Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Konsep Value Chain Analysis dalam Ranah Transfer Pricing

4
4

Profesional DDTC bersama dengan para pengajar.

TULISAN ini merupakan sebagian ilmu dan wawasan yang diperoleh penulis selama mengikuti kursus Transfer Pricing Masterclass yang diselenggarakan oleh International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD) di Singapura pada tanggal 2 Juli hingga 4 Juli 2018. Keikutsertaan penulis (Veronica Kusumawardani dan Radityo Yughie Nugroho) pada kursus ini merupakan bagian dari Human Resources Development Program (HRDP) DDTC, sebagai komitmen DDTC dalam mengembangkan ilmu perpajakan untuk para profesionalnya.

Integrasi bisnis yang dilakukan oleh grup multinasional semakin marak akibat dari adanya kemajuan teknologi informasi (TI) yang mempermudah suatu entitas melakukan transaksi dengan entitas lainnya. Integrasi bisnis tersebut menciptakan model bisnis baru yang akan berdampak terhadap efisiensi biaya, peningkatan laba secara grup, serta mengganti kondisi pasar eksternal yang tidak pasti menjadi kondisi pasar internal yang lebih pasti. Adapun sentralisasi aktivitas bisnis yang muncul seperti sentralisasi jasa (procurement center, jasa logistik, jasa manajemen, jasa maklon, dan lainnya), sentralisasi research and development, serta sentralisasi kegiatan distribusi.

Transaksi afiliasi yang terjadi karena adanya sentralisasi bisnis tersebut, mengharuskan grup multinasional untuk menganalisis kebijakan transfer pricing baik secara ex-ante maupun ex-post. Dimaksud dengan ex-anteadalah penerapan prinsip kewajaran pada saat dilakukannya transaksi afiliasi, sedangkan ex-post diartikan sebagai penerapan prinsip kewajaran setelah dilakukannya transaksi afiliasi.

Baca Juga: Ini yang Buat Perusahaan Multinasional Cenderung Pilih Banyak Utang

Lantas apakah penerapan metode transfer pricing secara ex-ante maupunex-post dapat menggambarkan integrasi bisnis yang tercipta atas sentralisasi tersebut? Mengingat analisis transfer pricing sekarang umumnya belum menjadikan value chain analysis (selanjutnya: VCA) sebagai suatu keharusan. Dengan demikian, analisis transfer pricing yang dilakukan belum dapat menggambarkan adanya integrasi bisnis grup multinasional. Konsekuensinya, hasil analisis transfer pricing tidak akan merefleksikan kondisi dan sifat transaksi afiliasi grup multinasional yang sebenarnya.

Lantas, menjadi pertanyaan adalah apakah yang dimaksud dengan VCA dan bagaimana hubungannya dengan transfer pricing? Sebagaimana dijelaskan oleh Huibregtse, et al. (2017: 2), konsep VCA muncul pertama kali pada tahun 1985 dalam buku “Competitive Advantage” yang diperkenalkan oleh Michael Porter. Analisis Porter dapat digunakan untuk menggambarkan value chain grup multinasional dengan tingkat integrasi yang tinggi, dimana setiap entitas memberikan kontribusi yang berbeda-beda.

Terkait dengan analisis transfer pricing, hasil mapping value chain grup multinasional tersebut dapat digunakan sebagai basis dalam pengalokasian remunerasi setiap entitas berdasarkan kontribusi yang diberikan. Hal ini selaras dengan pandangan OECD dalam proyek BEPS (khususnya Aksi 8, 9 dan 10) yang juga mempertimbangkan pentingnya VCA dalam analisistransfer pricing, sehingga pengalokasian laba dapat dilakukan berdasarkan kontribusi setiap entitas.

Baca Juga: Membedah Penerapan Resolusi Sengketa Pajak

Oleh karena itu, analisis VCA merupakan suatu tahapan yang dapat menyempurnakan analisis transfer pricing dan meningkatkan derajat kesebandingan sebagaimana diusulkan oleh OECD. Lebih lanjut, selain dua poin tersebut, kehadiran VCA dalam ranah transfer pricing akan meminimalisir adanya sengketa transfer pricing tentang pemajakan berganda atas penghasilan yang sama, sengketa karakterisasi bisnis suatu entitas, dan sengketa pemilihan pembanding.

