Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

'Penduduk Miskin Harus Dilindungi dari Pajak'

A+
A-
1
A+
A-
1

Nelson Mandela

AIR muka lelaki tua itu tiba-tiba berubah. Senyum hangatnya hilang seketika saat menjawab pertanyaan. Suaranya dalam menggentarkan. “Kalaupun ini disebut reformasi pajak, mereka hanya memikirkan kepentingan warga kulit putih,” katanya di hadapan pers yang mewawancarainya di Capetown, seperti dicatat Associated Press, paruh Maret 1992.

Suasana Afrika Selatan kala itu memang masih gawat. Betul sistem apartheid sudah resmi dihapus pada 1990. Tapi provokasi tak kunjung reda. Di jalanan, sesekali masih ada kontak senjata, Bentrokan disertai kekerasan antara kelompok yang pro dan kontra pemerintah kulit putih juga belum sirna.

Di meja perundingan, pembicaraan antara wakil pemerintah dan African National Congress (ANC), partai politik penentang apartheid yang baru diakui pemerintah, juga tak banyak beranjak. Belum ada kesepakatan tentang pemilihan umum yang rencananya digelar pada 1994, termasuk bagaimana bentuk sekaligus sistem pemerintahan yang dihasilkannya kelak.

Baca Juga: Dewan Mineral Tolak Pajak Karbon

Di tengah situasi saling tunggu antarkelompok politik yang menegangkan itu, sekonyong-konyong pemerintah kulit putih berencana mengenakan pajak untuk bahan pokok. Susu, beras, kacang-kacangan, dan biji-bijian akan dikenakan pajak dengan tarif 10%, dan kebijakan itu efektif mulai 31 Maret 1992.

Pemerintah kulit putih Afrika Selatan yang dipimpin Presiden De Klerk berdalih, kebijakan tersebut merupakan bagian dari reformasi pajak yang sudah diawali dengan pengenaan pajak terhadap sejumlah barang dan jasa, termasuk alat kesehatan dan sejumlah bahan makanan, yang diterapkan secara nasional pada Oktober 1991.

“Pemerintah harus berkonsultasi dengan ANC sebelum memajaki bahan pokok,” tandas lelaki tua yang baru didaulat jadi pemimpin ANC tadi. “Pemerintah tidak sensitif terhadap kebutuhan warga kulit hitam. Penduduk miskin harus dilindungi dari pajak ini, meski jika kita menghancurkan ekonomi."

Baca Juga: Pengusaha Tambang Minta Pengenaan Pajak Karbon Ditunda

***

SIAPA yang tak gentar mendengar suara Nelson Rolihlahla Mandela (1918-2013), lelaki tua yang menghabiskan total 27 tahun masa hidupnya di penjara. Suaranya datang dari gelanggang orang-orang yang menanggung aniaya, yang dengan brutal memperlakukannya sebagai makhluk yang tak pantas dianggap setara.

Mandela, suara yang teraniaya itu, menegaskan bahwa pajak baru tersebut akan kian menyakiti penduduk miskin—yang saat kenaikan pajak pada Oktober sebelumnya sudah melakukan protes secara besar-besaran hingga menyebabkan perekonomian Afrika Selatan berhenti selama 2 hari.

Baca Juga: Kesal Korupsi Terus Berlangsung, Masyarakat Tahan Pembayaran Pajak

Karena itu, tandasnya, jika pajak baru tersebut tetap diberlakukan, protes yang digelar ANC kali ini akan jauh lebih masif dan lebih besar dari protes sebelumnya. Ia juga sudah mendapatkan konfirmasi, bahwa para pensiunan, terutama yang berkulit hitam, akan bergabung dengan protes ini.

“Pajak ini persoalan yang sangat mendasar. Jika pemerintah kulit putih ingin membuat kebijakan reformasi pajak dengan cara seperti mengenakan pajak baru untuk bahan pokok ini, mereka tidak hanya harus berkonsultasi dengan ANC. Mereka juga harus mendapatkan persetujuan kita semua,” tegas Mandela.

Kita tahu, 2 tahun setelah momentum demonstrasi besar akibat kebijakan pajak itu, ANC memenangi pemilu, dan pengagum Soekarno yang mencintai batik itu pun terpilih sebagai presiden pertama Afrika Selatan yang berkulit hitam, tetapi yang tanpa ragu memilih De Klerk sebagai wakil presiden sekaligus wakil pemerintah kulit putih lain menjadi anggota kabinetnya.

Baca Juga: 'Jika Mereka Mengeluh, Turunkan Tarifnya'

Berbekal mandat pemilu tersebut ia lalu menggelar program rekonsiliasi nasional, disusul program pengampunan pajak, yang keduanya sama-sama sukses besar. Sungguh, kita tahu apa hasilnya jika program semacam itu dilaksanakan atas dasar dan dengan semangat memaafkan sekaligus memerdekakan. Bukan dengan semangat menambal penerimaan.

