PERSPEKTIF

Menempatkan Kedudukan Beneficial Ownership dalam P3B

Redaksi DDTCNews
Senin, 12 Oktober 2026 | 08.58 WIB
Menempatkan Kedudukan Beneficial Ownership dalam P3B
Founder DDTC

DALAM lanskap perpajakan internasional terkini, ketentuan untuk mencegah penghindaran pajak terus berkembang. Salah satu isu yang menyita perhatian ialah relevansi dan kedudukan konsep beneficial ownership dalam konteks mencegah penghindaran pajak melalui treaty shopping.

Isu ini muncul setelah diadopsinya instrumen anti-abuse rule melalui proyek Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) Action 6 dan Multilateral Instrument (MLI).

Di mana seharusnya menempatkan kedudukan konsep beneficial ownership apabila telah tersedia principal purpose test (PPT), limitation on benefits (LOB), dan ketentuan antipenghindaran pajak lainnya? Apakah konsep beneficial ownership ini masih diperlukan atau justru berpotensi menambah ketidakpastian hukum?

Pertanyaan ini penting karena status beneficial ownership dapat menentukan apakah penerima suatu penghasilan tertentu berhak atas manfaat berupa pembatasan hak pemajakan negara sumber berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B). Perbedaan penafsiran terhadap konsep tersebut akan menjadi salah satu sumber sengketa pajak lintas negara.

Fungsi Beneficial Ownership

Konsep beneficial ownership pertama kali diperkenalkan dalam OECD Model 1977, yakni pada Pasal 10 tentang dividen, Pasal 11 tentang bunga, dan Pasal 12 tentang royalti. Namun, OECD Model tidak memberikan definisi lebih lanjut atas konsep beneficial ownership tersebut. Penjelasan singkat dalam OECD Commentaries menyatakan bahwa agents dan nominees bukan merupakan beneficial owners.

Menurut OECD Commentaries, istilah beneficial owner (pemilik manfaat sebenarnya) tidak digunakan dalam makna teknis yang sempit, tetapi perlu ditafsirkan berdasarkan konteks dan tujuan diadakannya P3B, yaitu menghindari pajak berganda.

Oleh karena itu, konsep beneficial ownership tidak diartikan berdasarkan pengertian dalam hukum domestik suatu negara, tetapi berdasarkan makna internasional (international meaning).

Secara khusus, pengujian pemilik manfaat sebenarnya berfokus pada apakah pihak penerima suatu penghasilan tertentu (dividen, bunga, dan royalti) memiliki hak untuk menggunakan dan menikmati penghasilan tersebut tanpa terikat kewajiban kontraktual atau hukum untuk meneruskannya kepada pihak lain.

Dengan demikian, yang diuji terutama adalah hubungan penerima dengan penghasilan tertentu. Konsep tersebut dalam P3B juga tidak dapat begitu saja disamakan dengan ultimate beneficial owner (pemilik manfaat akhir) dalam rezim transparansi kepemilikan dan pencegahan pencucian uang.

Dalam buku Beneficial Ownership in International Taxation, Kuźniacki (2022) berpandangan bahwa beneficial ownership lebih tepat dipahami sebagai aturan penentuan pihak yang berhak atas suatu penghasilan tertentu (income allocation rule).

Jadi, bukan sebagai ketentuan antipenyalahgunaan yang bersifat umum. Menurutnya, jika ditafsirkan terlalu luas, konsep tersebut berpotensi tumpang tindih dengan ketentuan antipenyalahgunaan lainnya. Hal ini tentu akan menimbulkan ketidakpastian terhadap wajib pajak.

Kritik tersebut menunjukkan bahwa ketidakjelasan batas suatu instrumen ketentuan hukum dapat memperluas penafsiran yang akan memicu sengketa. Sejalan dengan itu, Kuźniacki dan Kokott (2025) menekankan perlunya memisahkan pengujian beneficial ownership dari prinsip penyalahgunaan suatu ketentuan hukum, termasuk dalam kaitannya dengan PPT dan general anti-avoidance rule (GAAR).

Kedua pengujian tersebut berada dalam kerangka pencegahan penyalahgunaan, tetapi memiliki unsur, tujuan, dan dasar pengujian yang berbeda.

Pelajaran dari Sengketa

Dalam praktiknya, penerusan suatu penghasilan tertentu kepada suatu perusahaan lain dapat menjadi petunjuk awal bahwa penerima hanya bertindak sebagai perantara (conduit). Namun, penerusan pembayaran belum tentu secara otomatis membuktikan adanya kewajiban untuk meneruskan suatu penghasilan tertentu akan menghilangkan keleluasaan (discretion) penerima.

