Review
Jum'at, 03 April 2020 | 20:18 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 03 April 2020 | 17:38 WIB
ANALISIS PAJAK
Kamis, 02 April 2020 | 18:59 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Rabu, 01 April 2020 | 18:28 WIB
TAJUK PAJAK
Fokus
Data & alat
Jum'at, 03 April 2020 | 17:01 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Kamis, 02 April 2020 | 14:31 WIB
PROFESI
Rabu, 01 April 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 1 APRIL-7 APRIL 2020
Rabu, 25 Maret 2020 | 07:34 WIB
KURS PAJAK 25 MARET-31 MARET 2020
Komunitas
Kamis, 02 April 2020 | 15:11 WIB
LEE JI-EUN:
Selasa, 31 Maret 2020 | 09:52 WIB
PROGRAM BEASISWA
Senin, 30 Maret 2020 | 17:29 WIB
UNIVERSITAS PANCASILA
Senin, 30 Maret 2020 | 16:19 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Reportase

Larangan Diskriminasi terhadap Status Kewarganegaraan

A+
A-
0
A+
A-
0
Larangan Diskriminasi terhadap Status Kewarganegaraan

Dalam konteks tax treaty atau perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B), istilah diskriminasi diartikan sebagai perlakuan pajak yang kurang menguntungkan terhadap suatu subjek pajak tertentu dibandingkan dengan subjek pajak lainnya dalam kondisi yang sama. Tujuan diadakannya pasal terkait non-diskriminasi dalam P3B, yaitu untuk menghindari adanya pemajakan yang tidak adil.

Prinsip untuk tidak diperlakukan diskriminasi (prinsip non-diskriminasi) merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar dan merupakan fundamental hukum yang terpenting. Hersh Lauterpach menyatakan “The claim to equality before Law is in a substantial sense the most fundamental of the rights of man.” Prinsip non-diskriminasi telah ada sebelum keberadaan P3B. Prinsip non-diskriminasi dalam P3B versi OECD Model terdapat dalam Pasal 24.

Diskriminasi dalam konteks Pasal 24 OECD Model dapat diartikan sebagai: (i) perlakuan yang tidak sama atas kasus yang sama (dapat diperbandingkan); atau (ii) perlakuan yang sama atas kasus yang tidak sama (dapat diperbandingkan).

OECD Model melarang perlakuan pajak yang berbeda atas dasar status kewarganegaraan. Dalam konteks ini, OECD secara tegas menyatakan bahwa setiap negara yang mengadakan P3B dilarang melakukan diskriminasi atas subjek pajak dalam negeri dari negara mitra P3B berdasarkan status kewarganegaraan dalam mengaplikasikan ketentuan P3B.

Pasal 24 ayat (1) OECD Model mengatur tentang larangan untuk mengenakan pajak yang kurang menguntungkan atas dasar kewarganegaraan dari subjek pajak.

Berdasarkan Pasal 24 ayat (1) OECD Model tersebut di atas, misal Subjek Pajak D yang mempunyai status kewarganegaraan di negara asalnya yaitu Negara D, tidak boleh dikenakan pajak secara lebih berat di negara lainnya, misal, di negara sumber penghasilan (Negara S), dibandingkan dengan subjek pajak, misal Subjek Pajak S, yang merupakan warganegara dari Negara S. Prinsip non-diskriminasi ini berlaku dengan syarat kondisi antara Subjek Pajak D dan Subjek Pajak S adalah sama. Misalnya, sama-sama menjadi subjek pajak dalam negeri Negara S.

Diskriminasi pemajakan dapat diperkenankan apabila status subjek pajak antara Subjek Pajak D dan Subjek Pajak S berbeda. Yaitu, terkait perbedaan status antara subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri, bukan karena perbedaan warganegara.

Topik : P3B, tax treaty
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
0/1000
artikel terkait
Selasa, 13 September 2016 | 06:38 WIB
PAJAK INTERNASIONAL (4)
Rabu, 17 Mei 2017 | 14:45 WIB
BUKU PAJAK INTERNASIONAL
Selasa, 27 September 2016 | 05:37 WIB
PAJAK INTERNASIONAL (18)
Selasa, 28 Juni 2016 | 21:59 WIB
SERI PAJAK INTERNASIONAL
berita pilihan
Senin, 06 April 2020 | 07:05 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 06 April 2020 | 07:00 WIB
SAMBUTAN KETUM KADIN
Minggu, 05 April 2020 | 14:03 WIB
KAMUS DEFINISI PAJAK
Minggu, 05 April 2020 | 10:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 05 April 2020 | 09:00 WIB
SE 09/2020
Minggu, 05 April 2020 | 08:39 WIB
KELAS PPN
Minggu, 05 April 2020 | 08:05 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Minggu, 05 April 2020 | 08:00 WIB
PAJAK DIGITAL