Di meja perundingan, pembicaraan antara wakil pemerintah dan African National Congress (ANC), partai politik penentang apartheid yang baru diakui pemerintah, juga tak banyak beranjak. Belum ada kesepakatan tentang pemilihan umum yang rencananya digelar pada 1994, termasuk bagaimana bentuk sekaligus sistem pemerintahan yang dihasilkannya kelak.

Baca Juga: Dewan Mineral Tolak Pajak Karbon

Di tengah situasi saling tunggu antarkelompok politik yang menegangkan itu, sekonyong-konyong pemerintah kulit putih berencana mengenakan pajak untuk bahan pokok. Susu, beras, kacang-kacangan, dan biji-bijian akan dikenakan pajak dengan tarif 10%, dan kebijakan itu efektif mulai 31 Maret 1992.

Pemerintah kulit putih Afrika Selatan yang dipimpin Presiden De Klerk berdalih, kebijakan tersebut merupakan bagian dari reformasi pajak yang sudah diawali dengan pengenaan pajak terhadap sejumlah barang dan jasa, termasuk alat kesehatan dan sejumlah bahan makanan, yang diterapkan secara nasional pada Oktober 1991.

“Pemerintah harus berkonsultasi dengan ANC sebelum memajaki bahan pokok,” tandas lelaki tua yang baru didaulat jadi pemimpin ANC tadi. “Pemerintah tidak sensitif terhadap kebutuhan warga kulit hitam. Penduduk miskin harus dilindungi dari pajak ini, meski jika kita menghancurkan ekonomi."

Baca Juga: Pengusaha Tambang Minta Pengenaan Pajak Karbon Ditunda

***

SIAPA yang tak gentar mendengar suara Nelson Rolihlahla Mandela (1918-2013), lelaki tua yang menghabiskan total 27 tahun masa hidupnya di penjara. Suaranya datang dari gelanggang orang-orang yang menanggung aniaya, yang dengan brutal memperlakukannya sebagai makhluk yang tak pantas dianggap setara.

Mandela, suara yang teraniaya itu, menegaskan bahwa pajak baru tersebut akan kian menyakiti penduduk miskin—yang saat kenaikan pajak pada Oktober sebelumnya sudah melakukan protes secara besar-besaran hingga menyebabkan perekonomian Afrika Selatan berhenti selama 2 hari.

Baca Juga: Kesal Korupsi Terus Berlangsung, Masyarakat Tahan Pembayaran Pajak

Karena itu, tandasnya, jika pajak baru tersebut tetap diberlakukan, protes yang digelar ANC kali ini akan jauh lebih masif dan lebih besar dari protes sebelumnya. Ia juga sudah mendapatkan konfirmasi, bahwa para pensiunan, terutama yang berkulit hitam, akan bergabung dengan protes ini.

“Pajak ini persoalan yang sangat mendasar. Jika pemerintah kulit putih ingin membuat kebijakan reformasi pajak dengan cara seperti mengenakan pajak baru untuk bahan pokok ini, mereka tidak hanya harus berkonsultasi dengan ANC. Mereka juga harus mendapatkan persetujuan kita semua,” tegas Mandela.

Kita tahu, 2 tahun setelah momentum demonstrasi besar akibat kebijakan pajak itu, ANC memenangi pemilu, dan pengagum Soekarno yang mencintai batik itu pun terpilih sebagai presiden pertama Afrika Selatan yang berkulit hitam, tetapi yang tanpa ragu memilih De Klerk sebagai wakil presiden sekaligus wakil pemerintah kulit putih lain menjadi anggota kabinetnya.

Baca Juga: 'Jika Mereka Mengeluh, Turunkan Tarifnya'

Berbekal mandat pemilu tersebut ia lalu menggelar program rekonsiliasi nasional, disusul program pengampunan pajak, yang keduanya sama-sama sukses besar. Sungguh, kita tahu apa hasilnya jika program semacam itu dilaksanakan atas dasar dan dengan semangat memaafkan sekaligus memerdekakan. Bukan dengan semangat menambal penerimaan.

Topik : kutipan pajak, nelson mandela, afrika selatan
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 11 Desember 2017 | 06:05 WIB
GIFTY AGYEIWAA BADU
Kamis, 19 Mei 2016 | 08:22 WIB
JOHN MARSHALL:
Kamis, 26 Mei 2016 | 18:44 WIB
BENJAMIN FRANKLIN:
Rabu, 09 Agustus 2017 | 16:45 WIB
MUSTAFA KEMAL ATATURK:
berita pilihan
Jum'at, 08 November 2019 | 17:00 WIB
HO CHI MINH:
Kamis, 15 Agustus 2019 | 14:00 WIB
SAID AQIL SIRADJ:
Senin, 11 Desember 2017 | 06:05 WIB
GIFTY AGYEIWAA BADU
Jum'at, 25 Oktober 2019 | 15:58 WIB
BOEDIONO:
Rabu, 02 November 2016 | 19:30 WIB
THE BEATLES:
Kamis, 13 Juni 2019 | 16:22 WIB
TAN MALAKA:
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:
Senin, 02 Oktober 2017 | 14:02 WIB
LEE KUAN YEW:
Rabu, 01 Februari 2017 | 18:53 WIB
FRANKLIN D. ROOSEVELT: