Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Brexit: Inggris Pisah dari Uni Eropa

0
0

LONDON, DDTCNews – Hasil referendum menunjukkan kemenangan di kubu Brexit. Dari hasil pemungutan suara, menunjukan lebih dari 51% jumlah suara yang pro-Brexit. Sedangkan kubu yang menginginkan Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa hanya sebesar 48%.

Nigel Farage, Pimpinan Partai Independen Inggris (UKIP) mengatakan bahwa hari ini, Jumat (24/6) merupakan hari ‘kemerdekaan’ bagi Inggris. Menurutnya setelah meninggalkan serikat politik Uni Eropa, sekarang Inggris bisa kembali ke dunia sebagai bangsa dan pemerintahan yang independen.

“Kita sudah meninggalkan serikat politik yang gagal. Sekarang kita bisa bergabung kembali dengan dunia sebagai bangsa dan pemerintahan yang independen,” kicau Farage dalam twitternya.

Baca Juga: Bankir Serukan Pemangkasan Pajak Setelah Keluar dari Uni Eropa

Tercatat sebanyak 46,5 juta warga Inggris memberikan suaranya dalam referendum yang digelar pada 23 Juni kemarin. Dengan hasil kemenangan di kubu Brexit, muncul tuntutan agar Perdana Menteri David Cameron segera mengundurkan diri.

Seusai hasil referendum Brexit, nilai tukar poundsterling jatuh terhadap dolar ke posisi terendah dalam 30 tahun terakhir. Pergerakan poundsterling memburuk dan mendekati level US$1,33. Bahkan, sekarang ini mata uang Inggris telah turun sebanyak 0,6 persen terhadap US$ atau menjadi US$1,3304.

Poundsterling turun di bawah US%1,40 karena investor memperhitungkan adanya Brexit. Penurunan ini bisa dikatakan terburuk dalam sejarah. Beberapa analis memperkirakan poundsterling bisa turun ke level US$1,10 jika Brexit benar-benar terjadi.

Baca Juga: Mencermati Isu Pajak di Tangan Kandidat PM Inggris

Brexit membuat Bank of England berencana memangkas tingkat suku bunga acuannya. Dalam hal ini, investor berharap ada tindakan sesegera mungkin dari Bank of England. Sementara pembuat kebijakan dapat melepaskan stimulus moneter dalam upaya mendukung pertumbuhan, jika warga Inggris memang memilih untuk keluar dari UE.

Ketua Fed Janet Yellen, seperti dilansir dari cnn.com, memperingatkan bahwa voting Brexit memiliki dampak ekonomi yang cukup besar, meski dirinya tidak percaya bahwa resesi ekonomi Amerika Serikat menjadi hasil yang paling mungkin. Pasar saham berjangka Amerika Serikat pun ikut mengalami kesurutan akibat kekhawatiran Brexit. (Amu)

Baca Juga: Benahi Regulasi Ekonomi, Indonesia Bakal Belajar dari Inggris

“Kita sudah meninggalkan serikat politik yang gagal. Sekarang kita bisa bergabung kembali dengan dunia sebagai bangsa dan pemerintahan yang independen,” kicau Farage dalam twitternya.

Baca Juga: Bankir Serukan Pemangkasan Pajak Setelah Keluar dari Uni Eropa

Tercatat sebanyak 46,5 juta warga Inggris memberikan suaranya dalam referendum yang digelar pada 23 Juni kemarin. Dengan hasil kemenangan di kubu Brexit, muncul tuntutan agar Perdana Menteri David Cameron segera mengundurkan diri.

Seusai hasil referendum Brexit, nilai tukar poundsterling jatuh terhadap dolar ke posisi terendah dalam 30 tahun terakhir. Pergerakan poundsterling memburuk dan mendekati level US$1,33. Bahkan, sekarang ini mata uang Inggris telah turun sebanyak 0,6 persen terhadap US$ atau menjadi US$1,3304.

Poundsterling turun di bawah US%1,40 karena investor memperhitungkan adanya Brexit. Penurunan ini bisa dikatakan terburuk dalam sejarah. Beberapa analis memperkirakan poundsterling bisa turun ke level US$1,10 jika Brexit benar-benar terjadi.

Baca Juga: Mencermati Isu Pajak di Tangan Kandidat PM Inggris

Brexit membuat Bank of England berencana memangkas tingkat suku bunga acuannya. Dalam hal ini, investor berharap ada tindakan sesegera mungkin dari Bank of England. Sementara pembuat kebijakan dapat melepaskan stimulus moneter dalam upaya mendukung pertumbuhan, jika warga Inggris memang memilih untuk keluar dari UE.

Ketua Fed Janet Yellen, seperti dilansir dari cnn.com, memperingatkan bahwa voting Brexit memiliki dampak ekonomi yang cukup besar, meski dirinya tidak percaya bahwa resesi ekonomi Amerika Serikat menjadi hasil yang paling mungkin. Pasar saham berjangka Amerika Serikat pun ikut mengalami kesurutan akibat kekhawatiran Brexit. (Amu)

Baca Juga: Benahi Regulasi Ekonomi, Indonesia Bakal Belajar dari Inggris
Topik : berita pajak internasional, pajak internasional, brexit, inggris, uni eropa
artikel terkait
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 08 September 2016 | 17:20 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Rabu, 22 Mei 2019 | 14:40 WIB
ITALIA
Kamis, 28 Maret 2019 | 16:54 WIB
SELANDIA BARU
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA
Kamis, 05 Juli 2018 | 10:45 WIB
NIKARAGUA