Review
Jum'at, 27 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (2)
Kamis, 26 Januari 2023 | 15:53 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (1)
Kamis, 26 Januari 2023 | 14:40 WIB
KONSULTASI PERPAJAKAN
Rabu, 25 Januari 2023 | 17:15 WIB
LAPORAN DARI AUSTRALIA
Fokus
Data & Alat
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Rabu, 11 Januari 2023 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 11 JANUARI - 17 JANUARI 2022
Rabu, 04 Januari 2023 | 09:11 WIB
KURS PAJAK 04 JANUARI - 10 JANUARI 2023
Reportase

Ditjen Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 6 Kontainer Pakaian Bekas

A+
A-
1
A+
A-
1
Ditjen Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 6 Kontainer Pakaian Bekas

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi memberikan keterangan kepada awak media. 

JAKARTA, DDTCNews – Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) menggagalkan penyelundupan 6 kontainer pakaian bekas ke Indonesia dengan taksiran harga mencapai Rp2,6 miliar.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan penindakan itu untuk melindungi pengusaha tekstil dan garmen dalam negeri dari persaingan harga tidak sehat dengan masuknya pakaian bekas impor tersebut. Apalagi, saat ini para pengusaha sedang mengalami masa sulit akibat wabah virus Corona.

Trade war dan virus Corona telah menyebabkan kesulitan bahan baku, mobilitas barang, dan produksi para pengusaha garmen lokal. Jangan sampai mereka ditimpa lagi dengan masuknya ballpress pakaian yang di negara asalnya juga sudah tidak layak jual," kata Heru, Rabu (11/3/2020).

Baca Juga: Ngeri! Bea Cukai dan Polri Sita Sabu 149 Kg Jaringan Malaysia-Aceh 

Para pakaian selundupan itu, lanjutnya, berasal dari negara-negara empat musim. Pakaian yang diimpor berupa pakaian bekas yang sudah lewat musimnya. Namun, sebagian dari pakaian yang diselundupkan juga berupa pakaian baru yang cacat atau tidak laku di negara asalnya.

Pakaian itu dikhawatirkan akan membanjiri pasar di dalam negeri dengan harga murah sehingga akan mengganggu penjualan produk garmen lokal. Menurut Heru, para pelaku juga sudah menyiapkan modus terbaru untuk mengelabui masyarakat.

Para pelaku, ungkapnya, akan menyetrika ulang pakaian dan menempelkan label harga. Dia pun menunjukkan tumpukan pakaian yang berlabel merek-merek ternama dunia dengan tulisan harga dalam satuan dolar AS.

Baca Juga: Pembebasan Bea Masuk US$500 Diberikan Per Penumpang, Bukan Per Barang

Pakaian biasanya terlihat lusuh. Namun, jika disetrika, pakaian akan langsung terlihat mulus dan terkesan baru.”Petugas Bea Cukai sudah mencoba menyetrikanya, dan memang terlihat seperti barang baru untuk mengelabui masyarakat,” katanya.

Heru menjelaskan pakaian bekas itu dikemas dalam bentuk 874 ballpress, dan diselundupkan dalam enam kontainer besar. Sebagai ilustrasi, 1 ballpres bisa terdiri dari 500 hingga 1.000 pakaian. Kontainer berasal dari salah satu pelabuhan tikus di Sumatra dan ditangkap di Pelabuhan Merak, untuk kemudian dikirim ke Bandung.

Selain pakaian bekas, DJBC juga menemukan 118 set ban truk dan alat berat dalam kontainer senilai Rp236 juta dan 57 roll karpet senilai Rp68,4 juta. (kaw)

Baca Juga: SPT Tahunan Badan Tak Bisa Pakai e-SPT, e-Form Belum Tampung PTKP UMKM

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : bea cukai, DJBC, impor, pakaian bekas, pengawasan, penegahan, industri

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 25 Januari 2023 | 11:21 WIB
PENGAWASAN KEPABEANAN DAN CUKAI

Waduh! Bea Cukai Amankan 2.000 Pil Psikotropika Tanpa Izin Edar

Selasa, 24 Januari 2023 | 13:30 WIB
ADMINISTRASI KEPABEANAN

Perpanjangan NPPBKC Khusus Penyalur dan Pengusaha TPE, Begini Caranya

Selasa, 24 Januari 2023 | 13:00 WIB
HARI PENDIDIKAN INTERNASIONAL

Dorong Minat Baca, DJBC Jelaskan Fasilitas Kepabeanan Atas Impor Buku

Senin, 23 Januari 2023 | 13:00 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Waduh! 1 Ton Cat Food Asal China Dimusnahkan Bea Cukai Gara-Gara Ini

berita pilihan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 16:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Ekonomi Pulih, Sri Mulyani Sebut Skala Insentif Pajak Sudah Diturunkan

Sabtu, 28 Januari 2023 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Batas Restitusi Dipercepat Jadi Rp5 Miliar, Sri Mulyani Bilang Begini

Sabtu, 28 Januari 2023 | 13:30 WIB
PP 50/2022

Ini Maksud 'Dimulainya Penyidikan' dalam Pengungkapan Ketidakbenaran

Sabtu, 28 Januari 2023 | 13:00 WIB
KABUPATEN REMBANG

Kepala Desa Dikumpulkan Gara-Gara Validasi NIK dan NPWP, Ada Apa?

Sabtu, 28 Januari 2023 | 12:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Penawaran Perdana SUN Khusus PPS Tahun Ini, Begini Hasilnya

Sabtu, 28 Januari 2023 | 12:00 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Ngeri! Bea Cukai dan Polri Sita Sabu 149 Kg Jaringan Malaysia-Aceh 

Sabtu, 28 Januari 2023 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

5 Alasan Wajib Pajak Bisa Ajukan Permintaan Sertifikat Elektronik Baru

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:30 WIB
KOREA SELATAN

Partai Oposisi Usulkan Pengenaan Windfall Tax untuk Danai Stimulus

Sabtu, 28 Januari 2023 | 10:00 WIB
PMK 203/2017

Pembebasan Bea Masuk US$500 Diberikan Per Penumpang, Bukan Per Barang

Sabtu, 28 Januari 2023 | 09:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Insentif Atas Impor Alkes dan Vaksin Covid Selama 3 Tahun Tembus Rp3 T