Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Menunggu Main Golf

0
0

SUATU siang seusai pesta pernikahan seorang kenalan yang membosankan, tiga orang sahabat lama memutuskan kabur bermain golf. Orang pertama adalah seorang rabbi yahudi, yang kedua seorang psikolog, dan yang ketiga seorang fiskus.

Di lapangan golf, mereka mulai main sambil ketawa-ketawa. Tak dinyana, sang rabbi sangat jago. Tak sampai sejam, mereka sudah sampai di lubang 8. Sayang, permainan tak bisa berlanjut, karena di lubang 9 masih ada sepasang suami istri yang bermain sangat lamban.

Selama berjam-jam, sepasang suami-istri itu mondar mandir memukul bola, yang tak kunjung masuk lubang. Sambil menggerutu, ketiga orang sahabat itu pun akhirnya duduk-duduk menunggu.

Baca Juga: Hukuman Guillotine

Tak tahan menunggu, mereka mulai protes. “Oh Tuhan, semoga mereka ikut kursus golf dulu sebelum main,” kata sang rabbi. “Sumpah, memang ada orang yang ingin main golf dengan sangat lamban,” teriak si psikolog.

Akhirnya, mereka menemui caddy dan meminta ikut bermain bersama di lubang 9. Permintaan itu dipenuhi. Namun, kata si caddy, sepasang suami istri itu orang buta. Mereka mantan pemadam kebakaran yang kehilangan penglihatannya saat menyelamatkan orang.

“Itulah sebabnya mereka bermain sangat lamban. Makanya Pak, kalau protes ngomongnya jangan kenceng-kenceng. Mereka dengar tuh. Mereka itu pelanggan tetap di sini yang datang tiap hari,” kata si caddy kalem.

Baca Juga: Anomali Jumlah Persediaan

Malu dengan penjelasan si caddy, sang rabbi pun terdiam. Kepalanya langsung menengadah dengan mata terpejam. “Di sinilah aku, hamba-Mu yang menyumpah kelambanan permainan golf sepasang suami-istri buta,” kata sang rabbi menyesali perbuatannya

Begitu pula si psikolog. “Inilah aku, yang dilatih membantu orang menyelesaikan masalah mereka tapi malah mengeluh kelambanan permainan golf sepasang orang buta,” katanya sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

Sang fiskus tiba-tiba menggamit lengan si caddy, mengajaknya menyingkir beberapa tindak, lalu berbisik, “Denger, ya, besok kita masih mau main di sini. Bisa kau atur kan supaya suami-istri itu mainnya malam hari?” (Bsi)

Baca Juga: Transplantasi Hati

Selama berjam-jam, sepasang suami-istri itu mondar mandir memukul bola, yang tak kunjung masuk lubang. Sambil menggerutu, ketiga orang sahabat itu pun akhirnya duduk-duduk menunggu.

Baca Juga: Hukuman Guillotine

Tak tahan menunggu, mereka mulai protes. “Oh Tuhan, semoga mereka ikut kursus golf dulu sebelum main,” kata sang rabbi. “Sumpah, memang ada orang yang ingin main golf dengan sangat lamban,” teriak si psikolog.

Akhirnya, mereka menemui caddy dan meminta ikut bermain bersama di lubang 9. Permintaan itu dipenuhi. Namun, kata si caddy, sepasang suami istri itu orang buta. Mereka mantan pemadam kebakaran yang kehilangan penglihatannya saat menyelamatkan orang.

“Itulah sebabnya mereka bermain sangat lamban. Makanya Pak, kalau protes ngomongnya jangan kenceng-kenceng. Mereka dengar tuh. Mereka itu pelanggan tetap di sini yang datang tiap hari,” kata si caddy kalem.

Baca Juga: Anomali Jumlah Persediaan

Malu dengan penjelasan si caddy, sang rabbi pun terdiam. Kepalanya langsung menengadah dengan mata terpejam. “Di sinilah aku, hamba-Mu yang menyumpah kelambanan permainan golf sepasang suami-istri buta,” kata sang rabbi menyesali perbuatannya

Begitu pula si psikolog. “Inilah aku, yang dilatih membantu orang menyelesaikan masalah mereka tapi malah mengeluh kelambanan permainan golf sepasang orang buta,” katanya sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

Sang fiskus tiba-tiba menggamit lengan si caddy, mengajaknya menyingkir beberapa tindak, lalu berbisik, “Denger, ya, besok kita masih mau main di sini. Bisa kau atur kan supaya suami-istri itu mainnya malam hari?” (Bsi)

Baca Juga: Transplantasi Hati
Topik : anekdot pajak, humor pajak, humor pajak
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Jum'at, 21 April 2017 | 20:29 WIB
ANEKDOT PAJAK
Kamis, 01 Desember 2016 | 14:55 WIB
ANEKDOT PAJAK
Selasa, 26 Februari 2019 | 16:00 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 18:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
berita pilihan
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 18:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 03 April 2017 | 14:08 WIB
KARTUN PAJAK
Rabu, 19 Oktober 2016 | 15:01 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 09 Januari 2017 | 10:34 WIB
ANEKDOT PAJAK
Kamis, 01 Desember 2016 | 14:55 WIB
ANEKDOT PAJAK
Rabu, 02 November 2016 | 21:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
Selasa, 22 Januari 2019 | 16:15 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 19 Juli 2019 | 11:53 WIB
ANEKDOT AKUNTAN
Selasa, 26 Februari 2019 | 16:00 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 14 Juli 2017 | 18:38 WIB
ANEKDOT PAJAK