Konsep beneficial ownership kerap diperlakukan dengan keliru sebagai aturan “sapu jagat” untuk menindak penghindaran pajak. Padahal, pengujian hak atas suatu penghasilan tertentu secara hukum berbeda dari analisis niat penyalahgunaan P3B (treaty abuse).

Kasus Velcro (2012), misalnya, menunjukkan bahwa keberadaan perusahaan perantara atau penerusan pembayaran tidak otomatis menggugurkan status pemilik manfaat sebenarnya sepanjang penerima tetap memiliki keleluasaan dan kendali atas penghasilan.

Sementara itu, Kasus Danish (2019) memperlihatkan bahwa pengujian beneficial ownership dan penyalahgunaan suatu ketentuan hukum memiliki unsur yang berbeda. Ketiadaan status beneficial ownership tidak serta-merta membuktikan adanya motif penghindaran pajak berupa treaty shopping.

Pengujian tentang pemilik manfaat sebenarnya juga tidak selalu berujung pada penolakan manfaat P3B. Kasus Société Planet (2022) membuka kemungkinan diterapkannya fasilitas P3B melalui pendekatan look-through. Conseil d’État di Prancis menggunakan pendekatan tersebut sehingga manfaat P3B dapat tetap diberikan berdasarkan domisili pemilik manfaat yang sesungguhnya, sepanjang persyaratannya terpenuhi.

Beberapa kasus tersebut menegaskan pentingnya memisahkan pengujian beneficial ownership dari pengujian penyalahgunaan suatu ketentuan hukum.

BEPS Action 6 menempatkan treaty shopping dalam kerangka yang lebih eksplisit. PPT dapat menjadi dasar penolakan manfaat P3B apabila disimpulkan bahwa salah satu tujuan utama suatu pengaturan atau transaksi ialah memperoleh manfaat (benefit), kecuali jika pemberiannya sesuai dengan objek dan tujuan ketentuan P3B.

Sementara itu, LOB, apabila disepakati dalam P3B, menggunakan kriteria kelayakan yang lebih objektif, antara lain mengenai status, kepemilikan, atau kegiatan usaha penerima manfaat.

Menjaga Kepastian Penafsiran

Fungsi beneficial ownership ialah menguji hak atas penghasilan, sedangkan PPT menguji tujuan suatu transaksi (arrangement) dan LOB menguji kelayakan berdasarkan kriteria perjanjian. Ketiganya dapat beririsan pada fakta yang sama, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

Berdasarkan uraian dan fakta di atas, pendekatan yang lebih proporsional dapat diwujudkan melalui pengujian secara terpisah. Pertama, status penerima sebagai pemilik manfaat sebenarnya perlu diuji berdasarkan hubungan hukum dan fakta atas suatu penghasilan tertentu.

Selanjutnya, pemenuhan ketentuan LOB, jika ada, harus dipastikan. Keberadaan PPT maupun ketentuan antipenyalahgunaan lainnya juga perlu dievaluasi untuk menentukan apakah ketentuan tersebut dapat dijadikan dasar tersendiri bagi penolakan manfaat P3B.

Pemisahan pengujian tersebut tidak berarti bahwa fakta ekonomi dapat diabaikan oleh otoritas pajak. Fakta ekonomi tetap relevan dalam penilaian, sepanjang penggunaannya dikaitkan dengan unsur ketentuan hukum masing-masing ketentuan yang diterapkan.

Pada akhirnya, persoalan terpenting bukan memilih antara ketentuan beneficial ownership dan anti-abuse rule. Keduanya diperlukan sepanjang menjalankan fungsi yang memang diberikan oleh P3B.

