Review
Kamis, 01 Desember 2022 | 16:52 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 30 November 2022 | 11:27 WIB
OPINI PAJAK
Selasa, 29 November 2022 | 15:48 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 24 November 2022 | 09:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 02 Desember 2022 | 21:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 02 Desember 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 02 Desember 2022 | 12:30 WIB
TIPS KEPABEANAN
Senin, 28 November 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Data & Alat
Jum'at, 02 Desember 2022 | 12:00 WIB
KMK 63/2022
Rabu, 30 November 2022 | 10:11 WIB
KURS PAJAK 30 NOVEMBER - 06 DESEMBER 2022
Rabu, 23 November 2022 | 10:00 WIB
KURS PAJAK 23 NOVEMBER - 29 NOVEMBER 2022
Rabu, 16 November 2022 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 16 NOVEMBER - 22 NOVEMBER 2022
Komunitas
Minggu, 04 Desember 2022 | 07:40 WIB
WAKIL KETUA I PERTAPSI TITI MUSWATI PUTRANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 09:34 WIB
KETUA BIDANG KERJA SAMA PERTAPSI BENY SUSANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 07:30 WIB
SELEBRITAS
Sabtu, 03 Desember 2022 | 07:00 WIB
ANIMASI PAJAK
Reportase

Bisa Jadi Pemungut PPN, Ekonomi Digital Masih Jadi Risiko Penerimaan

A+
A-
0
A+
A-
0
Bisa Jadi Pemungut PPN, Ekonomi Digital Masih Jadi Risiko Penerimaan

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews - Ekonomi digital masih dipandang oleh pemerintah sebagai risiko dalam menggali potensi penerimaan pajak.

Digitalisasi ekonomi memang berdampak positif terhadap efisiensi perekonomian. Meski demikian, digitalisasi meningkatkan aktivitas ekonomi yang tidak terdaftar dan tidak terdeteksi oleh pemerintah.

"Walaupun saat ini pemerintah telah menerapkan kewajiban perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) atas transaksi elektronik, perkembangan digitalisasi yang cepat terutama setelah pandemi Covid-19 perlu diantisipasi," tulis pemerintah dalam Nota Keuangan RAPBN 2023, dikutip Rabu (17/8/2022).

Baca Juga: Khawatir Ganggu Investasi, Hungaria Kukuh Tolak Pajak Minimum Global

Tingginya aktivitas ekonomi yang tak terdaftar dan tak terdeteksi oleh pemerintah memiliki potensi menggerus basis pajak baik PPh maupun PPN.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk mengoptimalkan kebijakan penunjukan platform sebagai pemungut PPN PMSE. Perbaikan atas regulasi dan pengawasan atas sektor ekonomi digital juga akan terus diperbaiki.

Untuk diketahui, pemerintah sesungguhnya sudah memiliki kewenangan untuk menunjuk platform digital sebagai pemungut pajak. Penunjukan telah diakomodasi oleh Pasal 32A UU KUP s.t.d.t.d UU HPP.

Baca Juga: Terbitkan Surat Edaran, DJP Perinci Aturan Pemberian Endorsement

Saat ini setidaknya sudah terdapat 3 peraturan menteri keuangan (PMK) yang menyasar sektor ekonomi digital yakni PMK 60/2022 yang mewajibkan platform memungut PPN PMSE, PMK 68/2022 mengenai pengenaan PPN dan PPh atas aset kripto, dan PMK 69/2022 yang mengatur tentang pengenaan PPh dan PPN pada sektor fintech khususnya P2P lending atau pinjol.

Pada PMK 60/2022, pelaku usaha PMSE asing yang ditunjuk oleh DJP wajib melakukan pemungutan PPN atas produk digital asing yang dijual di Indonesia. Saat ini sudah terdapat 119 PMSE yang telah ditunjuk sebagai pemungut.

Pada PMK 68/2022, exchanger aset kripto ditunjuk untuk memungut PPh Pasal 22 final sebesar 0,1% dan PPN final sebesar 0,11% atas transaksi aset kripto. Bila exchanger tidak terdaftar di Bappebti, tarif PPh Pasal 22 final dan PPN final naik 2 kali lipat.

Baca Juga: DJP Jelaskan WP Badan Tak Perlu Buat NPWP Baru Jika Ada Perubahan Ini

Pada PMK 69/2022, pemerintah mengatur secara khusus mengenai pemotongan PPh atas penghasilan berupa bunga yang diterima pemberi pinjaman.

Bila pemberi pinjaman adalah wajib pajak dalam negeri dan BUT, bunga akan dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15%. Bila pemberi pinjaman adalah wajib pajak luar negeri selain BUT, wajib pajak dikenai potongan PPh Pasal 26 sebesar 20% atau sesuai dengan P3B. (sap)

Baca Juga: DJP Ingatkan Pembatalan Faktur Pajak Harus Dilakukan 2 Belah Pihak

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : PPN, PMSE, pajak digital, ekonomi digital, pemungut PPN PMSE, Ditjen Pajak

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 28 November 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Big Data dan Big Data Analytic?

Senin, 28 November 2022 | 15:16 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Penyampaian SPT Digital Bertambah, Begini Kata Dirjen Pajak

Senin, 28 November 2022 | 14:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

DJP Sebut Ada 9 Fitur Layanan yang Bisa Dimanfaatkan WP di M-Pajak

Senin, 28 November 2022 | 14:12 WIB
PEMINDAHBUKUAN

Validasi Otomatis pada e-Pbk, Notifikasi Ini Muncul Jika Tidak Lolos

berita pilihan

Minggu, 04 Desember 2022 | 15:00 WIB
HUNGARIA

Khawatir Ganggu Investasi, Hungaria Kukuh Tolak Pajak Minimum Global

Minggu, 04 Desember 2022 | 14:00 WIB
BEA METERAI

Kriteria Dokumen yang Dapat Dibebaskan dari Pungutan Bea Meterai

Minggu, 04 Desember 2022 | 13:00 WIB
PERATURAN PAJAK

Ada 3 Jenis Tarif PPh Final atas PHTB, DJP Jelaskan Aturannya

Minggu, 04 Desember 2022 | 12:00 WIB
KP2KP BENTENG

Belum Setor PPh Final UMKM, Toko Kelontong Didatangi Petugas Pajak

Minggu, 04 Desember 2022 | 11:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

DJP Beberkan Kriteria Wajib Pajak yang Dibebaskan dari PPh Final PHTB

Minggu, 04 Desember 2022 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Jenis Penghasilan yang Masuk dalam Pencatatan WP Orang Pribadi

Minggu, 04 Desember 2022 | 10:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Utang Pemerintah Capai Rp7.496 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman

Minggu, 04 Desember 2022 | 10:00 WIB
KP2KP PINRANG

Bisnis Minuman Membludak, Petugas Pajak Sambangi Pabrik Es

Minggu, 04 Desember 2022 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Banyak Daerah Tak Punya RDTR, Perizinan Jadi Terkendala