SOLO, DDTCNews - Profesi konsultan pajak menawarkan ruang karier yang luas bagi generasi muda seiring dengan makin kompleksnya dunia perpajakan dan kebutuhan kompetensi yang terus berkembang.
Senior Specialist DDTC Consulting Shihab Fatahillah mengatakan profesi di bidang perpajakan kini tidak lagi sebatas pekerjaan administratif, pengisian Surat Pemberitahuan (SPT), ataupun aktivitas hitung-menghitung.
"Dunia perpajakan telah bertransformasi menjadi lanskap berbasis pengetahuan, riset mendalam, serta penerapan teknologi di bidang perpajakan," ujarnya dalam Talkshow Nasional ACTIVE 2026 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Sabtu (17/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Shihab memaparkan peluang dan strategi pengembangan karier sebagai konsultan pajak kepada mahasiswa. Pembahasan tersebut relevan dengan perjalanan karier Shihab yang juga memiliki latar belakang pendidikan S1 Akuntansi FEB UNS.
Dalam perjalanan profesinya sebagai senior specialist DDTC Consulting, Shihab menilai pengembangan kompetensi tidak berhenti pada pendidikan formal. Dia juga memiliki lisensi konsultan pajak dan kuasa hukum Pengadilan Pajak serta pernah mengikuti program perpajakan internasional di WU Transfer Pricing Center, Austria, dan Tax Academy of Singapore melalui Human Resource Development Program (HRDP) dari DDTC.
Menurut Shihab, pendidikan di perguruan tinggi menjadi modal awal untuk memasuki dunia profesional. Namun, keberlanjutan karier juga sangat bergantung pada kemauan seseorang untuk terus memperbarui pengetahuan dan mengembangkan kompetensinya.
Shihab mengatakan peluang karier dalam ekosistem perpajakan tidak terbatas pada satu jenis pekerjaan. Di dalam ekosistem DDTC, misalnya, terdapat profesional yang berfokus pada analisis dan konsultasi, serta peran yang berkaitan dengan riset, penulisan, pendidikan, dan pengembangan informasi perpajakan.
Keragaman tersebut menunjukkan mahasiswa yang tertarik menggeluti bidang perpajakan dapat mengeksplorasi beragam peran sesuai dengan kompetensi dan minat yang ingin dikembangkan. Ruang spesialisasi dalam bidang pajak juga beragam, mulai dari kompetensi teknis tertentu hingga kepemimpinan dan kontribusi terhadap pengembangan praktik perpajakan.
Dalam mempersiapkan karier tersebut, Shihab menekankan tiga kebiasaan yang perlu dibangun mahasiswa, yakni membaca, menulis, dan publikasi. Prinsip yang diperkenalkan oleh Founder DDTC Darussalam tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan pengetahuan di lingkungan DDTC.
"Saya ingin teman-teman mengingat tiga kata: baca, tulis, dan publikasi," kata Shihab.
Dia menjelaskan membaca membantu seseorang memahami aturan, konsep, serta berbagai perspektif. Sementara itu, menulis melatih seseorang untuk mengorganisasi pemikiran, memeriksa sumber, dan menyusun argumentasi secara runtut.
Adapun publikasi membuat sebuah pemikiran dapat dibaca, dievaluasi, dan dimanfaatkan oleh orang lain. Menurut Shihab, mahasiswa tidak harus langsung menghasilkan tulisan panjang, tetapi dapat memulainya dari isu yang menarik dan mengembangkan tulisan singkat berdasarkan sumber yang jelas.
Kebiasaan tersebut makin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Teknologi dapat membantu pencarian dan pengolahan informasi, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa.
Shihab mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengandalkan informasi yang terdengar meyakinkan. Kemampuan analisis, verifikasi, dan pertimbangan profesional tetap diperlukan untuk memastikan informasi yang digunakan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam paparannya, Shihab juga mengangkat perjalanan Founder DDTC Darussalam yang merupakan alumnus S1 Akuntansi FEB UNS angkatan 1986. Darussalam kemudian menempuh pendidikan lanjutan di bidang hukum pajak internasional, termasuk di Tilburg University, Belanda, dan Universitas Indonesia.
Darussalam juga menerima penghargaan sebagai salah satu alumni berprestasi dari Rektor UNS pada 2023. Menurut Shihab, perjalanan Darussalam menunjukkan bahwa pendidikan di bangku kuliah dapat menjadi fondasi untuk membangun karier profesional.
Perjalanan Darussalam, lanjutnya, menunjukkan bahwa almamater dapat menjadi titik awal untuk membangun karier profesional. Karena itu, mahasiswa tidak perlu menganggap IPK, pengalaman organisasi, ataupun tempat magang pertama sebagai satu-satunya penentu perjalanan karier.
"Jangan merasa bahwa perjalanan teman-teman ditentukan hanya dari IPK, organisasi yang diikuti, atau tempat magang pertama. Semua itu bisa menjadi bagian dari fondasi, tetapi perjalanan berikutnya sangat dipengaruhi oleh cara kita terus belajar, merespons tantangan, dan memberikan kontribusi," papar Shihab.
Pengalaman Shihab sebagai alumnus FEB UNS mencerminkan pentingnya kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi. Prinsip serupa diterapkan DDTC melalui pengembangan lingkungan kerja yang berorientasi pada pengetahuan, riset, dan peningkatan kualitas profesional.
DDTC telah memperoleh berbagai pengakuan dari International Tax Review (ITR) dalam bidang transfer pricing, sengketa pajak, pro bono, dan inovasi perpajakan. Pada 2026, DDTC tercatat masuk dalam 6 kategori nominasi penghargaan ITR.
Pengakuan tersebut merefleksikan beragam bentuk kontribusi dalam bidang perpajakan, mulai dari keahlian teknis dan penyelesaian sengketa hingga inovasi serta layanan kepada masyarakat.
Shihab turut menekankan pentingnya pengalaman profesional sejak dini untuk mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja. Salah satu kesempatan yang diperkenalkan dalam sesi tersebut adalah DDTC Executive Internship Program (EIP).
Program ini menyediakan remunerasi, pendampingan (mentorship) dari profesional pajak, program pengembangan sumber daya manusia, serta akses ke fasilitas DDTC.
Meski demikian, dia mengingatkan mahasiswa agar tidak memilih tempat magang hanya berdasarkan nama organisasi atau besaran kompensasi yang ditawarkan.
"Saya tidak ingin menjanjikan bahwa setiap peserta akan memperoleh pengalaman yang persis sama, tetapi saya mendorong teman-teman untuk aktif mencari dan mengevaluasi kesempatan yang tersedia," ujarnya.
Menurut Shihab, mahasiswa perlu mempertimbangkan jenis pekerjaan, kualitas bimbingan, kesempatan belajar, serta kompetensi yang ingin dikembangkan sebelum memilih program magang. Pasalnya, pengalaman dari pekerjaan pertama, tugas magang, hingga proyek kecil dapat menjadi bekal untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar pada tahap karier berikutnya.
Talkshow Nasional ACTIVE 2026 turut dihadiri Dosen Program Studi Akuntansi Arum Setyowati yang mewakili Kepala Program Studi Akuntansi, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS Dody Ariawan.
Dalam kesempatan tersebut, Shihab hadir mewakili Founder DDTC Darussalam. DDTC juga membagikan 8 buku Konsistensi 21 Tahun Gagasan Pendiri DDTC untuk Pajak Indonesia, masing-masing 5 buku kepada pejabat kampus yang hadir dan 3 buku kepada peserta yang aktif selama sesi diskusi. (dik)