Ketepatan penggunaan setiap pengujian merupakan prasyarat bagi pencegahan penyalahgunaan P3B yang efektif. Hal tersebut juga mendukung konsistensi penafsiran dan kepastian hukum bagi otoritas pajak maupun wajib pajak. Dengan demikian, ketentuan-ketentuan tersebut perlu dipahami sebagai instrumen yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
dimas agung
baru saja
Pembahasan yang menarik, terutama mengenai pentingnya menempatkan konsep beneficial ownership sesuai dengan fungsi dan ruang lingkupnya dalam P3B. Menurut saya, pembedaan antara pengujian hak atas penghasilan dan pengujian penyalahgunaan P3B menjadi penting agar penerapan ketentuan perpajakan internasional tetap efektif tanpa mengabaikan kepastian hukum bagi wajib pajak. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemahaman terhadap substansi dan tujuan setiap ketentuan sangat diperlukan dalam menganalisis transaksi lintas negara.
user-comment-photo-profile
Khairunissa Alika Pradipta
baru saja
Sangat menarik melihat pembahasan mengenai kedudukan beneficial ownership dalam P3B, khususnya terkait pentingnya membedakan pengujian beneficial ownership dengan ketentuan antipenyalahgunaan perjanjian seperti Principal Purpose Test (PPT) dan Limitation on Benefits (LOB). Pemahaman atas perbedaan fungsi masing-masing ketentuan ini menjadi penting untuk mendukung penerapan P3B yang tepat dan memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak.
user-comment-photo-profile
Krisna Ganda Saputra
baru saja
Saya sependapat dengan pandangan Bapak Darussalam. Pemisahan pengujian beneficial ownership, Principal Purpose Test (PPT), dan Limitation on Benefits (LOB) menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap ketentuan P3B diterapkan sesuai dengan fungsi dan tujuan hukumnya. Pendekatan ini tidak hanya mendukung upaya pencegahan penyalahgunaan P3B, tetapi juga memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak.
user-comment-photo-profile
Yehezkia
baru saja
Saya setuju bahwa BO, PPT, dan LOB perlu ditempatkan sesuai fungsi masing-masing. Namun, batasan pengujiannya perlu jelas agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penerapan dan interpretasi P3B.
user-comment-photo-profile
Edrico Josef Bimo Aji
baru saja
sangat menarik melihat Bapak Darussalam mengangkat pembahasan mengenai beneficial ownership dalam P3B, terutama terkait pentingnya membedakan pengujian pemilik manfaat sebenarnya dengan aturan antipenghindaran pajak lainnya. pembahasan ini menunjukkan bahwa pemahaman yang tepat terhadap ketentuan perpajakan internasional sangat penting untuk mendukung kepastian hukum dan mencegah perbedaan penafsiran. terima kasih atas insight yang sangat bermanfaat ini🙏
user-comment-photo-profile
Cinta Della Ayu
baru saja
Perspektif yang menarik, terutama dalam melihat bagaimana pengujian beneficial ownership perlu mempertimbangkan hak atas penghasilan secara substantif. Dengan memahami fungsi setiap instrumen anti-penyalahgunaan, penerapan P3B diharapkan dapat berjalan lebih tepat dan konsisten.
user-comment-photo-profile
Abelva Malika Dewi
baru saja
Saya setuju dengan perspektif Bapak Darussalam bahwa pengujian beneficial ownership memang harus berpatokan pada substansi ekonomi dan juga hak hukumnya. Pemisahan pengujian antara BO, PPT, dan LOB juga memperjelas dasar penolakan manfaat P3B sekaligus menjaga kepastian hukum.
user-comment-photo-profile
Sarah Safira
baru saja
Saya setuju dengan pandangan Bapak Darussalam bahwa konsep beneficial ownership perlu dipahami dan diterapkan sesuai dengan fungsi serta kedudukannya dalam P3B. Penting untuk membedakan pengujian beneficial ownership, PPT, dan LOB agar fasilitas P3B tidak disalahgunakan, tetapi kepastian hukum bagi Wajib Pajak juga tetap terjaga. Apresiasi untuk DDTC atas ulasan yang menambah wawasan mengenai isu perpajakan internasional di Indonesia.
user-comment-photo-profile
Dyra Fazrian
baru saja
Saya sepenuhnya sependapat dengan pandangan Bapak Darussalam bahwa pengujian status beneficial ownership dan ketentuan anti-abuse rule seperti Principal Purpose Test maupun Limitation on Benefits dalam P3B harus dilakukan secara terpisah, karena instrumen-instrumen tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan sejatinya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
user-comment-photo-profile
Abdurrohman Shaleh Karnawidjaya
baru saja
Menarik bagaimana artikel ini menegaskan bahwa beneficial ownership pada dasarnya menguji hak atas penghasilan, bukan semata-mata indikasi penghindaran pajak. Dalam konteks itu, penerusan penghasilan kepada pihak lain juga tidak serta-merta menghilangkan status beneficial owner.
user-comment-photo-profile
Yada Khoiriansyah Umpukaha
baru saja
