Review
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:00 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 12 Agustus 2020 | 14:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 11 Agustus 2020 | 09:20 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 09 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KEPALA KKP PRATAMA JAKARTA MAMPANG PRAPATAN IWAN SETYASMOKO:
Fokus
Literasi
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:19 WIB
AKTIVITAS PEREKONOMIAN
Kamis, 13 Agustus 2020 | 16:09 WIB
PROFIL PERPAJAKAN BELARUS
Kamis, 13 Agustus 2020 | 14:00 WIB
PAJAK DAERAH (11)
Rabu, 12 Agustus 2020 | 16:45 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & alat
Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 12 AGUSTUS-18 AGUSTUS 2020
Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:30 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 05 Agustus 2020 | 08:57 WIB
KURS PAJAK 5 AGUSTUS-11 AGUSTUS 2020
Reportase

Makna 'Arise In' dalam Pasal 11 Tax Treaty

A+
A-
0
A+
A-
0
Makna 'Arise In' dalam Pasal 11 Tax Treaty

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan istilah ‘arise in’ yang terdapat dalam Pasal 11 tax treaty?

Mira Luki, Balikpapan

Jawaban:

TERIMA kasih Ibu Mira atas pertanyaannya. Tujuan perumusan Pasal 11 tax treaty yang mengacu pada ketentuan OECD Model adalah untuk menetapkan tingkat pajak maksimum pada negara sumber penghasilan. Oleh karena itu, dalam Pasal 11 ayat (5) tax treaty diatur lebih lanjut mengenai bagaimana menentukan negara sumber penghasilan atas bunga.

Keistimewaan dari Pasal 11 ini adalah adanya pembahasan mengenai klausul ‘arise in’ sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 ayat (5) dari tax treaty yang mengacu pada ketentuan OECD Model.

Klausul ini memiliki arti bahwa penghasilan bunga akan dianggap bersumber di suatu negara apabila memenuhi kondisi sebagai berikut:

  • Pihak yang membayarkan merupakan resident dari negara sumber tersebut.
  • Apabila bunga tersebut dibebankan kepada Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang berada di salah satu negara yang mengadakan tax treaty. Konsekuensinya, bunga tersebut dianggap timbul di negara di mana BUT tersebut berada tanpa memperhatikan bunga tersebut dibayarkan dari negara mana. Hal itu berlaku sepanjang terdapat hubungan ekonomis antara pinjaman dan bunga yang dibebankan kepada BUT.

Artinya, apabila tidak terdapat hubungan ekonomis antara pinjaman dan bunga yang dibebankan kepada BUT, maka negara di mana BUT tersebut berada tidak diperlakukan sebagai negara sumber dari penghasilan bunga.

Klausul ini misalnya dapat dilihat dalam Pasal 11 ayat (8) Tax Treaty Indonesia-Belanda yang menyebutkan: "Interest shall be deemed to arise in one of the two States when the payer is that State itself......"

Dengan adanya klausul ‘arise in’ maka suatu negara dikatakan sebagai negara sumber penghasilan bunga apabila pembayar merupakan resident dari negara sumber tersebut.

Demikian jawaban kami. Salam.* ()

(Disclaimer)
Topik : konsultasi pajak, tax treaty, P3B, pajak internasional
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Rabu, 05 Agustus 2020 | 11:10 WIB
SLOVENIA
Rabu, 05 Agustus 2020 | 10:49 WIB
SELANDIA BARU
Selasa, 04 Agustus 2020 | 16:30 WIB
ITALIA
Selasa, 04 Agustus 2020 | 15:13 WIB
BELGIA
berita pilihan
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 15:06 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 14:55 WIB
RAPBN 2021 DAN NOTA KEUANGAN
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 14:41 WIB
RAPBN 2021
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 13:53 WIB
UTANG LUAR NEGERI
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 13:01 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:38 WIB
KOTA SOLO
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:17 WIB
SIDANG BERSAMA DPR DAN DPD RI
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:05 WIB
KEP-368/PJ/2020
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:05 WIB
RUSIA