Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Menteri Energi Negara ini Serukan Reformasi Pajak atas Minyak

1
1

Menteri Energi Rusia Alexander Novak. (foto: cdni.rt.com)

MOSKOW, DDTCNews – Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyerukan reformasi pajak atas minyak agar Rusia lebih kompetitif.

Rusia, menurut Novak, memiliki cadangan minyak mentah yang cukup untuk menopang produksi selama lebih dari 50 tahun. Namun, jumlah produksi minyak tersebut berisiko turun jika sistem pajak tidak diubah.

“Kita memiliki cadangan yang besar tetapi mayoritas tidak ekonomis. Sebab, rezim pajak saat ini tidak memungkinkan kita untuk meningkatkan produksi minyak secara signifikan,” katanya, Selasa (8/10/2019).

Baca Juga: Ini Penerimaan Negara yang Disetor Lewat Marketplace

Lebih lanjut, Novak menyebut Rusia memiliki pendapatan dari pajak minyak tertinggi di dunia. Rata-rata nilai penerimaannya mencapai 68%—70% dari total pendapatan. Untuk ladang minyak di Siberia Barat yang tidak mendapat keringanan pajak, jumlahnya bahkan mencapai 85%.

Persentase tersebut menujukkan Rusia sangat bergantung pada pendapatan dari minyak mentah dan gas seperti kebanyakan negara produsen minyak lainnya. Untuk itu, Kementerian Keuangan telah berulang kali menentang penurunan pajak pada industri minyak.

Namun, Novak menegaskan jika rezim pajak tidak diubah, Rusia tidak akan mampu mempertahankan tingkat produksinya saat ini hanya. Produksi minyak, menurutnya, hanya akan bisa bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Aplikasi Ini Permudah Pembayaran Pajak Warga Tangsel

Terlebih, Rusia – yang telah lama menjadi produsen minyak mentah terbesar di dunia tersebut –tengah dikalahkan oleh Amerika Serikat (AS) pada saat ini. Padahal, biaya produksi minyak mentah di Rusia lebih rendah daripada di AS.

Novak mengatakan AS mampu bersaing dengan produsen seperti Rusia berkat kredit murah dan pajak yang terutama dikenakan pada keuntungan perusahaan. Sementara di Rusia, pajak industri minyak didasarkan pada pendapatan dan hasil ekstrasi.

Oleh karena itu, Novak mengusulkan untuk memperluas basis pajak pada laba perusahaan daripada mengenakannya berdasar hasil ekstraksi mineral. Sebab, pajak yang dikenakan atas hasil ekstraksi didasarkan pada volume output daripada profitabilitas proyek.

Baca Juga: Pemkab Kolaka Luncurkan Alat Perekam Pajak

Menurut Novak, Rusia juga harus memberikan keringanan pajak untuk proyek eksplorasi, pengembangan ladang minyak kecil, dan teknologi ekstraksi minyak. Keringanan itu bisa dengan mengizinkan perusahaan untuk mengamortisasi dan mengurangi biaya pada pajak ekstraksi mineral.

Langkah-langkah semacam itu dapat meningkatkan margin laba senilai US$3 atau setara Rp42.285 sampai dengan US$5 atau setara Rp70.475 per barel. Dengan demikian, minyak Rusia akan lebih kompetitif.

“Langkah itu dapat menghasilkan 73 miliar barel cadangan minyak baru. Berdasarkan pada harga minyak saat ini, kebijakan itu akan menghasilkan penerimaan senilai US$4 triliun untuk Rusia,” ujarnya, seperti dilansir themoscowtimes.com. (kaw)

Baca Juga: Sebelum Kena Razia Besar-Besaran, WP Diminta Pakai Keringanan Pajak

“Kita memiliki cadangan yang besar tetapi mayoritas tidak ekonomis. Sebab, rezim pajak saat ini tidak memungkinkan kita untuk meningkatkan produksi minyak secara signifikan,” katanya, Selasa (8/10/2019).

Baca Juga: Ini Penerimaan Negara yang Disetor Lewat Marketplace

Lebih lanjut, Novak menyebut Rusia memiliki pendapatan dari pajak minyak tertinggi di dunia. Rata-rata nilai penerimaannya mencapai 68%—70% dari total pendapatan. Untuk ladang minyak di Siberia Barat yang tidak mendapat keringanan pajak, jumlahnya bahkan mencapai 85%.

Persentase tersebut menujukkan Rusia sangat bergantung pada pendapatan dari minyak mentah dan gas seperti kebanyakan negara produsen minyak lainnya. Untuk itu, Kementerian Keuangan telah berulang kali menentang penurunan pajak pada industri minyak.

Namun, Novak menegaskan jika rezim pajak tidak diubah, Rusia tidak akan mampu mempertahankan tingkat produksinya saat ini hanya. Produksi minyak, menurutnya, hanya akan bisa bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Aplikasi Ini Permudah Pembayaran Pajak Warga Tangsel

Terlebih, Rusia – yang telah lama menjadi produsen minyak mentah terbesar di dunia tersebut –tengah dikalahkan oleh Amerika Serikat (AS) pada saat ini. Padahal, biaya produksi minyak mentah di Rusia lebih rendah daripada di AS.

Novak mengatakan AS mampu bersaing dengan produsen seperti Rusia berkat kredit murah dan pajak yang terutama dikenakan pada keuntungan perusahaan. Sementara di Rusia, pajak industri minyak didasarkan pada pendapatan dan hasil ekstrasi.

Oleh karena itu, Novak mengusulkan untuk memperluas basis pajak pada laba perusahaan daripada mengenakannya berdasar hasil ekstraksi mineral. Sebab, pajak yang dikenakan atas hasil ekstraksi didasarkan pada volume output daripada profitabilitas proyek.

Baca Juga: Pemkab Kolaka Luncurkan Alat Perekam Pajak

Menurut Novak, Rusia juga harus memberikan keringanan pajak untuk proyek eksplorasi, pengembangan ladang minyak kecil, dan teknologi ekstraksi minyak. Keringanan itu bisa dengan mengizinkan perusahaan untuk mengamortisasi dan mengurangi biaya pada pajak ekstraksi mineral.

Langkah-langkah semacam itu dapat meningkatkan margin laba senilai US$3 atau setara Rp42.285 sampai dengan US$5 atau setara Rp70.475 per barel. Dengan demikian, minyak Rusia akan lebih kompetitif.

“Langkah itu dapat menghasilkan 73 miliar barel cadangan minyak baru. Berdasarkan pada harga minyak saat ini, kebijakan itu akan menghasilkan penerimaan senilai US$4 triliun untuk Rusia,” ujarnya, seperti dilansir themoscowtimes.com. (kaw)

Baca Juga: Sebelum Kena Razia Besar-Besaran, WP Diminta Pakai Keringanan Pajak
Topik : Rusia, minyak, pajak, Alexander Novak
Komentar
Dapatkan hadiah berupa merchandise DDTCNews masing-masing senilai Rp250.000 yang diberikan kepada dua orang pemenang. Redaksi akan memilih pemenang setiap dua pekan sekali, dengan berkomentar pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews!! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 14 September 2019 | 15:45 WIB
ZONE EURO EROPA
Selasa, 23 April 2019 | 11:16 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 31 Agustus 2017 | 08:54 WIB
ZIMBABWE
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA
Rabu, 28 September 2016 | 17:07 WIB
PAKISTAN
Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:11 WIB
FILIPINA