Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

IMFC Sepakati Percepatan Modernisasi Sistem Pajak Internasional

1
1

Pertemuan ke-39 IMFC. (foto: IMF)

JAKARTA, DDTCNews – International Monetary and Financial Committee (IMFC) akan mempercepat pekerjaan untuk memformulasikan sistem pajak internasional yang adil dan modern secara global.

Ini menjadi salah satu rencana tindakan yang disepakati untuk memperkuat kerja sama dan kerangka kerja (frameworks) internasional. Kesepakatan ini telah dituangkan dalam Communiqué pertemuan ke-39 IMFC yang dipimpin langsung oleh Gubernur South African Reserve Bank Lesetja Kganyago.

Selain percepatan pekerjaan untuk sistem perpajakan internasional yang adil dan modern secara global, IMFC menyepakati untuk mengatasi persaingan pajak yang merugikan. IMF juga akan mengatasi pengalihan keuntungan artifisial dan tantangan pajak lain seperti digitalisasi.

Baca Juga: Ini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2019 Versi BI

“Kami menantikan hasil secepatnya,” demikian bunyi salah satu kesepakatan dalam Communiqué yang dihasilkan dalam rangkaianSpring Meeting IMF-World Bank tersebut, seperti dikutip pada Senin (15/4/2019).

Masih berkaitan dengan hal itu, IMFC menyepakati penanganan sumber dan saluran pencucian uang, pendanaan terorisme, pembiayaan proliferasi, serta keuangan ilegal lainnya. Mereka pun berencana membahas penarikan hubungan perbankan koresponden serta konsekuensinya yang merugikan.

Seperti diketahui, IMFC bertugas memberikan nasihat dan laporan kepada IMF Board of Governors tentang pengawasan dan pengelolaan sistem moneter serta keuangan internasional. Tanggapan terhadap peristiwa yang tengah berlangsung dan dapat mengganggu sistem juga diberikan.

Baca Juga: Kapasitas Produksi Dinaikkan, Setoran Pajak Bakal Terkerek

Kesepakatan yang dibuat IMFC ini tidak terlepas dari pernyataan Managing Director IMF Christine Lagarde sebelumnya yang mengatakan bahwa arsitektur pajak, terutama pajak korporasi, internasional saat ini sudah ketinggalan zaman.

Selain menyepakati soal modernisasi sistem pajak internasional, masih dalam konteks memperkuat kerja sama dan kerangka kerja, IMFC menyepakati kerja sama untuk mengurangi ketidakseimbangan global yang berlebihan. Langkah ini dtempuh melalui kebijakan makroekonomi dan struktural yang mendukung pertumbuhan global yang berkelanjutan.

IMFC juga menyoroti bahwa perdagangan dan investasi yang bebas, adil, dan saling menguntungkan merupakan mesin utama untuk pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja. Dalam konteks ini, IMFC menyadari perlunya penyelesaian ketegangan perdagangan (perang dagang).

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan 5,6%, Butuh Investasi Rp5.800 triliun 

“Dan mendukung reformasi yang diperlukan oleh World Trade Organization untuk meningkatkan fungsinya,” imbuh IMFC dalamCommuniqué tersebut.

IMFC juga bekerja sama untuk meningkatkan transparansi utang dan praktik pembiayaan berkelanjutan baik menyangkut debitur dan kreditor maupun publik dan swasta. Mereka pun ingin memperkuat koordinasi kreditor dalam restrukturisasi utang.

Mereka pun menyadari tindakan bersama juga penting untuk menghadapi tantangan global yang lebih luas. IMFC akan terus mendukung upaya negara dan internasional untuk membangun ketahanan dalam menangani konsekuensi ekonomi makro, risiko dunia maya, perubahan iklim dan bencana alam, kelangkaan energi, konflik, migrasi, dan pengungsi.

