Review
Rabu, 08 Februari 2023 | 11:44 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 07 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (5)
Kamis, 02 Februari 2023 | 17:05 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (4)
Fokus
Data & Alat
Rabu, 08 Februari 2023 | 10:00 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 08 Februari 2023 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 8 FEBRUARI 2023 - 14 FEBRUARI 2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 10:00 WIB
KMK 6/2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 09:31 WIB
KURS PAJAK 1 FEBRUARI - 7 FEBRUARI 2023
Reportase

Tidak Aktivasi NIK Sebagai NPWP, Kena Tarif PPh Pasal 21 Lebih Tinggi?

A+
A-
101
A+
A-
101
Tidak Aktivasi NIK Sebagai NPWP, Kena Tarif PPh Pasal 21 Lebih Tinggi?

Pertanyaan:
PERKENALKAN, saya Isal. Saya adalah karyawan swasta yang bekerja di perusahaan pelayaran. Saat ini penghasilan saya baru saja melewati threshold penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dan baru akan mengajukan pembuatan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Saya mendengar ada peraturan baru yang mengatur mengenai integrasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan NPWP.

Pertanyaan saya, apakah dengan terbitnya aturan tersebut saya tidak perlu lagi membuat NPWP dan dapat menggunakan NIK saja? Apakah ada risiko lain terhadap perhitungan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 saya? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Isal, Jakarta.

Jawaban:
TERIMA kasih atas pertanyaannya, Bapak Isal. Sebelumnya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), NIK akan diperlakukan sebagai NPWP untuk wajib pajak orang pribadi penduduk Indonesia. Pasal 2 ayat (1a) UU HPP berbunyi:

"(1a) Nomor Pokok Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Wajib Pajak orang pribadi yang merupakan penduduk Indonesia menggunakan nomor induk kependudukan.”

Kementerian Keuangan kemudian menerbitkan aturan turunan mengenai integrasi NIK dengan NPWP. Beleid tersebut dimuat dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 112/PMK.03/2022 tentang Nomor Pokok Wajib Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah (PMK 112/2022).

Pasal 2 ayat (1) PMK 112/2022 berbunyi:

“(1) Terhitung sejak tanggal 14 Juli 2022:

  1. Wajib Pajak orang pribadi yang merupakan Penduduk menggunakan Nomor Induk Kependudukan; dan
  2. Wajib Pajak orang pribadi bukan Penduduk, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak Instansi Pemerintah menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak dengan format 16 (enam belas) digit,

sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak.”

Pada intinya, bagi wajib pajak orang pribadi yang merupakan penduduk akan menggunakan NIK sebagai NPWP-nya. Untuk dapat diperlakukan sebagai NPWP, perlu dilakukan aktivasi NIK. Aktivasi NIK dapat dilakukan berdasarkan permohonan wajib pajak atau secara jabatan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 2 ayat (4) PMK 112/2022.

“(4) Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang merupakan Penduduk, Direktur Jenderal Pajak memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak dengan mengaktivasi Nomor Induk Kependudukan:

  1. berdasarkan permohonan pendaftaran Wajib Pajak; atau
  2. secara jabatan.”

Bagi wajib pajak orang pribadi penduduk yang sebelumnya sudah memiliki NPWP tidak perlu mengajukan permohonan aktivasi lagi karena telah ditetapkan secara jabatan. Sementara itu, bagi wajib pajak orang pribadi penduduk yang belum memiliki NPWP dan hendak mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP, aktivasi NIK dilakukan oleh dirjen pajak pada saat pendaftaran NPWP.

Sebagai catatan, selama pendaftaran NPWP dilakukan hingga 31 Desember 2023, wajib pajak tetap akan mendapat NPWP dengan format 15 digit. Ketentuan ini dapat ditemukan dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a PMK 112/2022 yang berbunyi:

“(1) Terhadap Wajib Pajak yang mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan sejak Peraturan Menteri ini mulai berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2023, Direktur Jenderal Pajak:

  1. mengaktivasi Nomor Induk Kependudukan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak dan memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak dengan format 15 (lima belas) digit bagi Wajib Pajak orang pribadi yang merupakan Penduduk; atau
    …”

Apabila aktivasi NIK tidak dilakukan, dapat diartikan bahwa wajib pajak tidak memiliki NPWP. Dengan demikian, terdapat risiko kenaikan tarif PPh Pasal 21 yang berlaku atas wajib pajak orang pribadi yang tidak memiliki NPWP.