Studi Kasus VCA di Negara China

Pada 18 Oktober 2016, Otoritas Pajak China (China’s State Administration of Taxation/SAT) menerbitkan Buletin 64 yang memberikan penekanan terhadap isu transfer pricing khususnya mengenai VCA dan standar kualitas dalam melakukan VCA. Dengan adanya aturan tersebut, jelas bahwa VCA akan digunakan oleh SAT untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih komprehensif dalam menilai kebijakan pengalokasian laba dan alasan alokasi yang diterapkan antara pihak afiliasi yang terlibat dalam rantai nilai global (global value chain).

Baca Juga: Akademisi: Ruang Pengkajian Transfer Pricing Masih Sangat Lebar

Berdasarkan analisis Huibregtse dan Wang (2016:5), dijelaskan langkah-langkah VCA yang dilakukan oleh SAT dalam melakukan pemeriksaan pajak atas sebuah kasus suatu grup multinasional di China. Dalam kasus ini, objek yang menjadi permasalahan dalam pemeriksaan pajak tersebut adalah penentuan harga transfer atas transaksi penjualan barang dari perusahaan A ke perusahaan B. Perusahaan A merupakan perusahaan lokal yang beroperasi sebagai perusahaan manufaktur, sedangkan perusahaan B merupakan perusahaan asing yang berkedudukan di luar Cina.

Berdasarkan data yang diperoleh, SAT berpendapat bahwa perusahaan B merupakan leader di industri elektronik secara global. Laba yang diperoleh dari perusahaan A secara terus menerus meningkat dan memperoleh margin operaional sekitar 10%. Lebih lanjut diperoleh fakta bahwa 90% barang hasil produksi perusahaan A dijual kepada perusahaan B, untuk kemudian dijual kembali kepada distributor independen. Sedangkan margin kotor perusahaan A atas penjualan kepada perusahaan B lebih rendah tiga kali lipat bila dibandingkan dengan produk sejenis yang dijual oleh perusahaan A di pasar Cina.

Berdasarkan temuan tersebut, SAT melakukan pemeriksaan terhadap harga jual perusahaan A atas transaksi domestik maupun ekspor, serta margin kotor yang diperoleh perusahaan A. Berdasarkan analisis VCA yang dilakukan, perusahaan A melakukan transaksi penjualan kepada pihak afiliasi dan pihak independen yang bertindak sebagai distributor (dengan kata lain, pelanggan perusahaan A memiliki level of market yang sama). Lebih lanjut, berikut adalah skema transaksi afiliasi perusahaan A.

Baca Juga: Fakta & Kondisi Sebenarnya Jadi Inti Penyusunan TP Doc

Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa perusahaan A melakukan produksi sesuai dengan spesifikasi barang, desain, standar kualitas, dan teknologi manufaktur dari perusahaan B, serta melakukan fungsi pengawasan kualitas dan layanan purna jual. Sehubungan dengan penggunaan teknologi manufaktur dan desain tersebut, perusahaan A melakukan pembayaran royalti kepada perusahaan B. Di sisi lain, perusahaan B menjalankan fungsi pemasaran, penelitian dan pengembangan, serta penetapan harga jual seluruh produk. Dalam konteks harga jual, perusahaan A tidak memiliki hak untuk menentukan harga jual produk tersebut (baik penjualan lokal maupun luar negeri). Hubungan komersial antara perusahaan A dan perusahaan B pada analisis VCA yang dilakukan SAT adalah sebagai berikut:

Baca Juga: Kupas Tuntas Transfer Pricing di Indonesia

Berdasarkan analisis VCA transaksi afiliasi di atas, SAT menyimpulkan bahwa perusahaan A akan memproduksi dan menjual barang sesuai dengan spesifikasi dan harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan B. Lebih lanjut, perusahaan B adalah perusahaan distributor yang juga melakukan aktivitas penelitian dan pengembangan harta tidak berwujud berupa teknologi dan desain dalam grup usaha. Perusahaan B merupakan pihak yang secara legal dan ekonomis memiliki harta tidak berwujud tersebut. Di sisi lain, perusahaan A merupakan perusahaan dengan karakterisasi bisnis licensed manufacturer (perusahaan A mendapatkan lisensi dari perusahaan B).

