Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Hingga Surat Ke-7, Facebook Tak Penuhi Panggilan IRS

0
0

SAN FRANSISCO, DDTCNews – Petinggi Facebook tidak kunjung menunjukkan dirinya setelah Internal Revenue Services (IRS) mengirim 7 surat panggilan kepada perusahaan media sosial ini.

Surat panggilan yang dilayangkan IRS itu meminta Facebook untuk memberikan catatan internal perusahaan atas strategi pajak atas perusahaan yang didirikan di luar negeri yang diterapkan oleh Facebook. Hal ini sesuai dengan tuntutan IRS beberapa waktu lalu.

“Kami sedang memeriksa hutang pajak penghasilan Facebook untuk periode yang berakhir 31 Desember 2010. Selain itu, kami juga memeriksa apakah perusahaan menurunkan nilai aset tidak berwujudnya atas transfer ke anak perusahaan di negara rendah pajak, Irlandia,” ujar salah satu juru bicara IRS.

Baca Juga: Iklan Facebook Sudah Kena Pajak 18%

Facebook memang memberikan beberapa dokumennya kepada otoritas pajak, namun mereka tidak memberikan buku, catatan, papers, dan data lainnya yang diminta dalam ketujuh surat panggilan. Selain dokumen, IRS juga sebenarnya meminta Facebook untuk datang ke kantor IRS di San Jose pada 29 Juni lalu.

Seperti perusahaan multinasional dengan aset intelektual lainnya, Facebook membuat persetujuan pembagian biaya dengan anak perusahaannya di luar negeri atas penggunaan aset tersebut. Selain itu, seperti dikutip bloomberg.com, Facebook dan anaknya juga diduga secara bersama-sama mengatur penentuan harga transaksi.

Dengan melakukan transfer haknya kepada anak perusahaan di Irlandia, Facebook dapat mengalokasikan penghasilannya yang diterima di negara dengan tarif pajak tinggi ke negara dengan tarif pajak yang lebih rendah.

Baca Juga: Awasi E-Commerce di Medsos, DJP Bakal Gaet Google & Facebook

Sebagai catatan, tarif pajak penghasilan badan di Inggris adalah sebesar 12,5%, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 35%. "IRS juga telah berusaha memeriksa SPT Facebook tahun 2010 yang menunjukkan adanya pendekatan bermasalah yang dilakukan terhadap aset intelektual tersebut," katanya. (Amu)

“Kami sedang memeriksa hutang pajak penghasilan Facebook untuk periode yang berakhir 31 Desember 2010. Selain itu, kami juga memeriksa apakah perusahaan menurunkan nilai aset tidak berwujudnya atas transfer ke anak perusahaan di negara rendah pajak, Irlandia,” ujar salah satu juru bicara IRS.

Baca Juga: Iklan Facebook Sudah Kena Pajak 18%

Facebook memang memberikan beberapa dokumennya kepada otoritas pajak, namun mereka tidak memberikan buku, catatan, papers, dan data lainnya yang diminta dalam ketujuh surat panggilan. Selain dokumen, IRS juga sebenarnya meminta Facebook untuk datang ke kantor IRS di San Jose pada 29 Juni lalu.

Seperti perusahaan multinasional dengan aset intelektual lainnya, Facebook membuat persetujuan pembagian biaya dengan anak perusahaannya di luar negeri atas penggunaan aset tersebut. Selain itu, seperti dikutip bloomberg.com, Facebook dan anaknya juga diduga secara bersama-sama mengatur penentuan harga transaksi.

Dengan melakukan transfer haknya kepada anak perusahaan di Irlandia, Facebook dapat mengalokasikan penghasilannya yang diterima di negara dengan tarif pajak tinggi ke negara dengan tarif pajak yang lebih rendah.

Baca Juga: Awasi E-Commerce di Medsos, DJP Bakal Gaet Google & Facebook

Sebagai catatan, tarif pajak penghasilan badan di Inggris adalah sebesar 12,5%, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 35%. "IRS juga telah berusaha memeriksa SPT Facebook tahun 2010 yang menunjukkan adanya pendekatan bermasalah yang dilakukan terhadap aset intelektual tersebut," katanya. (Amu)

Topik : facebook, irs, kasus pajak
artikel terkait
Kamis, 15 September 2016 | 06:02 WIB
ZIMBABWE
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Senin, 30 Mei 2016 | 11:39 WIB
ZAMBIA
berita pilihan
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
Kamis, 08 Juni 2017 | 16:55 WIB
BANGLADESH
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 12:01 WIB
ITALIA
Kamis, 30 Maret 2017 | 11:35 WIB
INDIA
Jum'at, 14 Juli 2017 | 09:33 WIB
PRANCIS
Kamis, 08 Juni 2017 | 18:36 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Jum'at, 05 Mei 2017 | 11:39 WIB
ITALIA