Berita
Selasa, 14 Juli 2020 | 19:19 WIB
HARI PAJAK 14 JULI
Selasa, 14 Juli 2020 | 17:13 WIB
TPA MODUL RAS
Selasa, 14 Juli 2020 | 17:06 WIB
KABUPATEN MIMIKA
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:45 WIB
KAWASAN EKONOMI KHUSUS
Review
Selasa, 14 Juli 2020 | 14:35 WIB
DIREKTUR PENYULUHAN, PELAYANAN, DAN HUMAS DJP HESTU YOGA SAKSAMA:
Selasa, 14 Juli 2020 | 06:51 WIB
PERSPEKTIF
Sabtu, 11 Juli 2020 | 10:32 WIB
PERSPEKTIF
Rabu, 08 Juli 2020 | 06:06 WIB
PERSPEKTIF
Fokus
Data & alat
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:55 WIB
STATISTIK KINERJA PENERIMAAN PPN
Minggu, 12 Juli 2020 | 14:15 WIB
STATISTIK PERTUKARAN INFORMASI
Rabu, 08 Juli 2020 | 15:37 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 08 Juli 2020 | 08:29 WIB
KURS PAJAK 8 JULI - 14 JULI 2020
Reportase

Rilis Data Hari Ini Bakal Jadi Penentu Kenaikan Tarif Pajak Penjualan

A+
A-
1
A+
A-
1
Rilis Data Hari Ini Bakal Jadi Penentu Kenaikan Tarif Pajak Penjualan

Ilustrasi. (foto: Live Japan)

JAKARTA, DDTCNews – Tanda-tanda pelemahan ekonomi Jepang memicu kekhawatiran beberapa anggota parlemen atas rencana kenaikan pajak penjualan (sales tax). Kekhawatiran ini muncul karena kenaikan tarif sebelumnya telah menghambat pertumbuhan ekonomi dan menganggu karier politik.

Meskipun Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berjanji akan menaikkan tarif sales tax dari 8% menjadi 10% pada Oktober 2019, spekulasi perubahan rencana bermunculan menjelang pemilihan majelis tinggi pada Juli mendatang. Kenaikan ini, seperti diketahui, telah ditunda dua kali.

Data kinerja ekonomi kuartalan terbaru – akan dirilis pada hari ini, Senin (20/5/2019) – diperkirakan menjadi faktor terbesar yang akan memengaruhi keputusan PM Abe. Pertumbuhan ekonomi Jepang diproyeksi akan terkontraksi.

Baca Juga: Genjot Konsumsi, Pemerintah Siapkan Berbagai Keringanan Pajak

“20 Mei [2019] adalah hari penentuan. Jika PDB negatif, saya pikir penilaiannya akan sangat berubah. Di sisi lain, jika nol atau bahkan positif, mungkin sangat sulit untuk menundanya [kenaikan sales tax],” ujar Aoyama, seorang anggota dewan majelis tinggi dari Partai Demokrat Liberal Abe.

Data ekonomi yang buruk dapat menahan kenaikan tarif pajak penjualan, meskipun para menteri kukuh dengan kenaikan. Pendukung kenaikan tarif menegaskan penundaan lebih lanjut akan berisiko menurunkan peringkat kredit, sedangkan pihak lawan bersikukuh kenaikan itu akan mendistorsi perekonomian.

Seperti diketahui, Jepang secara bertahap meningkatkan pajak penjualan untuk mengendalikan utang yang membengkak dan tergolong paling besar di negara maju. Kondisi ini lebih banyak dipengaruhi dari sisi biaya jaminan sosial karena terkait dengan penuaan populasi.

Baca Juga: Negara Ini Bidik Jadi Pusat Keuangan Global Gantikan Hong Kong

Jepang secara bertahap meningkatkan pajak penjualan (sales tax) untuk mengendalikan utang yang membengkak menjadi yang terbesar di negara maju, sebagian karena biaya jaminan sosial yang terkait dengan populasi yang menua (aging population).

Namun demikian, dalam perkembangan ekonomi global saat ini, ada risiko yang muncul dari perang dagang Amerika Serikat—China dan ketegangan di Timur Tengah. Menurut Aoyama, tahun ini menjadi waktu yang sangat buruk untuk mengeksekusi kenaikan tarif pajak penjualan.

“Secara obyektif, lebih masuk akal untuk menunda pajak penjualan. [Kenaikan tarif pajak penjualan] ini pasti akan membebani konsumsi,” katanya, seperti dilansir FMT News.

Baca Juga: Potensi Relokasi Investasi dari China, BKPM Buat Satgas Khusus

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah surat kabar pada awal bulan ini menunjukkan sekitar 52% responden menentang kenaikan pajak penjualan. Porsi ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan survei pada Maret yang masih tercatat sebesar 47%. Adapun sebanyak 41% responden menyetujui kenaikan. Porsinya turun dari survei sebelumnya 45%.

Shouji Nishida yang juga anggota parlemen dari Partai Demokrat Liberal mengatakan menaikkan pajak sebelum Jepang lepas dari deflasi cenderung ‘tidak dapat dipahami’. Menurutnya, negara-negara dengan bank sentral dan utang dalam mata uang sendiri tidak perlu khawatir adanya pengeluaran yang berlebihan selama tidak menghasilkan inflasi yang tinggi. (kaw)

Baca Juga: Jepang Rilis P3B Hasil Modifikasi MLI, Bagaimana Indonesia?
Topik : Jepang, pajak penjualan, sales tax, PM Abe
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Minggu, 16 Februari 2020 | 16:09 WIB
JEPANG
Senin, 10 Februari 2020 | 20:30 WIB
MALAYSIA
Selasa, 21 Januari 2020 | 16:44 WIB
JEPANG
Senin, 23 Desember 2019 | 15:50 WIB
JEPANG
berita pilihan
Selasa, 14 Juli 2020 | 19:19 WIB
HARI PAJAK 14 JULI
Selasa, 14 Juli 2020 | 17:13 WIB
TPA MODUL RAS
Selasa, 14 Juli 2020 | 17:06 WIB
KABUPATEN MIMIKA
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:55 WIB
STATISTIK KINERJA PENERIMAAN PPN
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:45 WIB
KAWASAN EKONOMI KHUSUS
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:33 WIB
INSENTIF PAJAK
Selasa, 14 Juli 2020 | 16:13 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Selasa, 14 Juli 2020 | 15:47 WIB
EKONOMI DIGITAL
Selasa, 14 Juli 2020 | 15:45 WIB
KEBIJAKAN BEA MASUK
Selasa, 14 Juli 2020 | 15:28 WIB
INSENTIF PAJAK