Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Antisipasi Efek Perang Dagang, Zona Perdagangan Bebas Diperluas

1
1

Ilustrasi. (foto: xinhuanet.com)

SHANGHAI, DDTCNews – Pemerintah Cina memperluas zona perdagangan bebas (free trade zone/FTZ) Shanghai untuk menarik investasi baru dan meningkatkan keunggulannya dalam manufaktur.

Perluasan FTZ ke area khusus Lin-gang diambil untuk mengatasi perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) serta peningkatan tekanan pada perusahaan asing di China karena ketegangan geopolitik.

“FTZ di Lin-gang akan mempromosikan pembangunan ekonomi berkualitas tinggi yang bisa memengaruhi pasar internasional,” kata Ying Yong, Wali Kota Shanghai, Selasa (20/8/2019) pada upacara peresmian operasi di zona itu.

Baca Juga: Lihat, Ini Jenis Kompetensi yang Bisa Nikmati Insentif Pajak Vokasi

Perluasan FTZ Lin-gang mencakup luasan 119,5 kilometer di selatan Bandara Internasional Pudong, lebih besar dua kali lipat dari ukuran zona perdagangan bebas yang diresmikan pada 2013. Perluasan ini juga mencakup pelabuhan Yangshang dan Waigaoqiao, yang menangani lebih banyak kargo daripada pelabuhan lain di dunia.

Pemerintah berharap dapat menarik industri-industri canggih, termasuk pembuatan chip, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), biomedis, dan penerbangan dengan menawarkan potongan pajak dan menjanjikan peraturan pendirian usaha yang lebih sederhana.

Perusahaan akan membayar pajak perusahaan sebesar 15% untuk lima tahun pertama atau mendapat keringanan 10% dari pajak biasanya. Potongan pajak penghasilan untuk pekerja profesional asing juga sedang dipertimbangkan. Bank sentral berharap untuk jasa keuangan di Lin-gang bisa memfasilitasi transaksi lintas batas.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Kawal Pemberian Insentif Perpajakan

Langkah ini dilakukan ketika banyak manufaktur di Cina telah mulai memindahkan produksinya ke luar negeri dengan harapan mengurangi dampak perang dagang. Sejak Juni lalu, 33 perusahaan yang terdaftar telah memberitahukan rencana untuk memindahkan produksi ke berbagai lokasi di Asia, termasuk Vietnam, Kamboja, India, dan Malaysia.

Perusahaan multinasional menghadapi ketidakpastian geopolitik yang lebih besar, mengingat adanya perang dagang dan meningkatnya ketegangan di Hong Kong. Terlepas dari kekhawatiran ini, sejumlah perusahaan telah mendirikan pabrik di Lin-gang. Salah satu pendatang baru yang terkenal adalah Tesla, yang menghabiskan ¥50 miliar setara dengan Rp100 triliun.

Seperti dilansir asia.nikkei.com, beberapa perusahaan masih mau menanamkan modal di Lin-gang karena percaya bahwa insentif yang ditawarkan di Lin-gang akan membantu menumbuhkan bisnis domestik dan internasional mereka. (MG-dnl/kaw)

Baca Juga: Pemerintah Diminta Tidak Otak-Atik Insentif

“FTZ di Lin-gang akan mempromosikan pembangunan ekonomi berkualitas tinggi yang bisa memengaruhi pasar internasional,” kata Ying Yong, Wali Kota Shanghai, Selasa (20/8/2019) pada upacara peresmian operasi di zona itu.

Baca Juga: Lihat, Ini Jenis Kompetensi yang Bisa Nikmati Insentif Pajak Vokasi

Perluasan FTZ Lin-gang mencakup luasan 119,5 kilometer di selatan Bandara Internasional Pudong, lebih besar dua kali lipat dari ukuran zona perdagangan bebas yang diresmikan pada 2013. Perluasan ini juga mencakup pelabuhan Yangshang dan Waigaoqiao, yang menangani lebih banyak kargo daripada pelabuhan lain di dunia.

Pemerintah berharap dapat menarik industri-industri canggih, termasuk pembuatan chip, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), biomedis, dan penerbangan dengan menawarkan potongan pajak dan menjanjikan peraturan pendirian usaha yang lebih sederhana.

Perusahaan akan membayar pajak perusahaan sebesar 15% untuk lima tahun pertama atau mendapat keringanan 10% dari pajak biasanya. Potongan pajak penghasilan untuk pekerja profesional asing juga sedang dipertimbangkan. Bank sentral berharap untuk jasa keuangan di Lin-gang bisa memfasilitasi transaksi lintas batas.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Kawal Pemberian Insentif Perpajakan

Langkah ini dilakukan ketika banyak manufaktur di Cina telah mulai memindahkan produksinya ke luar negeri dengan harapan mengurangi dampak perang dagang. Sejak Juni lalu, 33 perusahaan yang terdaftar telah memberitahukan rencana untuk memindahkan produksi ke berbagai lokasi di Asia, termasuk Vietnam, Kamboja, India, dan Malaysia.

Perusahaan multinasional menghadapi ketidakpastian geopolitik yang lebih besar, mengingat adanya perang dagang dan meningkatnya ketegangan di Hong Kong. Terlepas dari kekhawatiran ini, sejumlah perusahaan telah mendirikan pabrik di Lin-gang. Salah satu pendatang baru yang terkenal adalah Tesla, yang menghabiskan ¥50 miliar setara dengan Rp100 triliun.

Seperti dilansir asia.nikkei.com, beberapa perusahaan masih mau menanamkan modal di Lin-gang karena percaya bahwa insentif yang ditawarkan di Lin-gang akan membantu menumbuhkan bisnis domestik dan internasional mereka. (MG-dnl/kaw)

Baca Juga: Pemerintah Diminta Tidak Otak-Atik Insentif
Topik : China, perang dagang, FTZ, insentif pajak
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 08 September 2016 | 17:20 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Jum'at, 21 Juni 2019 | 16:16 WIB
AMERIKA SERIKAT
Jum'at, 26 April 2019 | 15:54 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 15 September 2016 | 06:02 WIB
ZIMBABWE
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Jum'at, 10 Mei 2019 | 16:37 WIB
ZAMBIA
Rabu, 15 Agustus 2018 | 12:10 WIB
ZAMBIA
Senin, 10 September 2018 | 09:45 WIB
YUNANI
Jum'at, 15 Juni 2018 | 17:42 WIB
ARAB SAUDI
Jum'at, 27 Juli 2018 | 16:21 WIB
JEPANG