAM BEASISWA
Reportase

Pemerintah Harus Hati-hati Promosikan Pariwisata

A+
A-
3
A+
A-
3
Pemerintah Harus Hati-hati Promosikan Pariwisata

Salah satu pantai di Bali (Ilustrasi).

JAKARTA, DDTCNews - Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai kebijakan pemerintah meluncurkan paket stimulus memulihkan pariwisata yang sepi akibat virus Corona sebagai langkah yang tepat.

Faisal memperkirakan insentif pemerintah berupa diskon tiket pesawat hingga hotel akan efektif mendatangkan banyak turis lokal ke destinasi pariwisata unggulan. Namun pada turis asing, tawaran insentif tiket tetap kurang menarik karena mereka lebih mengkhawatirkan bahaya virus Corona.

Baca Juga: Alur Klaim Biaya Rawat Pasien Corona Dirancang, Begini Perinciannya

Ia justru mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mempromosikan pariwisata Indonesia kepada para turis asing.

"Janganlah kampanye ini [Indonesia] surga tanpa Coronavirus. Secara etika juga nggak elok. Kalau pada akhirnya orang luar memandang risiko di Indonesia kecil, ya bagus. Tapi jangan gunakan itu sebagai alat kampanye," katanya di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Faisal menilai bidang usaha yang paling tertekan karena virus Corona adalah hotel, restoran, penerbangan, dan semua jasa yang terkait dengan perjalanan. Hilangnya turis asal China ke Indonesia berpotensi merugikan para pelaku usaha. Misalnya di Manado, jumlah turis China mencapai 90%, sedangkan di Bali sekitar 25%.

Baca Juga: Peran Kebijakan Pajak dalam Menghadapi Krisis Keuangan

Menurutnya kebijakan paling ideal mengisi kekosongan destinasi pariwisata tersebut adalah dengan mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan domestik ke sana. Selain itu, pemerintah juga bisa memindahkan acara-acara yang semula diadakan di Jakarta ke lokasi wisata terdampak virus Corona.

Namun ia mempertanyakan strategi pemerintah mempromosikan wisata Indonesia ke luar negeri. Apalagi, ada anggaran insentif untuk influencer asing hingga Rp72 miliar dan tambahan dana promosi Rp103 miliar.

Faisal mengingatkan biar bagaimanapun promosi pariwisata Indonesia tidak boleh menyinggung negara lain yang terkena virus Corona, apalagi memanfaatkannya sebagai pembanding.

Baca Juga: Alokasikan Bansos untuk Hadapi Corona, Pulau Jawa Jadi Prioritas

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan paket stimulus untuk menangkal dampak virus Corona pada perekonomian senilai total Rp10,3 triliun. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp298,5 miliar untuk insentif maskapai dan biro perjalanan yang melayani wisatawan asing.

Kemudian Rp443,39 miliar untuk diskon tiket 30% pada wisatawan domestik. Ada pula tambahan dana alokasi khusus (DAK) hingga Rp96,8 miliar sebagai hibah untuk pemerintah daerah yang mampu memulihkan pariwisatanya.

Selain itu, pemerintah juga siap mentransfer hibah senilai Rp3,3 triliun kepada pemerintah daerah untuk mengganti penghapusan pajak hotel dan restoran selama enam bulan.

Baca Juga: Per 8 April 2020, Pelaporan SPT Tahunan Masih Turun 20%

Semua insentif itu diberikan pada sepuluh daerah destinasi wisata yang paling terdampak virus Corona, meliputi semua kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, Yogyakarta, Malang, Manado, Bali, Mandalika, Labuan Bajo, Bangka Belitung, Batam, dan Bintan. (Bsi)

Faisal memperkirakan insentif pemerintah berupa diskon tiket pesawat hingga hotel akan efektif mendatangkan banyak turis lokal ke destinasi pariwisata unggulan. Namun pada turis asing, tawaran insentif tiket tetap kurang menarik karena mereka lebih mengkhawatirkan bahaya virus Corona.

