Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Tarif Bea Masuk untuk Blok TPP Dipangkas

0
0

WASHINGTON, DDTCNews — Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana memangkas tarif dalam perdagangan dengan negara-negara blok ekonomi Trans Pacific Partner (TPP), sebagaimana diungkap dalam laporan yang dirilis United States Trade Commission (USITC), 18 Mei 2016 lalu.

Laporan tersebut menekankan TPP akan memengaruhi hubungan perdagangan dan ivestasi antara AS dan negara-negara Asia Pasifik di banyak sektor, terutama di industri dan kebijakan bunga konsumen AS, laporan dibuat atas permintaan United State Trade Representative untuk digunakan Bipartisan Congressional Trade Priorities dan Accountability Act 2015.

TPP merupakan kesepakatan perdagangan dan investasi yang bertujuan menghapuskan berbagai tarif perdagangan, ketentuan tarif kuota, dan batasan non-tarif lainnya yang berpotensi menghambat aktivitas perdagangan antar negara anggota.

Baca Juga: Kalah Banding, KAP Wajib Serahkan SPT Trump 8 Tahun Terakhir

TPP menjadi dasar penetapan aturan investasi, hak properti intelektual, pembelian oleh pemerintah, fasilitas bea dan cukai, standar sanitasi dan fitosanitasi, teknik pembatasan perdagangan, kebijakan kompetisi (persaingan antar negara), standar lingkungan dan pekerja, serta perdagangan barang tertentu.

Sebelumnya AS telah memiliki kesepakatan perdagangan bebas (FTA) dengan beberapa negara. Brunei, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, dan Vietnam merupakan negara TPP yang baru bergabung dalam FTA. Di tahun ke-15 (tahun 2032) lebih dari 99% tarif atas impor dari negara anggota FTA yang baru akan dihapus.

Di periode yang sama, lebih dari 98% tarif atas ekspor dari AS ke negara-negara TPP akan dihapus, sebenarnya nyaris semua tarif ekspor-impor AS akan dihapus seiring TPP diterapkan sepenuhnya pada tahun ke 30 (tahun 2047).

Baca Juga: Diduga Palsukan SKA, Ekspor Aluminium Rp60 Triliun Disita

USITC memperikirakan pemberlakuan TPP akan berdampak positif bagi perekonomian AS meski tidak signifikan, PDB AS di tahun ke-15 diprediksi mencapai US$ 42,7 miliar (0,15%) lebih tinggi, angka kerja diproyeksikan naik 0,07% (128.000 untuk pekerjaan penuh waktu).

Kegiatan ekspor AS juga diprediksi naik 1% atau sekitar US$27 miliar, impor akan mencapai kenaikan 1,1% atau sekitar US$ 48,9 miliar. Sedangkan ekspor AS ke negara-negara anggota FTA yang baru tumbuh 18,7% atau US$42,7 miliar, impor AS dari negara-negara tersebut naik 10,4% atau US$23,4 miliar.

Sektor pertanian dan pangan akan mendapatkan pengaruh positif paling besar, sektor jasa juga akan diuntungkan, sementara sektor manufaktur dan eksplorasi sumber daya alam dan energi seperti dikutip tax-news.com akan menurun jika dibandingkan sebelum adanya kesepakatan TPP. (Bsi)

Baca Juga: Soal Rencana Pemangkasan Pajak Capital Gain, Ini Sikap Terbaru Trump

TPP merupakan kesepakatan perdagangan dan investasi yang bertujuan menghapuskan berbagai tarif perdagangan, ketentuan tarif kuota, dan batasan non-tarif lainnya yang berpotensi menghambat aktivitas perdagangan antar negara anggota.

Baca Juga: Kalah Banding, KAP Wajib Serahkan SPT Trump 8 Tahun Terakhir

TPP menjadi dasar penetapan aturan investasi, hak properti intelektual, pembelian oleh pemerintah, fasilitas bea dan cukai, standar sanitasi dan fitosanitasi, teknik pembatasan perdagangan, kebijakan kompetisi (persaingan antar negara), standar lingkungan dan pekerja, serta perdagangan barang tertentu.

Sebelumnya AS telah memiliki kesepakatan perdagangan bebas (FTA) dengan beberapa negara. Brunei, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, dan Vietnam merupakan negara TPP yang baru bergabung dalam FTA. Di tahun ke-15 (tahun 2032) lebih dari 99% tarif atas impor dari negara anggota FTA yang baru akan dihapus.

Di periode yang sama, lebih dari 98% tarif atas ekspor dari AS ke negara-negara TPP akan dihapus, sebenarnya nyaris semua tarif ekspor-impor AS akan dihapus seiring TPP diterapkan sepenuhnya pada tahun ke 30 (tahun 2047).

Baca Juga: Diduga Palsukan SKA, Ekspor Aluminium Rp60 Triliun Disita

USITC memperikirakan pemberlakuan TPP akan berdampak positif bagi perekonomian AS meski tidak signifikan, PDB AS di tahun ke-15 diprediksi mencapai US$ 42,7 miliar (0,15%) lebih tinggi, angka kerja diproyeksikan naik 0,07% (128.000 untuk pekerjaan penuh waktu).

Kegiatan ekspor AS juga diprediksi naik 1% atau sekitar US$27 miliar, impor akan mencapai kenaikan 1,1% atau sekitar US$ 48,9 miliar. Sedangkan ekspor AS ke negara-negara anggota FTA yang baru tumbuh 18,7% atau US$42,7 miliar, impor AS dari negara-negara tersebut naik 10,4% atau US$23,4 miliar.

Sektor pertanian dan pangan akan mendapatkan pengaruh positif paling besar, sektor jasa juga akan diuntungkan, sementara sektor manufaktur dan eksplorasi sumber daya alam dan energi seperti dikutip tax-news.com akan menurun jika dibandingkan sebelum adanya kesepakatan TPP. (Bsi)

Baca Juga: Soal Rencana Pemangkasan Pajak Capital Gain, Ini Sikap Terbaru Trump
Topik : TPP, Amerika Serikat
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Selasa, 12 November 2019 | 15:38 WIB
LAPORAN PER NEGARA
Senin, 11 November 2019 | 10:42 WIB
EKONOMI DIGITAL
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA