Fokus
Literasi
Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Selasa, 16 Agustus 2022 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 15 Agustus 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Senin, 15 Agustus 2022 | 12:45 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 17 Agustus 2022 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 AGUSTUS - 23 AGUSTUS 2022
Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:07 WIB
KURS PAJAK 10 AGUSTUS - 16 AGUSTUS 2022
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 3 AGUSTUS - 9 AGUSTUS 2022
Senin, 01 Agustus 2022 | 16:00 WIB
KMK 39/2022
Reportase

'Seperti Mencabut Bulu Angsa'

A+
A-
2
A+
A-
2
'Seperti Mencabut Bulu Angsa'

Jean-Baptiste Colbert.

PERANCIS pada abad ke-17 adalah sebuah noktah yang resah. Wilayah ini baru selesai dari perang agama yang melelahkan, antara Protestan dan Katolik. Namun, kekuatan-kekuatan Eropa saat itu sudah mulai menyebar ke seantero dunia seiring pasangnya gelombang merkantilisme.

Inggris sudah menguasai Amerika Utara dan Amerika Selatan, juga India dan Spanyol. Belanda juga memiliki daerah kekuasaan di sebagian India, dan Hindia Timur. Perancis sendiri sudah mulai menjajah sebagian kawasan Amerika Utara, dan sejumlah pulau di Laut Karibia.

Dalam suasana seperti itulah, di Reims, kota 130 km di sisi timur Paris, Jean-Baptiste Colbert lahir. Ayahnya seorang pedagang. Pada usia 10 tahun, saat masih bersekolah di asrama Jesuit, keluarganya pindah ke Paris, mengikuti ayahnya yang ditarik bekerja oleh sebuah bank.

Baca Juga: 'Belanda Tidak Punya Hak Lagi atas Indonesia'

Setelah lulus, ayahnya mengirimnya ke Lyon, kota lain 470 km di sisi tenggara Paris, untuk magang di sebuah bank. Pada usia 21 tahun, ayahnya memasukkannya ke kantor negara bagian. Colbertpun menjadi birokrat, hingga akhirnya menjadi Menteri Keuangan Perancis.

Di bawah kekuasaan Raja Louis XIV, Menkeu Colbert terus mendorong merkantilisme Perancis. Ia meningkatkan industri manufaktur, membatasi impor dan mendorong ekspor, hingga memperbesar koloni dan membalikkan neraca perdagangan menjadi positif.

Tujuan merkantilisme itu tidak lain adalah untuk meningkatkan penerimaan negara. Karena itu, pada saat yang sama Colbert juga memulai reformasi pajak warisan abad pertengahan. Ia menata kembali struktur penerimaan pajak dan memperbaiki administrasinya.

Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Ia mengenakan pajak pada kaum bangsawan, sekaligus menarik piutang pemerintah yang telanjur diberikan ke kaum petani. “The art of taxation is the art of plucking the goose so as to get the largest possible amount of feathers with the least possible squealing,” katanya.

Untuk menyukseskan reformasi pajaknya, Colbert menyebarluaskan gagasan bahwa kekayaan dan ekonomi Perancis harus diarahkan untuk melayani negara. Karena itu, intervensi negara dibutuhkan untuk dapat mengamankan bagian terbesar dari sumberdaya ekonomi yang terbatas.

Colbert memimpin kebijakan ekonomi Perancis di bawah kekuasaan Raja Louis XIV dari 1661-1683. Ia percaya pada doktrin merkantilisme bahwa perluasan perdagangan dan pemeliharaan keseimbangan perdagangan yang menguntungkan adalah kunci kekayaan negara.

Baca Juga: 'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

Kebijakannya—yang kemudian dikenal sebagai Colbertisme—semuanya mengarah ke situ. Menkeu Colbert juga mendirikan kamar dagang, mengalihkan modal ke industri substitusi ekspor dan impor, membuat sistem proteksi tarif dan bea, serta menghalangi orang asing berdagang di daerah koloni.

Sayangnya, Colbert tidak tertarik pada perdagangan domestik. Menurutnya, sektor tersebut tidak menghasilkan apa pun bagi kekayaan negara. Pembatasan dan tarif domestik pergerakan barang dan tenaga kerja antardaerah tetap diberlakukan. Sistem pajak Perancis yang sangat regresif diperkuat.

Di sisi lain, sejalan dengan keinginan Colbert menggenjot ekspor terutama industri minuman anggur, terjadi perubahan pola sekaligus persaingan penggunaan lahan kering. Akibatnya, beberapa daerah di Perancis pun nyaris mengalami kekurangan bahan pangan.

Baca Juga: 'Saya Harus Memberi Contoh Demokrasi'

Dari situlah paradoks Colbertisme muncul. Sistem ekonomi itu menghasilkan ekonomi berorientasi ekspor yang progresif, tetapi pada saat yang sama membiarkan ekonomi domestik stagnan. Paradoks inilah yang memicu kritik perlunya dilakukan reformasi sistem fiskal dan komersial oleh Colbert.

Akan tetapi, Colbertisme itu terus bertahan di Prancis sampai abad ke 18. Hingga pada masa Menkeu Anne Robert Jacques Turgot—yang sebagian referensi menulis dialah yang mengatakan kutipan tadi—sebagian besar sistem Colbertisme itu akhirnya dibongkar.

Namun, reformasi Turgot itu terlalu kecil dan terlambat. Ketegangan yang diciptakan oleh paradoks Colbertisme, juga ketidakmampuan penerus Colbert memperbaikinya, adalah salah satu penyebab mendasar, jika bukan penyebab utama, Revolusi Perancis 1789. (Bsi)

Baca Juga: 'Pajak dalam Bentuk Barang Hanyalah Transisi'

Topik : kutipan pajak, merkantilisme, Colbertisme, Jean-Baptiste Colbert, Revolusi Perancis

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:

'Seperti Berdiri di Ember dan Mengangkat Diri dengan Gagangnya'

Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:

'Pajak Ini Menyalahi Adat'

Selasa, 12 Februari 2019 | 14:32 WIB
HAJI WASID:

'Pajak Lahan, Kepala dan Perdagangan Harus Dihapuskan'

Senin, 21 Januari 2019 | 18:34 WIB
ABU YUSUF:

'Pajak Hanya untuk Harta yang Melebihi Kebutuhan'

berita pilihan

Kamis, 18 Agustus 2022 | 08:10 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Pastikan Pajak Nonmigas 2023 Tetap Naik, Sri Mulyani Ungkap Langkahnya

Rabu, 17 Agustus 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Sri Mulyani Sebut Ada Insentif Perpajakan Rp41,5 Triliun pada 2023

Rabu, 17 Agustus 2022 | 14:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tahun Depan, Pemerintah Minta Dividen Rp44 Triliun dari BUMN

Rabu, 17 Agustus 2022 | 14:00 WIB
RAPBN 2023 DAN NOTA KEUANGAN

Tidak Ada Lagi Alokasi PEN di APBN 2023, Begini Kata Sri Mulyani

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:30 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Begini Optimisme Sri Mulyani Soal Pertumbuhan Penerimaan PPh Nonmigas

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pajak Minimum Global Ternyata Bisa Pengaruhi Penerimaan Pajak 2023

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:00 WIB
HUT KE-15 DDTC

Membangun SDM Pajak Unggul, DDTC Tawarkan Akses Pendidikan yang Setara

Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:30 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Pemerintah Targetkan Setoran PPh Rp935 Triliun Pada Tahun Depan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu Costums Declaration?

Rabu, 17 Agustus 2022 | 11:30 WIB
KANWIL DJP BALI

Tak Perlu ke KPP Bawa Berkas Tebal, Urus Ini Bisa Lewat DJP Online