Dalam rantai suplai tersebut, SAT menemukan bahwa harga jual perusahaan A kepada perusahaan B lebih rendah dari harga jual kepada pihak independen. Padahal, level of market pihak afiliasi dan pihak independen adalah sama (perusahaan distributor). Secara aktual, pihak yang mendapatkan laba residual adalah perusahaan B, sedangkan perusahaan A hanya memperoleh 10% dari laba grup. Dalam hal ini, SAT tidak sependapat dengan skema transaksi afiliasi tersebut. Melalui analisis VCA yang dilakukan, SAT menetapkan bahwa perusahaan A adalah profit center dan selayaknya perusahaan A juga mendapatkan laba residual. Melalui proses pemeriksaaan, SAT melakukan koreksi sebesar 16,5 juta Yuan (setara dengan USD 2,4 Juta) pada perusahaan A.

Berdasarkan penjelasan di atas, konsep VCA akan menjadi bagian penting dalam melakukan analisis transfer pricing. Melalui konsep ini, value driver, penentuan karakteristik setiap entitas, dan pengalokasian laba secara grup dapat ditentukan secara akurat dan sesuai dengan kondisi bisnis grup multinasional. Dengan demikian, kedepannya tidak menimbulkan koreksi pajak yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman atas kondisi usaha grup multinasional.

Baca Juga: Buka Diskusi Soal Transfer Pricing, Ini Pesan Wamenkeu

Transaksi afiliasi yang terjadi karena adanya sentralisasi bisnis tersebut, mengharuskan grup multinasional untuk menganalisis kebijakan transfer pricing baik secara ex-ante maupun ex-post. Dimaksud dengan ex-anteadalah penerapan prinsip kewajaran pada saat dilakukannya transaksi afiliasi, sedangkan ex-post diartikan sebagai penerapan prinsip kewajaran setelah dilakukannya transaksi afiliasi.

Baca Juga: Ini yang Buat Perusahaan Multinasional Cenderung Pilih Banyak Utang

Lantas apakah penerapan metode transfer pricing secara ex-ante maupunex-post dapat menggambarkan integrasi bisnis yang tercipta atas sentralisasi tersebut? Mengingat analisis transfer pricing sekarang umumnya belum menjadikan value chain analysis (selanjutnya: VCA) sebagai suatu keharusan. Dengan demikian, analisis transfer pricing yang dilakukan belum dapat menggambarkan adanya integrasi bisnis grup multinasional. Konsekuensinya, hasil analisis transfer pricing tidak akan merefleksikan kondisi dan sifat transaksi afiliasi grup multinasional yang sebenarnya.

Lantas, menjadi pertanyaan adalah apakah yang dimaksud dengan VCA dan bagaimana hubungannya dengan transfer pricing? Sebagaimana dijelaskan oleh Huibregtse, et al. (2017: 2), konsep VCA muncul pertama kali pada tahun 1985 dalam buku “Competitive Advantage” yang diperkenalkan oleh Michael Porter. Analisis Porter dapat digunakan untuk menggambarkan value chain grup multinasional dengan tingkat integrasi yang tinggi, dimana setiap entitas memberikan kontribusi yang berbeda-beda.

Terkait dengan analisis transfer pricing, hasil mapping value chain grup multinasional tersebut dapat digunakan sebagai basis dalam pengalokasian remunerasi setiap entitas berdasarkan kontribusi yang diberikan. Hal ini selaras dengan pandangan OECD dalam proyek BEPS (khususnya Aksi 8, 9 dan 10) yang juga mempertimbangkan pentingnya VCA dalam analisistransfer pricing, sehingga pengalokasian laba dapat dilakukan berdasarkan kontribusi setiap entitas.