Baca Juga: Alur Klaim Biaya Rawat Pasien Corona Dirancang, Begini Perinciannya

Ia justru mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mempromosikan pariwisata Indonesia kepada para turis asing.

"Janganlah kampanye ini [Indonesia] surga tanpa Coronavirus. Secara etika juga nggak elok. Kalau pada akhirnya orang luar memandang risiko di Indonesia kecil, ya bagus. Tapi jangan gunakan itu sebagai alat kampanye," katanya di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Faisal menilai bidang usaha yang paling tertekan karena virus Corona adalah hotel, restoran, penerbangan, dan semua jasa yang terkait dengan perjalanan. Hilangnya turis asal China ke Indonesia berpotensi merugikan para pelaku usaha. Misalnya di Manado, jumlah turis China mencapai 90%, sedangkan di Bali sekitar 25%.

Baca Juga: Peran Kebijakan Pajak dalam Menghadapi Krisis Keuangan

Menurutnya kebijakan paling ideal mengisi kekosongan destinasi pariwisata tersebut adalah dengan mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan domestik ke sana. Selain itu, pemerintah juga bisa memindahkan acara-acara yang semula diadakan di Jakarta ke lokasi wisata terdampak virus Corona.

Namun ia mempertanyakan strategi pemerintah mempromosikan wisata Indonesia ke luar negeri. Apalagi, ada anggaran insentif untuk influencer asing hingga Rp72 miliar dan tambahan dana promosi Rp103 miliar.

Faisal mengingatkan biar bagaimanapun promosi pariwisata Indonesia tidak boleh menyinggung negara lain yang terkena virus Corona, apalagi memanfaatkannya sebagai pembanding.

Baca Juga: Alokasikan Bansos untuk Hadapi Corona, Pulau Jawa Jadi Prioritas

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan paket stimulus untuk menangkal dampak virus Corona pada perekonomian senilai total Rp10,3 triliun. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp298,5 miliar untuk insentif maskapai dan biro perjalanan yang melayani wisatawan asing.

Kemudian Rp443,39 miliar untuk diskon tiket 30% pada wisatawan domestik. Ada pula tambahan dana alokasi khusus (DAK) hingga Rp96,8 miliar sebagai hibah untuk pemerintah daerah yang mampu memulihkan pariwisatanya.

Selain itu, pemerintah juga siap mentransfer hibah senilai Rp3,3 triliun kepada pemerintah daerah untuk mengganti penghapusan pajak hotel dan restoran selama enam bulan.

Baca Juga: Per 8 April 2020, Pelaporan SPT Tahunan Masih Turun 20%

Semua insentif itu diberikan pada sepuluh daerah destinasi wisata yang paling terdampak virus Corona, meliputi semua kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, Yogyakarta, Malang, Manado, Bali, Mandalika, Labuan Bajo, Bangka Belitung, Batam, dan Bintan. (Bsi)

Topik : promosi pariwisata, virus corona, anggaran influencer, diskon pesawat
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
0/1000
artikel terkait
Selasa, 07 April 2020 | 09:12 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 06 April 2020 | 17:17 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 06 April 2020 | 15:04 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Senin, 06 April 2020 | 14:38 WIB
FILIPINA
berita pilihan
Rabu, 08 April 2020 | 17:20 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 08 April 2020 | 16:42 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Rabu, 08 April 2020 | 16:22 WIB
TIPS E-BUPOT
Rabu, 08 April 2020 | 16:16 WIB
TRANSFORMASI PROSES BISNIS
Rabu, 08 April 2020 | 15:45 WIB
KABUPATEN JENEPONTO
Rabu, 08 April 2020 | 15:13 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 08 April 2020 | 15:12 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Rabu, 08 April 2020 | 15:05 WIB
MALAYSIA
Rabu, 08 April 2020 | 14:24 WIB
ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 08 April 2020 | 14:19 WIB
PELAPORAN SPT