Baca Juga: Pemerintah Asumsikan Ekonomi Tumbuh Hingga 5,6% Tahun Depan

“Kami juga akan terus berkolaborasi untuk memanfaatkan teknologi keuangan sambil mengatasi tantangan terkait, termasuk dari privasi dan keamanan data dan masalah fragmentasi. Kami mendukung upaya menuju pencapaian SDGs 2030,” jelasnya. (kaw)

Selain percepatan pekerjaan untuk sistem perpajakan internasional yang adil dan modern secara global, IMFC menyepakati untuk mengatasi persaingan pajak yang merugikan. IMF juga akan mengatasi pengalihan keuntungan artifisial dan tantangan pajak lain seperti digitalisasi.

Baca Juga: Ini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2019 Versi BI

“Kami menantikan hasil secepatnya,” demikian bunyi salah satu kesepakatan dalam Communiqué yang dihasilkan dalam rangkaianSpring Meeting IMF-World Bank tersebut, seperti dikutip pada Senin (15/4/2019).

Masih berkaitan dengan hal itu, IMFC menyepakati penanganan sumber dan saluran pencucian uang, pendanaan terorisme, pembiayaan proliferasi, serta keuangan ilegal lainnya. Mereka pun berencana membahas penarikan hubungan perbankan koresponden serta konsekuensinya yang merugikan.

Seperti diketahui, IMFC bertugas memberikan nasihat dan laporan kepada IMF Board of Governors tentang pengawasan dan pengelolaan sistem moneter serta keuangan internasional. Tanggapan terhadap peristiwa yang tengah berlangsung dan dapat mengganggu sistem juga diberikan.

Baca Juga: Kapasitas Produksi Dinaikkan, Setoran Pajak Bakal Terkerek

Kesepakatan yang dibuat IMFC ini tidak terlepas dari pernyataan Managing Director IMF Christine Lagarde sebelumnya yang mengatakan bahwa arsitektur pajak, terutama pajak korporasi, internasional saat ini sudah ketinggalan zaman.

Selain menyepakati soal modernisasi sistem pajak internasional, masih dalam konteks memperkuat kerja sama dan kerangka kerja, IMFC menyepakati kerja sama untuk mengurangi ketidakseimbangan global yang berlebihan. Langkah ini dtempuh melalui kebijakan makroekonomi dan struktural yang mendukung pertumbuhan global yang berkelanjutan.

IMFC juga menyoroti bahwa perdagangan dan investasi yang bebas, adil, dan saling menguntungkan merupakan mesin utama untuk pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja. Dalam konteks ini, IMFC menyadari perlunya penyelesaian ketegangan perdagangan (perang dagang).

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan 5,6%, Butuh Investasi Rp5.800 triliun 

“Dan mendukung reformasi yang diperlukan oleh World Trade Organization untuk meningkatkan fungsinya,” imbuh IMFC dalamCommuniqué tersebut.

IMFC juga bekerja sama untuk meningkatkan transparansi utang dan praktik pembiayaan berkelanjutan baik menyangkut debitur dan kreditor maupun publik dan swasta. Mereka pun ingin memperkuat koordinasi kreditor dalam restrukturisasi utang.

Mereka pun menyadari tindakan bersama juga penting untuk menghadapi tantangan global yang lebih luas. IMFC akan terus mendukung upaya negara dan internasional untuk membangun ketahanan dalam menangani konsekuensi ekonomi makro, risiko dunia maya, perubahan iklim dan bencana alam, kelangkaan energi, konflik, migrasi, dan pengungsi.

Baca Juga: Pemerintah Asumsikan Ekonomi Tumbuh Hingga 5,6% Tahun Depan

“Kami juga akan terus berkolaborasi untuk memanfaatkan teknologi keuangan sambil mengatasi tantangan terkait, termasuk dari privasi dan keamanan data dan masalah fragmentasi. Kami mendukung upaya menuju pencapaian SDGs 2030,” jelasnya. (kaw)

Topik : IMF, Christine Lagarde, pajak korporasi, perang dagang, pertumbuhan ekonomi, IMFC
artikel terkait
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Senin, 29 Agustus 2016 | 11:02 WIB
INGGRIS
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 28 Maret 2019 | 16:54 WIB
SELANDIA BARU
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA
Kamis, 05 Juli 2018 | 10:45 WIB
NIKARAGUA
Kamis, 15 November 2018 | 14:19 WIB
BULGARIA
Rabu, 01 Maret 2017 | 12:15 WIB
MALAYSIA