Review
Kamis, 01 Desember 2022 | 16:52 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 30 November 2022 | 11:27 WIB
OPINI PAJAK
Selasa, 29 November 2022 | 15:48 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 24 November 2022 | 09:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Senin, 05 Desember 2022 | 18:00 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 05 Desember 2022 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 02 Desember 2022 | 21:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 02 Desember 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Jum'at, 02 Desember 2022 | 12:00 WIB
KMK 63/2022
Rabu, 30 November 2022 | 10:11 WIB
KURS PAJAK 30 NOVEMBER - 06 DESEMBER 2022
Rabu, 23 November 2022 | 10:00 WIB
KURS PAJAK 23 NOVEMBER - 29 NOVEMBER 2022
Rabu, 16 November 2022 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 16 NOVEMBER - 22 NOVEMBER 2022
Komunitas
Senin, 05 Desember 2022 | 09:00 WIB
SEKRETARIS I PERTAPSI CHRISTINE TJEN:
Minggu, 04 Desember 2022 | 07:40 WIB
WAKIL KETUA I PERTAPSI TITI MUSWATI PUTRANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 09:34 WIB
KETUA BIDANG KERJA SAMA PERTAPSI BENY SUSANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 07:30 WIB
SELEBRITAS
Reportase

'Seperti Mencabut Bulu Angsa'

A+
A-
3
A+
A-
3
'Seperti Mencabut Bulu Angsa'

Jean-Baptiste Colbert.

PERANCIS pada abad ke-17 adalah sebuah noktah yang resah. Wilayah ini baru selesai dari perang agama yang melelahkan, antara Protestan dan Katolik. Namun, kekuatan-kekuatan Eropa saat itu sudah mulai menyebar ke seantero dunia seiring pasangnya gelombang merkantilisme.

Inggris sudah menguasai Amerika Utara dan Amerika Selatan, juga India dan Spanyol. Belanda juga memiliki daerah kekuasaan di sebagian India, dan Hindia Timur. Perancis sendiri sudah mulai menjajah sebagian kawasan Amerika Utara, dan sejumlah pulau di Laut Karibia.

Dalam suasana seperti itulah, di Reims, kota 130 km di sisi timur Paris, Jean-Baptiste Colbert lahir. Ayahnya seorang pedagang. Pada usia 10 tahun, saat masih bersekolah di asrama Jesuit, keluarganya pindah ke Paris, mengikuti ayahnya yang ditarik bekerja oleh sebuah bank.

Baca Juga: 'Belanda Tidak Punya Hak Lagi atas Indonesia'

Setelah lulus, ayahnya mengirimnya ke Lyon, kota lain 470 km di sisi tenggara Paris, untuk magang di sebuah bank. Pada usia 21 tahun, ayahnya memasukkannya ke kantor negara bagian. Colbertpun menjadi birokrat, hingga akhirnya menjadi Menteri Keuangan Perancis.

Di bawah kekuasaan Raja Louis XIV, Menkeu Colbert terus mendorong merkantilisme Perancis. Ia meningkatkan industri manufaktur, membatasi impor dan mendorong ekspor, hingga memperbesar koloni dan membalikkan neraca perdagangan menjadi positif.

Tujuan merkantilisme itu tidak lain adalah untuk meningkatkan penerimaan negara. Karena itu, pada saat yang sama Colbert juga memulai reformasi pajak warisan abad pertengahan. Ia menata kembali struktur penerimaan pajak dan memperbaiki administrasinya.

Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Ia mengenakan pajak pada kaum bangsawan, sekaligus menarik piutang pemerintah yang telanjur diberikan ke kaum petani. “The art of taxation is the art of plucking the goose so as to get the largest possible amount of feathers with the least possible squealing,” katanya.

Untuk menyukseskan reformasi pajaknya, Colbert menyebarluaskan gagasan bahwa kekayaan dan ekonomi Perancis harus diarahkan untuk melayani negara. Karena itu, intervensi negara dibutuhkan untuk dapat mengamankan bagian terbesar dari sumberdaya ekonomi yang terbatas.

Colbert memimpin kebijakan ekonomi Perancis di bawah kekuasaan Raja Louis XIV dari 1661-1683. Ia percaya pada doktrin merkantilisme bahwa perluasan perdagangan dan pemeliharaan keseimbangan perdagangan yang menguntungkan adalah kunci kekayaan negara.

