Review
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:00 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 12 Agustus 2020 | 14:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 11 Agustus 2020 | 09:20 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 09 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KEPALA KKP PRATAMA JAKARTA MAMPANG PRAPATAN IWAN SETYASMOKO:
Fokus
Literasi
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 18:09 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 17:26 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:17 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:19 WIB
AKTIVITAS PEREKONOMIAN
Data & alat
Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 12 AGUSTUS-18 AGUSTUS 2020
Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:30 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 05 Agustus 2020 | 08:57 WIB
KURS PAJAK 5 AGUSTUS-11 AGUSTUS 2020
Reportase

Pajak Warisan Ancam Keberlangsungan Bisnis Konglomerat

A+
A-
2
A+
A-
2
Pajak Warisan Ancam Keberlangsungan Bisnis Konglomerat

Ilustrasi. (foto: businessdestinations.com)

SEOUL, DDTCNews – Tarif pajak warisan di Korea Selatan yang tinggi membuat banyak dinasti bisnis terkemuka di negeri Ginseng itu terbebani. Bahkan, tingginya beban pajak membuat banyak di antara pewaris perusahan yang memilih menjual harta warisannya.

Pasalnya, tarif pajak warisan di Korea Selatan ditetapkan sebesar 50%. Tarif ini bisa menjadi 65% jika penerima warisan merupakan pemegang saham terbesar. Hal ini membuat 25 pewaris perusahaan terbesar di negara itu menghadapi tagihan pajak yang apabila digabungkan mencapai US$21 miliar (setara Rp287 miliar).

“Dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu ketika orang tua saya mendirikan perusahaan, nilai saham kami telah naik begitu tinggi hingga saya tidak mampu membayar pajak warisan. Sebenarnya, saya mungkin harus menjual perusahaan untuk membayar pajak,” kata salah satu chief executive suatu perusahaan, Selasa (14/1/2020).

Baca Juga: Insentif Pajak Bagi Manufaktur yang 'Pulang Kampung' Disiapkan

Lebih lanjut, banyak perusahaan besar yang dituduh melakukan upaya ilegal untuk menjaga kendali manajerialnya. Selain itu, para ahli khawatir para Chaebol (konglomerat Korea Selatan) memanfaatkan kesepakatan intragroup yang kompleks antara perusahaan induk dengan afiliasinya untuk menghindari pajak.

Oleh karena itu, para kritikus Chaebol secara intens melacak perusahaan Samsung – perusahaan terbesar di negara itu – guna mencari bukti upaya penghindaran pajak. Namun, seorang juru bicara yang mewakili keluarga pimpinan Samsung Lee Kun-Hee mengatakan keluarga Kun-Hee telah membayar pajak warisan.

Ketiga anak Kun Hee, termasuk Lee Jae-yong yang berusia 51 tahun, menghadapi pajak warisan senilai 9.8 triliun won (setara Rp116,5 triliun). Adapun Kun-hee merupakan orang terkaya di negara itu dengan kepemilikan saham senilai 16.3 triliun won (setara Rp193,8 triliun) di 61 unit perusahaan.

Baca Juga: Otoritas Pajak Buru 1.000 Lebih Warga Asing Pembeli Properti

"Keluarga pendiri menyatakan semua pajak yang berkaitan dengan warisan akan dibayarkan secara transparan sebagaimana diharuskan oleh hukum,” ujar juru bicara yang mewakili keluarga Kun-Hee.

Selain itu, Koo Kwang-mo, pewaris produsen elektronik LG Group beserta saudaranya telah membayar pajak warisan senilai 921.5 miliar won (setara Rp10,9 triliun) selama lima tahun. Namun, tidak semua Chaebol merasa keberatan dengan pajak warisan, salah satunya pewaris perusahaan biotek ini.

“Saya tidak menentang pajak warisan yang tinggi. Kita semua telah mendapat manfaat dari infrastruktur sosial, tidak peduli seberapa kompeten kita. Untuk itu, kita harus menyumbangkan sebagian dari kekayaan kita kembali ke masyarakat,” ucap pewaris perusahaan biotek tersebut.

Baca Juga: Pajak Penghasilan Cryptocurrency Tinggal Tunggu Persetujuan DPR

Di sisi lain, sentimen publik atas kekayaan para Chaebol cukup tinggi. Para kritikus Chaebol ini mengatakan para konglomerat itu dapat membayar pajak dengan menjual saham, meningkatkan dividen, atau menggadaikan kepemilikan saham mereka.

"Berapapun jumlah pajaknya, mereka memiliki lebih dari cukup untuk dibelanjakan selama sisa hidup mereka. Sementara, saya tidak bisa menghasilkan triliunan won seumur hidup saya, tidak peduli berapa banyak susu yang saya jual," ujar JS Ahn, seorang pengantar susu di Gwangju, wilayah pinggiran Seoul, seperti dilansir ft.com. (kaw)

Baca Juga: Harga Tak Kunjung Turun, Tarif Pajak Properti Dinaikkan
Topik : Korea Selatan, konglomerat, pajak warisan
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 16 Agustus 2019 | 16:30 WIB
KOREA SELATAN
Senin, 05 Agustus 2019 | 10:51 WIB
LAPORAN DDTC DARI SEOUL
Jum'at, 02 Agustus 2019 | 15:51 WIB
KOREA SELATAN
Jum'at, 26 Juli 2019 | 15:20 WIB
KOREA SELATAN
berita pilihan
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 19:57 WIB
RAPBN 2021
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 19:25 WIB
RAPBN 2021
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 19:19 WIB
TAX LEADER GUIDE
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 18:09 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 17:26 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 17:15 WIB
WEBINAR SERIES DDTC
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:46 WIB
RAPBN 2021
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:27 WIB
RAPBN 2021 DAN NOTA KEUANGAN
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:22 WIB
RAPBN 2021