Tulisan Pak Darussalam ini menegaskan bahwa beneficial ownership (BO) menguji hak atas penghasilan, sementara PPT menguji tujuan transaksi dan LOB menguji kelayakan berdasarkan kriteria objektif. Perbedaan fungsi ini penting karena BO kerap diperlakukan sebagai aturan anti-penyalahgunaan umum, padahal kasus Velcro, Danish, dan Société Planet menunjukkan unsur pengujiannya berbeda dengan analisis niat treaty abuse. Pendekatan pengujian secara terpisah seperti ini juga memberi kepastian penafsiran yang lebih baik bagi otoritas pajak maupun wajib pajak dalam menerapkan P3B.
user-comment-photo-profile
Muhammad Bryan
baru saja
Saya sependapat dengan pandangan Bapak Darussalam bahwa konsep beneficial ownership perlu dipahami secara tepat dalam penerapan P3B. Penentuan pihak yang berhak memperoleh manfaat dari suatu penghasilan tidak cukup hanya didasarkan pada aspek formal, tetapi juga perlu melihat substansi dan kondisi yang sebenarnya. Sehingga, pemberian fasilitas P3B dapat lebih tepat sasaran sekaligus mendukung kepastian hukum dalam praktik perpajakan internasional.
user-comment-photo-profile
Fabian Maldini
baru saja
Sangat sejalan dengan pandangan Pak Darussalam. Penjelasan mengenai pentingnya menempatkan konsep beneficial ownership sesuai fungsi dan kedudukannya dalam P3B memberikan perspektif yang mendalam. Pemisahan pengujian beneficial ownership, PPT, dan LOB menjadi hal penting agar upaya pencegahan penyalahgunaan P3B tetap berjalan seiring dengan terjaganya kepastian hukum bagi Wajib Pajak. Ulasan yang sangat bernilai bagi perkembangan pemahaman perpajakan internasional di Indonesia.
user-comment-photo-profile
Muhammad Hasan Fahrizal
baru saja
Saya setuju dengan perspektif Bapak bahwa kedudukan beneficial ownership dalam P3B perlu ditempatkan secara proporsional. Pemahaman yang tepat atas setiap instrumen antipenyalahgunaan pajak menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara pencegahan penghindaran pajak dan kepastian hukum bagi wajib pajak.
user-comment-photo-profile
Daffa Faisya
baru saja
saya setuju dengan Bapak Darussalam, bahwa Beneficial Ownership, PPT dan LOB memiliki fungsi yang berbeda dalam P3B, jadi harus di uji secara terpisah, penempatan kedudukan Beneficial Ownership yang tepat dalam P3B adalah kunci mutlak untuk memastikan fasilitas tax treaty tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.
user-comment-photo-profile
Ulfah Fauziah
baru saja
Pembahasan yang menarik mengenai kedudukan beneficial ownership di tengah perkembangan instrumen anti-penghindaran pajak. Interaksi antara konsep ini dan ketentuan seperti PPT dan LOB menjadi isu penting untuk dikaji, khususnya dalam menjaga kepastian hukum dan konsistensi penerapan P3B.
user-comment-photo-profile
Evelyn Odelia Noviandi
baru saja
Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa penentuan beneficial ownership dalam P3B perlu memperhatikan substansi dan pihak yang sebenarnya berhak atas manfaat penghasilan. Hal ini penting untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas P3B serta memastikan penerapan ketentuan perpajakan internasional yang lebih tepat dan memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak.
user-comment-photo-profile
Puti Andam Dewi
baru saja
Saya setuju dengan pandangan Bapak Darussalam bahwa beneficial ownership, PPT, dan LOB memiliki fungsi pengujian yang berbeda dalam P3B. Pemisahan pengujian ini penting agar penolakan manfaat P3B didasarkan pada ketentuan yang tepat, sehingga dapat mendukung konsistensi penafsiran dan kepastian hukum bagi wajib pajak maupun otoritas pajak.
user-comment-photo-profile
Muhammad Harmaen Pasha
baru saja
Saya sependapat dengan Bapak Darussalam bahwa BO, PPT, dan LOB harus diuji secara terpisah karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Jika BO dipaksakan sebagai aturan general anti-avoidance, hal tersebut justru dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan memicu sengketa.
user-comment-photo-profile
Siti Maisun Maudina Tasyah
baru saja
Pembahasan mengenai beneficial ownership dalam P3B sangat menarik dan relevan dalam praktik perpajakan internasional. Saya setuju bahwa penentuan beneficial owner tidak cukup hanya melihat pihak yang menerima penghasilan, tetapi juga perlu memperhatikan substansi dan hak atas penghasilan tersebut. Hal ini penting untuk menciptakan penerapan ketentuan pajak yang lebih tepat dan memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak.
user-comment-photo-profile
Aulia Bahrudin
baru saja
Saya setuju dengan bapak Darussalam. BO, PPT, dan LOB punya fungsi yang berbeda, jadi sebaiknya diuji secara terpisah. Kalau BO dipakai sebagai aturan antipenghindaran umum, risikonya malah menimbulkan ketidakpastian hukum dan sengketa.