Baca Juga: 'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

Kebijakannya—yang kemudian dikenal sebagai Colbertisme—semuanya mengarah ke situ. Menkeu Colbert juga mendirikan kamar dagang, mengalihkan modal ke industri substitusi ekspor dan impor, membuat sistem proteksi tarif dan bea, serta menghalangi orang asing berdagang di daerah koloni.

Sayangnya, Colbert tidak tertarik pada perdagangan domestik. Menurutnya, sektor tersebut tidak menghasilkan apa pun bagi kekayaan negara. Pembatasan dan tarif domestik pergerakan barang dan tenaga kerja antardaerah tetap diberlakukan. Sistem pajak Perancis yang sangat regresif diperkuat.

Di sisi lain, sejalan dengan keinginan Colbert menggenjot ekspor terutama industri minuman anggur, terjadi perubahan pola sekaligus persaingan penggunaan lahan kering. Akibatnya, beberapa daerah di Perancis pun nyaris mengalami kekurangan bahan pangan.

Baca Juga: 'Saya Harus Memberi Contoh Demokrasi'

Dari situlah paradoks Colbertisme muncul. Sistem ekonomi itu menghasilkan ekonomi berorientasi ekspor yang progresif, tetapi pada saat yang sama membiarkan ekonomi domestik stagnan. Paradoks inilah yang memicu kritik perlunya dilakukan reformasi sistem fiskal dan komersial oleh Colbert.

Akan tetapi, Colbertisme itu terus bertahan di Prancis sampai abad ke 18. Hingga pada masa Menkeu Anne Robert Jacques Turgot—yang sebagian referensi menulis dialah yang mengatakan kutipan tadi—sebagian besar sistem Colbertisme itu akhirnya dibongkar.

Namun, reformasi Turgot itu terlalu kecil dan terlambat. Ketegangan yang diciptakan oleh paradoks Colbertisme, juga ketidakmampuan penerus Colbert memperbaikinya, adalah salah satu penyebab mendasar, jika bukan penyebab utama, Revolusi Perancis 1789. (Bsi)

Baca Juga: 'Pajak dalam Bentuk Barang Hanyalah Transisi'

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : kutipan pajak, merkantilisme, Colbertisme, Jean-Baptiste Colbert, Revolusi Perancis

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:

'Seperti Berdiri di Ember dan Mengangkat Diri dengan Gagangnya'

Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:

'Pajak Ini Menyalahi Adat'

Selasa, 12 Februari 2019 | 14:32 WIB
HAJI WASID:

'Pajak Lahan, Kepala dan Perdagangan Harus Dihapuskan'

Senin, 21 Januari 2019 | 18:34 WIB
ABU YUSUF:

'Pajak Hanya untuk Harta yang Melebihi Kebutuhan'

berita pilihan

Senin, 05 Desember 2022 | 21:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Penerapan Exit Tax Bisa Menahan Gerusan Basis Pajak, Ini Analisisnya

Senin, 05 Desember 2022 | 19:18 WIB
PMK 175/2022

Ada Perubahan Ketentuan Soal Penyelenggara Sertifikasi Konsultan Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 18:37 WIB
PMK 175/2022

Sri Mulyani Terbitkan Peraturan Baru Soal Konsultan Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 18:01 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Salah Isi NPWP dan Nama Wajib Pajak dalam SSP? Bisa Pbk

Senin, 05 Desember 2022 | 18:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Business Intelligence dalam Ranah Pajak?

Senin, 05 Desember 2022 | 17:39 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Ingat! Kepatuhan Wajib Pajak Diawasi DJP, Begini Penjelasannya

Senin, 05 Desember 2022 | 17:30 WIB
PER-13/BC/2021

Daftar IMEI Bisa di Kantor Bea Cukai tapi Tak Dapat Pembebasan US$500

Senin, 05 Desember 2022 | 17:00 WIB
KP2KP SANANA

Dapat SP2DK, Pengusaha Pengolahan Ikan Tuna Datangi Kantor Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 16:51 WIB
KINERJA FISKAL DAERAH

Sisa Sebulan, Mendagri Minta Pemda Genjot Pendapatan Daerah

Senin, 05 Desember 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA SUKOHARJO

Data e-Faktur Hilang, Begini Solusi dari Ditjen Pajak