Baca Juga: Membedah Penerapan Resolusi Sengketa Pajak

Oleh karena itu, analisis VCA merupakan suatu tahapan yang dapat menyempurnakan analisis transfer pricing dan meningkatkan derajat kesebandingan sebagaimana diusulkan oleh OECD. Lebih lanjut, selain dua poin tersebut, kehadiran VCA dalam ranah transfer pricing akan meminimalisir adanya sengketa transfer pricing tentang pemajakan berganda atas penghasilan yang sama, sengketa karakterisasi bisnis suatu entitas, dan sengketa pemilihan pembanding.

Studi Kasus VCA di Negara China

Pada 18 Oktober 2016, Otoritas Pajak China (China’s State Administration of Taxation/SAT) menerbitkan Buletin 64 yang memberikan penekanan terhadap isu transfer pricing khususnya mengenai VCA dan standar kualitas dalam melakukan VCA. Dengan adanya aturan tersebut, jelas bahwa VCA akan digunakan oleh SAT untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih komprehensif dalam menilai kebijakan pengalokasian laba dan alasan alokasi yang diterapkan antara pihak afiliasi yang terlibat dalam rantai nilai global (global value chain).

Baca Juga: Akademisi: Ruang Pengkajian Transfer Pricing Masih Sangat Lebar

Berdasarkan analisis Huibregtse dan Wang (2016:5), dijelaskan langkah-langkah VCA yang dilakukan oleh SAT dalam melakukan pemeriksaan pajak atas sebuah kasus suatu grup multinasional di China. Dalam kasus ini, objek yang menjadi permasalahan dalam pemeriksaan pajak tersebut adalah penentuan harga transfer atas transaksi penjualan barang dari perusahaan A ke perusahaan B. Perusahaan A merupakan perusahaan lokal yang beroperasi sebagai perusahaan manufaktur, sedangkan perusahaan B merupakan perusahaan asing yang berkedudukan di luar Cina.

Berdasarkan data yang diperoleh, SAT berpendapat bahwa perusahaan B merupakan leader di industri elektronik secara global. Laba yang diperoleh dari perusahaan A secara terus menerus meningkat dan memperoleh margin operaional sekitar 10%. Lebih lanjut diperoleh fakta bahwa 90% barang hasil produksi perusahaan A dijual kepada perusahaan B, untuk kemudian dijual kembali kepada distributor independen. Sedangkan margin kotor perusahaan A atas penjualan kepada perusahaan B lebih rendah tiga kali lipat bila dibandingkan dengan produk sejenis yang dijual oleh perusahaan A di pasar Cina.

Berdasarkan temuan tersebut, SAT melakukan pemeriksaan terhadap harga jual perusahaan A atas transaksi domestik maupun ekspor, serta margin kotor yang diperoleh perusahaan A. Berdasarkan analisis VCA yang dilakukan, perusahaan A melakukan transaksi penjualan kepada pihak afiliasi dan pihak independen yang bertindak sebagai distributor (dengan kata lain, pelanggan perusahaan A memiliki level of market yang sama). Lebih lanjut, berikut adalah skema transaksi afiliasi perusahaan A.

Baca Juga: Fakta & Kondisi Sebenarnya Jadi Inti Penyusunan TP Doc

Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa perusahaan A melakukan produksi sesuai dengan spesifikasi barang, desain, standar kualitas, dan teknologi manufaktur dari perusahaan B, serta melakukan fungsi pengawasan kualitas dan layanan purna jual. Sehubungan dengan penggunaan teknologi manufaktur dan desain tersebut, perusahaan A melakukan pembayaran royalti kepada perusahaan B. Di sisi lain, perusahaan B menjalankan fungsi pemasaran, penelitian dan pengembangan, serta penetapan harga jual seluruh produk. Dalam konteks harga jual, perusahaan A tidak memiliki hak untuk menentukan harga jual produk tersebut (baik penjualan lokal maupun luar negeri). Hubungan komersial antara perusahaan A dan perusahaan B pada analisis VCA yang dilakukan SAT adalah sebagai berikut:

