Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Peritel Terkemuka Desak Parlemen Segera Setujui Pemangkasan Pajak

2
2

Ilustrasi. (foto: theinvestor)

JAKARTA, DDTCNews – Miliarder sekaligus peritel terkemuka Salomon Lew meminta agar Parlemen Australia berhenti melakukan permainan politik yang ‘tidak bertanggung jawab’ dan segera meloloskan paket pajak pemerintah.

Pemangkasan pajak, menurutnya, sangat dibutuhkan saat kepercayaan konsumen rendah. Kondisi ini akan belanja rumah tangga cenderung lemah. Hal tersebut pada gilirannya memberi efek negatif pada aktivitas perekonomian secara menyeluruh.

“Rendahnya kepercayaan konsumen akan merugikan sektor ritel yang mempekerjakan 1,3 juta orang. Tidak bertanggung jawab jika memainkan permainan politik dengan kemakmuran negara,” tegasnya, seperti dikutip pada Jumat (21/6/2019).

Baca Juga: Pemerintah Tawarkan ST006 dengan Imbal Hasil 6,75%, Tertarik?

Menurutnya, seluruh pihak hanya perlu melihat beberapa faktor yang memengaruhi tertahannnya konsumsi rumah tangga. Beberapa diantaranya terkait dengan turunnya nilai properti dan naiknya biaya hidup, terutama terkait tagihan energi.

Sekadar informasi, Lew merupakan ketua dan pemegang saham terbesar Premier Investments—yang memiliki serangkaian merek ritel besar termasuk Just Jeans, Smiggle, Peter Alexander dan Portmans. Premier Investments memiliki 10,8% saham di pemilik department store Myer yang sedang kesulitan.

Seperti diketahui, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison telah menekan oposisi untuk mendukung serangkaian pemotongan pajak penuh. Partai Labor sejauh ini dihambat untuk mendukung tahap akhir paket yang akan memberikan potongan pajak penghasilan orang berpenghasilan tinggi pada 2024.

Baca Juga: Imbal Hasil ORI016 Lebih Rendah, Ini Penjelasan Kemenkeu

Lew mengatakan ekonomi membutuhkan langkah-langkah yang memuat stimulus pada saat ini. Pemilihan federal telah berakhir. Dengan demikian, menurutnya, saatnya ada upaya untuk menerapkan kebijakan kunci yang berdampak positif bagi rakyat.

Gerry Harvey Pendiri Harvey Norman mengatakan semua pengecer akan berharap Partai Labor untuk meloloskan pemotongan pajak. Dia tidak berekspektasi banyak dampak yang dimunculkan dari pemotongan pajak tersebut terhadap belanja ritel. Namun, ada efek materiel yang masih bisa diharapkan.

“Saya tidak berpikir ada keraguan Labor ... itu semua sedikit politik. Jika pemotongan besar, itu akan membantu merangsang ekonomi dan belanja ritel,” jelasnya, seperti dilansir Sidney Morning Herald.

Baca Juga: Tawarkan ORI016, Praktisi: Bayar Pajak Saja Tidak Cukup

Omzet ritel Australia turun 0,1% pada April. Ekonom baru-baru ini memperingatkan sektor ritel menghadapi kondisi seperti resesi. Selain itu, ada peningkatan pengangguran yang direspons Reserve Bank of Australia melalui pemangkasan suku bunga. (kaw)

“Rendahnya kepercayaan konsumen akan merugikan sektor ritel yang mempekerjakan 1,3 juta orang. Tidak bertanggung jawab jika memainkan permainan politik dengan kemakmuran negara,” tegasnya, seperti dikutip pada Jumat (21/6/2019).

Baca Juga: Pemerintah Tawarkan ST006 dengan Imbal Hasil 6,75%, Tertarik?

Menurutnya, seluruh pihak hanya perlu melihat beberapa faktor yang memengaruhi tertahannnya konsumsi rumah tangga. Beberapa diantaranya terkait dengan turunnya nilai properti dan naiknya biaya hidup, terutama terkait tagihan energi.

Sekadar informasi, Lew merupakan ketua dan pemegang saham terbesar Premier Investments—yang memiliki serangkaian merek ritel besar termasuk Just Jeans, Smiggle, Peter Alexander dan Portmans. Premier Investments memiliki 10,8% saham di pemilik department store Myer yang sedang kesulitan.

Seperti diketahui, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison telah menekan oposisi untuk mendukung serangkaian pemotongan pajak penuh. Partai Labor sejauh ini dihambat untuk mendukung tahap akhir paket yang akan memberikan potongan pajak penghasilan orang berpenghasilan tinggi pada 2024.

Baca Juga: Imbal Hasil ORI016 Lebih Rendah, Ini Penjelasan Kemenkeu

Lew mengatakan ekonomi membutuhkan langkah-langkah yang memuat stimulus pada saat ini. Pemilihan federal telah berakhir. Dengan demikian, menurutnya, saatnya ada upaya untuk menerapkan kebijakan kunci yang berdampak positif bagi rakyat.

Gerry Harvey Pendiri Harvey Norman mengatakan semua pengecer akan berharap Partai Labor untuk meloloskan pemotongan pajak. Dia tidak berekspektasi banyak dampak yang dimunculkan dari pemotongan pajak tersebut terhadap belanja ritel. Namun, ada efek materiel yang masih bisa diharapkan.

“Saya tidak berpikir ada keraguan Labor ... itu semua sedikit politik. Jika pemotongan besar, itu akan membantu merangsang ekonomi dan belanja ritel,” jelasnya, seperti dilansir Sidney Morning Herald.

Baca Juga: Tawarkan ORI016, Praktisi: Bayar Pajak Saja Tidak Cukup

Omzet ritel Australia turun 0,1% pada April. Ekonom baru-baru ini memperingatkan sektor ritel menghadapi kondisi seperti resesi. Selain itu, ada peningkatan pengangguran yang direspons Reserve Bank of Australia melalui pemangkasan suku bunga. (kaw)

Topik : Australia, ritel
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
berita pilihan
Minggu, 17 November 2019 | 15:25 WIB
PRANCIS
Sabtu, 16 November 2019 | 18:05 WIB
PEMILU AS
Jum'at, 15 November 2019 | 17:25 WIB
BELANDA
Jum'at, 15 November 2019 | 16:01 WIB
JERMAN
Kamis, 14 November 2019 | 19:22 WIB
FILIPINA
Kamis, 14 November 2019 | 11:14 WIB
UNI EROPA
Rabu, 13 November 2019 | 13:40 WIB
SINGAPURA
Selasa, 12 November 2019 | 15:38 WIB
LAPORAN PER NEGARA
Selasa, 12 November 2019 | 11:07 WIB
TURKI
Senin, 11 November 2019 | 16:15 WIB
PRANCIS