Trusted Indonesian Tax News Portal
|
 
 
Review
Senin, 10 Desember 2018 | 08:02 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Jum'at, 07 Desember 2018 | 10:35 WIB
PROFESOR MIRANDA STEWART:
Jum'at, 07 Desember 2018 | 08:22 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Fokus
Literasi
Selasa, 27 November 2018 | 10:52 WIB
PROFIL PERPAJAKAN BULGARIA
Rabu, 21 November 2018 | 11:48 WIB
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (14)
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
 
Data & alat
Rabu, 12 Desember 2018 | 10:25 WIB
KURS PAJAK 12-18 DESEMBER 2018
Rabu, 05 Desember 2018 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 5-11 DESEMBER 2018
Rabu, 28 November 2018 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 28 NOVEMBER-4 DESEMBER 2018
 
Komunitas
Sabtu, 08 Desember 2018 | 09:23 WIB
SEMINAR DIGITALPRENEUR-STIAMI
Jum'at, 07 Desember 2018 | 17:38 WIB
TRANSFER PRICING
Jum'at, 30 November 2018 | 18:04 WIB
SEMINAR TAXPLORE 2018-FIA UI
 
Reportase

Penentuan Tingkat Bunga atas Transaksi Pinjaman Intragrup

15

Pertanyaan

Perusahaan kami sebagai induk meminjamkan sejumlah dana ke masing-masing anak perusahaan sesuai dengan kebutuhan dana mereka dengan tingkat bunga yang sama. Kami ingin bertanya, bagaimana sebenarnya penentuan tingkat bunga yang tepat atas transaksi pinjaman intragrup tersebut untuk mengurangi adanya risiko transfer pricing?

Basri, Jakarta

Jawaban

Terima kasih untuk pertanyaannya. Berdasarkan Public Discussion Draft BEPS Actions 8-10 Financial Transactions, sehubungan dengan penentuan tingkat bunga yang tepat untuk transaksi pinjaman intragrup terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan, yaitu (i) melihat pinjaman tersebut dari perspektif pemberi dan penerima pinjaman, (ii) meninjau kelayakan kredit dari penerima pinjaman, dan (iii) melihat efek dari keanggotaan perusahaan afiliasi di dalam grup usaha.

Perspektif Pemberi dan Penerima Pinjaman

Dalam melakukan transaksi pinjaman intragrup, perspektif pemberi dan penerima pinjaman harus dipertimbangkan mengingat bahwa kedua perspektif ini mungkin tidak selalu sejalan. Pertimbangan yang dimaksud adalah risiko yang ditanggung oleh masing-masing pihak terkait dengan transaksi pinjaman intra-grup. Risiko-risiko ini akan berhubungan dengan kompensasi yang diharapkan akan diterima oleh pemberi pinjaman.

Ketika suatu perusahaan melakukan pinjaman dengan afiliasinya, perusahaan tersebut tidak akan melakukan penilaian secara mendalam terhadap profil penerima pinjaman seperti penilaian yang dilakukan jika pinjaman dilakukan dengan perusahaan independen. Namun, dalam menentukan apakah transaksi pinjaman yang dilakukan dengan pihak afiliasi telah sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha, pertimbangan terkait kelayakan kredit dan kondisi ekonomi merupakan hal yang relevan.

Dalam kasus entitas induk memberikan pinjaman kepada entitas anak, entitas induk telah memiliki kendali dan kepemilikan atas aset entitas anak yang akan membuat pemberian jaminan di dalam pinjaman menjadi kurang relevan. Hal ini akan memengaruhi risiko atas pinjaman dan juga akan memengaruhi tingkat bunga yang akan dibebankan.

Kelayakan Kredit Penerima Pinjaman

Dalam penentuan tingkat bunga, penting untuk mempertimbangkan kelayakan kredit dari penerima pinjaman. Secara umum, kelayakan kredit yang rendah akan menggambarkan risiko gagal bayar yang tinggi dan tingkat bunga yang dibebankan juga akan menjadi lebih tinggi, begitu pula kondisi sebaliknya. Dalam melakukan analisis kelayakan kredit, informasi keuangan suatu perusahaan dapat saja terpengaruh oleh transaksi afiliasi.

Sebagai contoh, jika suatu perusahaan memiliki transaksi afiliasi seperti penjualan atau beban bunga yang mungkin harganya tidak berdasarkan pada prinsip kewajaran dan kelaziman usaha, kelayakan kredit yang berasal dari nilai-nilai tersebut menjadi tidak dapat diandalkan tanpa adanya penyesuaian kesebandingan yang tepat.

Efek dari Keanggotaan Perusahaan Afiliasi di dalam Grup Usaha

Dalam menentukan tingkat bunga pinjaman intragrup, penerima pinjaman dilihat sebagai perusahaan independen. Hal ini tidak berarti bahwa keberadaan dari grup usaha diabaikan. Oleh karena itu, pengaruh potensial dari adanya passive associationpada kelayakan kredit akan dipertimbangkan. Pada umumnya, pemberi pinjaman independen akan memperhitungkan adanya dukungan implisit dari grup usahanya.

Dukungan implisit adalah keuntungan yang timbul dari adanya passive association. Sebagai contoh, apabila grup usaha multinasional mendapatkan kelayakan kredit yang lebih baik dibandingkan stand-alone credit rating dan mengakibatkan menurunnya tingkat suku bunga yang dibebankan oleh pemberi pinjaman independen akibat keanggotaan perusahaan di dalam grup usaha multinasional.

Perusahaan afiliasi yang memiliki peran penting terhadap strategi grup usaha di masa depan dan beroperasi di bisnis inti grup usaha, biasanya akan mendapatkan dukungan dari anggota grup usaha lainnya dibandingkan perusahaan afiliasi yang tidak memiliki peranan penting. Dalam kasus perusahaan afiliasi tidak memiliki peran penting di dalam grup dan memiliki hubungan yang lemah dengan anggota grup usaha lainnya maka akan lebih tepat jika kita menilai kelayakan kredit tersebut berdasarkanstand-alone rating.

Perlu diketahui, informasi terkait dukungan anggota grup usaha kepada penerima pinjaman dalam suatu kondisi tertentu pada umumnya tidak tersedia bagi otoritas pajak. Hal yang berbeda terjadi jika terdapat jaminan formal yang berisi komitmen yang mengikat bahwa grup usaha akan memberikan dukungan kepada penerima pinjaman.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam penentuan tingkat bunga atas pinjaman intragrup, yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah melihat pinjaman tersebut tidak hanya dari perspektif perusahaan sebagai pemberi pinjaman, tetapi juga dari perspektif perusahaan sebagai penerima pinjaman. Analisis yang dilakukan dari dua sisi akan mempertimbangkan risiko yang ditanggung oleh kedua pihak.

Selanjutnya, pemberi pinjaman juga harus menilai kelayakan kredit penerima pinjaman sebelum menentukan tingkat bunga pinjaman intragrup. Kelayakan kredit akan menunjukkan profil risiko dari penerima pinjaman dan tingkat bunga akan ditentukan sesuai dengan profil risiko tersebut.

Selain itu, pemberi pinjaman juga harus mempertimbangkan efek dari keanggotaan penerima pinjaman di dalam grup usaha. Jika penerima pinjaman memiliki peran yang kuat di dalam grup usaha, terdapat kemungkinan bahwa anggota grup usaha lainnya akan memberikan dukungan jika penerima pinjaman gagal memenuhi kewajibannya, begitu pula sebaliknya.

Ada atau tidak adanya dukungan akan memengaruhi tingkat bunga yang dibebankan. Namun, harus diperhatikan bahwa informasi terkait adanya dukungan implisit tersebut tidak tersedia bagi otoritas pajak kecuali terdapat perjanjian yang mengikat.

Demikian jawaban saya, semoga dapat membantu (DISCLAIMER)

Topik : Konsultasi, Transfer Pricing, Tingkat Bunga
artikel terkait
Kamis, 05 April 2018 | 10:01 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 26 September 2016 | 10:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 21 November 2018 | 08:12 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 06 Oktober 2016 | 11:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
berita pilihan
Rabu, 10 Oktober 2018 | 08:30 WIB
KONSULTASI
Kamis, 25 Oktober 2018 | 06:31 WIB
KONSULTASI
Rabu, 17 Oktober 2018 | 06:41 WIB
KONSULTASI
Jum'at, 02 November 2018 | 07:31 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Kamis, 29 November 2018 | 06:14 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Selasa, 03 April 2018 | 11:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 05 November 2018 | 06:58 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Selasa, 03 April 2018 | 14:57 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 26 September 2016 | 10:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 19 Mei 2017 | 16:10 WIB
KONSULTASI PAJAK
15