Dalam Pasal 21 ayat (5a) UU PPh disebutkan bahwa:

“(5a) Besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (5) yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak lebih tinggi 20% (dua puluh persen) daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak.”

Demikian jawaban kami. Semoga membantu.

Sebagai informasi, artikel Konsultasi Pajak hadir setiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpilih dari pembaca setia DDTCNews. Bagi Anda yang ingin mengajukan pertanyaan, silakan mengirimkannya ke alamat surat elektronik [email protected].

(Disclaimer)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : konsultasi, konsultasi pajak, pajak, NIK, NPWP, UU HPP, PMK 112/2022

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Retno

Selasa, 20 Desember 2022 | 21:35 WIB
apakah arti aktivasi dengan validasi sama, Jika WP yamg sudah mempunyai NPWP namun tidak melakukan validasi antara NIK dan NPWP apakah akan pada tahun 2024 secara otomatis ditetapkan memakai NIK secara jabatan ? atau dianggap tidak memiliki NIK ?

damar

Kamis, 04 Agustus 2022 | 16:13 WIB
ini masih asumsi, atau sudah statement dari Kantor Pajak. atau dibuat abu2 untuk menjebak? kita tunggu tanggal mainnya

Marreds Soplanit

Senin, 25 Juli 2022 | 18:41 WIB
Inilah aturan ANJING
1

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 08 Februari 2023 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 8 FEBRUARI 2023 - 14 FEBRUARI 2023

Berlanjut, Rupiah Menguat Terhadap Mayoritas Mata Uang Negara Mitra

Selasa, 07 Februari 2023 | 18:00 WIB
KP2KP SAMBAS

Ada PTKP, UMKM Perlu Cek Lagi Catatan Omzet Saat Lapor SPT Tahunan

Selasa, 07 Februari 2023 | 17:30 WIB
KANWIL DJP JAKARTA TIMUR

Dorong Kepatuhan, Kanwil DJP Jaktim Gandeng 4 Asosiasi Konsultan Pajak

berita pilihan

Rabu, 08 Februari 2023 | 19:00 WIB
PROVINSI JAWA BARAT

Mudahkan Pegawai Pabrik Bayar PKB, Pemprov Jabar Hadirkan Samsat Kawin

Rabu, 08 Februari 2023 | 18:58 WIB
SENGKETA PAJAK

Ini Data Jumlah Berkas Sengketa yang Masuk Pengadilan Pajak

Rabu, 08 Februari 2023 | 18:00 WIB
PROVINSI LAMPUNG

Siap-Siap! Pemutihan Pajak Kendaraan Bakal Digelar Mulai April 2023

Rabu, 08 Februari 2023 | 17:30 WIB
KP2KP SAMBAS

NPWP 15 Digit Tak Berlaku Mulai 2024, Ini Langkah-Langkah Validasi NIK

Rabu, 08 Februari 2023 | 17:15 WIB
BINCANG ACADEMY

Menyiapkan TP Doc 2023 dari Awal Tahun, Ternyata Ini Keuntungannya

Rabu, 08 Februari 2023 | 16:54 WIB
PMK 177/2022

Begini Ketentuan Tindak Lanjut Pemeriksaan Bukper di PMK 177/2022

Rabu, 08 Februari 2023 | 16:45 WIB
KPP PRATAMA MAJENE

Gandeng Pemda, DJP Bisa Lacak WP yang Omzetnya Tembus Rp500 Juta

Rabu, 08 Februari 2023 | 16:30 WIB
SENGKETA PAJAK

Penyelesaian Sengketa di Pengadilan Pajak, Putusan ‘Menolak’ Naik 41%

Rabu, 08 Februari 2023 | 16:30 WIB
AMERIKA SERIKAT

Orang Kaya Cuma Bayar Pajak 8%, Biden Usulkan Pengenaan Pajak Minimum

Rabu, 08 Februari 2023 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK DAERAH

Bakal Segera Terbit, DJPK Sebut RPP Pajak Daerah Sudah Diharmonisasi