Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Demo Pajak 75 Hari, 309 Warga Tewas

0
0

MANAGUA, DDTCNews – Warga Nikaragua Amerika Tengah melakukan protes setelah pemerintahan Presiden Daniel Ortega mengumumkan pemotongan uang pensiun seiring meningkatkan tarif pajak. Dikabarkan, 309 demonstran tewas, 1.500 orang luka-luka dan ratusan orang ditangkap atas aksi brutal.

The Nicaraguan Association for Human Rights (ANPDH) menuduh pemerintah secara sengaja menyerang demonstran dengan tindakan yang mematikan. Tuduhan ini berlandaskan adanya aksi militer yang membakar sejumlah toko untuk memusnahkan para demonstran.

Aksi protes yang berlangsung selama 75 hari sejak 19 April – 2 Juli 2018 itu terdiri dari serikat pekerja, pebisnis, mahasiswa, akademisi dan para pengamat, menganggap kebijakan yang diterbitkan pemerintah justru menindas warga Nikaragua.

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Vice President for Programs at Washington Office on Latin America Latin Geoff Thale mengatakan pemerintah sempat beranggapan upaya membubarkan demonstran bisa berjalan lancar. Sayangnya para demonstran terutama mahasiswa justru melawan dengan keras.

“Demo itu bermula dari pemotongan pensiun dan kenaikan tarif pajak. Demonstran menganggap pendekatan maupun kebijakan selama satu dekade pemerintahan Daniel Ortega terlalu otoriter,” katanya seperti dilansir newsweek.com, Rabu (4/7).

Lebih lanjut Thale menegaskan pemerintah Nikaraguan bisa mengakhiri kekerasan secara cepat dengan memerintahkan pasukan keamanan. Namun Ortega belum berupaya untuk mengurangi kerusuhan tersebut, bahkan hingga saat ini.

Baca Juga: Meghan Markle dan Anaknya Hadapi Dilema Pajak AS

Meskipun pemerintah Ortega secara terbuka ingin berdiskusi dengan demonstran mengenai masalah terkait, asosiasi HAM justru menilai upaya itu hanyalah topeng Ortega untuk melanjutkan penindasan kepada warganya pada masa mendatang.

Menurutnya demonstrasi tersebut telah menunjukkan rasa kekecewaan warga Nikaragua dan ingin Ortega mengundurkan diri dari jabatan Presiden sesegera mungkin.

Hal ini pun ditanggapi oleh Direktur Amnesty International America Erika Guevara Rosas menegaskan kepura-puraan Ortega untuk berdiskusi merupakan triknya dalam melakukan pemerintahan, seperti halnya yang terjadi selama akhir pekan belakangan ini.

Baca Juga: Mulai 1 Januari 2020, Perusahaan Layanan Digital Dipajaki 6%

“Setiap warga Nikaragua tidak harus terus menerus melihat warga lainnya mati akibat dari demonstrasi itu,” pungkas Erika. (Amu)

Aksi protes yang berlangsung selama 75 hari sejak 19 April – 2 Juli 2018 itu terdiri dari serikat pekerja, pebisnis, mahasiswa, akademisi dan para pengamat, menganggap kebijakan yang diterbitkan pemerintah justru menindas warga Nikaragua.

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Vice President for Programs at Washington Office on Latin America Latin Geoff Thale mengatakan pemerintah sempat beranggapan upaya membubarkan demonstran bisa berjalan lancar. Sayangnya para demonstran terutama mahasiswa justru melawan dengan keras.

“Demo itu bermula dari pemotongan pensiun dan kenaikan tarif pajak. Demonstran menganggap pendekatan maupun kebijakan selama satu dekade pemerintahan Daniel Ortega terlalu otoriter,” katanya seperti dilansir newsweek.com, Rabu (4/7).

Lebih lanjut Thale menegaskan pemerintah Nikaraguan bisa mengakhiri kekerasan secara cepat dengan memerintahkan pasukan keamanan. Namun Ortega belum berupaya untuk mengurangi kerusuhan tersebut, bahkan hingga saat ini.

Baca Juga: Meghan Markle dan Anaknya Hadapi Dilema Pajak AS

Meskipun pemerintah Ortega secara terbuka ingin berdiskusi dengan demonstran mengenai masalah terkait, asosiasi HAM justru menilai upaya itu hanyalah topeng Ortega untuk melanjutkan penindasan kepada warganya pada masa mendatang.

Menurutnya demonstrasi tersebut telah menunjukkan rasa kekecewaan warga Nikaragua dan ingin Ortega mengundurkan diri dari jabatan Presiden sesegera mungkin.

Hal ini pun ditanggapi oleh Direktur Amnesty International America Erika Guevara Rosas menegaskan kepura-puraan Ortega untuk berdiskusi merupakan triknya dalam melakukan pemerintahan, seperti halnya yang terjadi selama akhir pekan belakangan ini.

Baca Juga: Mulai 1 Januari 2020, Perusahaan Layanan Digital Dipajaki 6%

“Setiap warga Nikaragua tidak harus terus menerus melihat warga lainnya mati akibat dari demonstrasi itu,” pungkas Erika. (Amu)

Topik : berita pajak internasional, protes pajak, nikaragua
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 14 September 2019 | 15:45 WIB
ZONE EURO EROPA
Selasa, 23 April 2019 | 11:16 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 31 Agustus 2017 | 08:54 WIB
ZIMBABWE
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA
Rabu, 28 September 2016 | 17:07 WIB
PAKISTAN
Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:11 WIB
FILIPINA