Baca Juga: Kupas Tuntas Transfer Pricing di Indonesia

Berdasarkan analisis VCA transaksi afiliasi di atas, SAT menyimpulkan bahwa perusahaan A akan memproduksi dan menjual barang sesuai dengan spesifikasi dan harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan B. Lebih lanjut, perusahaan B adalah perusahaan distributor yang juga melakukan aktivitas penelitian dan pengembangan harta tidak berwujud berupa teknologi dan desain dalam grup usaha. Perusahaan B merupakan pihak yang secara legal dan ekonomis memiliki harta tidak berwujud tersebut. Di sisi lain, perusahaan A merupakan perusahaan dengan karakterisasi bisnis licensed manufacturer (perusahaan A mendapatkan lisensi dari perusahaan B).

Dalam rantai suplai tersebut, SAT menemukan bahwa harga jual perusahaan A kepada perusahaan B lebih rendah dari harga jual kepada pihak independen. Padahal, level of market pihak afiliasi dan pihak independen adalah sama (perusahaan distributor). Secara aktual, pihak yang mendapatkan laba residual adalah perusahaan B, sedangkan perusahaan A hanya memperoleh 10% dari laba grup. Dalam hal ini, SAT tidak sependapat dengan skema transaksi afiliasi tersebut. Melalui analisis VCA yang dilakukan, SAT menetapkan bahwa perusahaan A adalah profit center dan selayaknya perusahaan A juga mendapatkan laba residual. Melalui proses pemeriksaaan, SAT melakukan koreksi sebesar 16,5 juta Yuan (setara dengan USD 2,4 Juta) pada perusahaan A.

Berdasarkan penjelasan di atas, konsep VCA akan menjadi bagian penting dalam melakukan analisis transfer pricing. Melalui konsep ini, value driver, penentuan karakteristik setiap entitas, dan pengalokasian laba secara grup dapat ditentukan secara akurat dan sesuai dengan kondisi bisnis grup multinasional. Dengan demikian, kedepannya tidak menimbulkan koreksi pajak yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman atas kondisi usaha grup multinasional.

Baca Juga: Buka Diskusi Soal Transfer Pricing, Ini Pesan Wamenkeu
Topik : Reportase, DDTC, HRDP, Transfer Pricing
artikel terkait
Kamis, 09 Maret 2017 | 06:01 WIB
LAPORAN DDTC DARI LONDON (3)
Selasa, 14 Maret 2017 | 09:10 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA (2)
Senin, 08 Januari 2018 | 07:10 WIB
LAPORAN DDTC DARI SELANDIA BARU
Jum'at, 22 Maret 2019 | 10:12 WIB
LAPORAN DDTC DARI SINGAPURA
berita pilihan
Senin, 22 Januari 2018 | 04:53 WIB
LAPORAN DDTC DARI JERMAN
Rabu, 22 Maret 2017 | 20:04 WIB
LAPORAN DDTC DARI TOKYO
Kamis, 22 Februari 2018 | 15:42 WIB
LAPORAN DDTC DARI PRANCIS
Senin, 11 September 2017 | 10:48 WIB
LAPORAN DDTC DARI SINGAPURA
Rabu, 13 September 2017 | 14:52 WIB
LAPORAN DDTC DARI SINGAPURA (2)
Selasa, 03 Oktober 2017 | 16:47 WIB
LAPORAN DDTC DARI MALAYSIA
Minggu, 01 Juli 2018 | 10:27 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA
Sabtu, 30 Juni 2018 | 06:34 WIB
OLEH-OLEH DDTC DARI KUALA LUMPUR
Senin, 13 Maret 2017 | 16:40 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA (1)
Kamis, 09 Maret 2017 | 06:01 WIB
LAPORAN DDTC DARI LONDON (3)