Trusted Indonesian Tax News Portal
|
 
Berita
Selasa, 11 Desember 2018 | 20:38 WIB
ZAMBIA
Selasa, 11 Desember 2018 | 16:52 WIB
KEPATUHAN PEGAWAI PAJAK
Selasa, 11 Desember 2018 | 16:22 WIB
PENGEMBANGAN UMKM
 
Review
Senin, 10 Desember 2018 | 08:02 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Jum'at, 07 Desember 2018 | 10:35 WIB
PROFESOR MIRANDA STEWART:
Jum'at, 07 Desember 2018 | 08:22 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Fokus
Literasi
Selasa, 27 November 2018 | 10:52 WIB
PROFIL PERPAJAKAN BULGARIA
Rabu, 21 November 2018 | 11:48 WIB
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (14)
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
 
Data & alat
Rabu, 05 Desember 2018 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 5-11 DESEMBER 2018
Rabu, 28 November 2018 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 28 NOVEMBER-4 DESEMBER 2018
Rabu, 21 November 2018 | 09:23 WIB
KURS PAJAK 21-27 NOVEMBER 2018
 
Komunitas
Sabtu, 08 Desember 2018 | 09:23 WIB
SEMINAR DIGITALPRENEUR-STIAMI
Jum'at, 07 Desember 2018 | 17:38 WIB
TRANSFER PRICING
Jum'at, 30 November 2018 | 18:04 WIB
SEMINAR TAXPLORE 2018-FIA UI
 
Reportase

Makna 'Arise In' dalam Pasal 11 Tax Treaty

0

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan istilah ‘arise in’ yang terdapat dalam Pasal 11 tax treaty?

Mira Luki, Balikpapan

 

Jawaban:

TERIMA kasih Ibu Mira atas pertanyaannya. Tujuan perumusan Pasal 11 tax treaty yang mengacu pada ketentuan OECD Model adalah untuk menetapkan tingkat pajak maksimum pada negara sumber penghasilan. Oleh karena itu, dalam Pasal 11 ayat (5) tax treaty diatur lebih lanjut mengenai bagaimana menentukan negara sumber penghasilan atas bunga. 

Keistimewaan dari Pasal 11 ini adalah adanya pembahasan mengenai klausul ‘arise in’ sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 ayat (5) dari tax treaty yang mengacu pada ketentuan OECD Model.

Klausul ini memiliki arti bahwa penghasilan bunga akan dianggap bersumber di suatu negara apabila memenuhi kondisi sebagai berikut:

  • Pihak yang membayarkan merupakan resident dari negara sumber tersebut.
  • Apabila bunga tersebut dibebankan kepada Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang berada di salah satu negara yang mengadakan tax treaty. Konsekuensinya, bunga tersebut dianggap timbul di negara di mana BUT tersebut berada tanpa memperhatikan bunga tersebut dibayarkan dari negara mana. Hal itu berlaku sepanjang terdapat hubungan ekonomis antara pinjaman dan bunga yang dibebankan kepada BUT.

Artinya, apabila tidak terdapat hubungan ekonomis antara pinjaman dan bunga yang dibebankan kepada BUT, maka negara di mana BUT tersebut berada tidak diperlakukan sebagai negara sumber dari penghasilan bunga.

Klausul ini misalnya dapat dilihat dalam Pasal 11 ayat (8) Tax Treaty Indonesia-Belanda yang menyebutkan: "Interest shall be deemed to arise in one of the two States when the payer is that State itself......"

Dengan adanya klausul ‘arise in’ maka suatu negara dikatakan sebagai negara sumber penghasilan bunga apabila pembayar merupakan resident dari negara sumber tersebut.

Demikian jawaban kami. Salam.* (Disclaimer)

Topik : konsultasi pajak, tax treaty, P3B, pajak internasional
artikel terkait
Senin, 26 September 2016 | 10:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 20 Oktober 2016 | 15:35 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 06 Oktober 2016 | 11:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 03 Juni 2016 | 17:43 WIB
KONSULTASI PAJAK
berita pilihan
Senin, 03 Desember 2018 | 08:10 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Kamis, 29 November 2018 | 06:14 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
Kamis, 22 November 2018 | 07:25 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 21 November 2018 | 08:12 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 15 November 2018 | 08:19 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 14 November 2018 | 06:46 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 13 November 2018 | 07:21 WIB
KONSULTASI PAJAK
Kamis, 08 November 2018 | 07:47 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 06 November 2018 | 07:08 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 05 November 2018 | 06:58 WIB
KONSULTASI TRANSFER PRICING
0