Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Batal Investasi di Filipina, 10 Perusahaan Dirgantara Lirik Vietnam

0
0

Salah satu aktivitas pabrik di industri dirgantara. (Foto: Siteselection.com)

MANILA, DDTCNews—Sedikitnya 10 perusahaan dirgantara mencabut rencana investasi mereka di Filipina. Sebagai gantinya, ke-10 perusahaan itu melirik Vietnam karena kejelasan insentif pajak dan ketidakpastian agenda reformasi pajak Filipina.

Presiden Asosiasi Industri Dirgantara Filipina Dennis Chan mengatakan ke-10 perusahaan tersebut sebelumnya telah mengumumkan niat melakukan operasi manufaktur dan perakitan di Filipina. Sebagian besar mereka pindah dari China, dipicu perang dagang Amerika Serikat (AS).

“Kami awalnya berpikir perang dagang AS dan China akan menguntungkan kami. Tapi kemudian muncul UU Reformasi Pajak di Filipina. Inilah rintangan yang membuat 10 perusahaan itu batal berinvestasi di Filipina,” ujarnya di Manila, Selasa (12/03/2019), kutip manilastandard.net.

Baca Juga: Insentif Pajak Digelontorkan, Evaluasi Berkelanjutan Jadi Krusial

Rockwell Collins Inc, salah satu investor bidang industri kedirgantaraan di Filipina, diketahui telah menunda rencana ekspansi pabrik ketiganya di Provinsi Batangas, Luzon, menyusul terbitnya Undang-Undang Reformasi Pajak pada 19 Desember 2018.

Rockwell yang sebelumnya bernama B/E Aerospace Inc., memproduksi dan memasok produk interior kabin pesawat, termasuk tempat duduk, penerangan, sistem oksigen, peralatan makanan dan minuman serta penyimpanan, dapur serta toilet ke pabrik-pabrik pesawat.

Terlepas dari masalah itu, Dennis menambahkan, pihaknya tetap optimistis dapat mencapai target ekspor pada 2022 senilai US$2,5 miliar. Untuk tahun ini sendiri, ia memperkirakan akan mencapai US$2 miliar, naik 11% dari capaian 2018 sebesar US$1,8 miliar.

Baca Juga: Soal Hambatan Investasi, Ini Kata Sri Mulyani

Untuk mencapai target itu, asosiasinya akan menggelar pameran pada 27-30 Maret 2019 untuk menampilkan berbagai mesin dan peralatan kedirgantaraan terbaru, serta untuk menunjukkan kapasitas Filipina sebagai tempat bagi perusahaan kedirgantaraan dan investasi global.

Acara tersebut, The Philippine Suppliers and Manufacturers 2019, adalah acara internasional yang fokus pada perdagangan timbal balik, di mana Filipina diharapkan mendatangkan investasi global dengan imbalan membeli mesin, peralatan, dan pesawat.

Acara ini juga akan memamerkan kemampuan teknologi Filipina dalam prosedur kedirgantaraan mulai dari permesinan, pengecoran suku cadang, pelapisan permukaan, pelapisan logam panas, pemotongan lembaran logam, pengecatan, injeksi plastik dan pengemasan. (Bsi)

Baca Juga: Indonesia di Tengah Kompetisi Perebutan Modal

“Kami awalnya berpikir perang dagang AS dan China akan menguntungkan kami. Tapi kemudian muncul UU Reformasi Pajak di Filipina. Inilah rintangan yang membuat 10 perusahaan itu batal berinvestasi di Filipina,” ujarnya di Manila, Selasa (12/03/2019), kutip manilastandard.net.

Baca Juga: Insentif Pajak Digelontorkan, Evaluasi Berkelanjutan Jadi Krusial

Rockwell Collins Inc, salah satu investor bidang industri kedirgantaraan di Filipina, diketahui telah menunda rencana ekspansi pabrik ketiganya di Provinsi Batangas, Luzon, menyusul terbitnya Undang-Undang Reformasi Pajak pada 19 Desember 2018.

Rockwell yang sebelumnya bernama B/E Aerospace Inc., memproduksi dan memasok produk interior kabin pesawat, termasuk tempat duduk, penerangan, sistem oksigen, peralatan makanan dan minuman serta penyimpanan, dapur serta toilet ke pabrik-pabrik pesawat.

Terlepas dari masalah itu, Dennis menambahkan, pihaknya tetap optimistis dapat mencapai target ekspor pada 2022 senilai US$2,5 miliar. Untuk tahun ini sendiri, ia memperkirakan akan mencapai US$2 miliar, naik 11% dari capaian 2018 sebesar US$1,8 miliar.

Baca Juga: Soal Hambatan Investasi, Ini Kata Sri Mulyani

Untuk mencapai target itu, asosiasinya akan menggelar pameran pada 27-30 Maret 2019 untuk menampilkan berbagai mesin dan peralatan kedirgantaraan terbaru, serta untuk menunjukkan kapasitas Filipina sebagai tempat bagi perusahaan kedirgantaraan dan investasi global.

Acara tersebut, The Philippine Suppliers and Manufacturers 2019, adalah acara internasional yang fokus pada perdagangan timbal balik, di mana Filipina diharapkan mendatangkan investasi global dengan imbalan membeli mesin, peralatan, dan pesawat.

Acara ini juga akan memamerkan kemampuan teknologi Filipina dalam prosedur kedirgantaraan mulai dari permesinan, pengecoran suku cadang, pelapisan permukaan, pelapisan logam panas, pemotongan lembaran logam, pengecatan, injeksi plastik dan pengemasan. (Bsi)

Baca Juga: Indonesia di Tengah Kompetisi Perebutan Modal
Topik : industri dirgantara, reformasi pajak Filipina, investasi
artikel terkait
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 28 Desember 2017 | 17:12 WIB
HONG KONG
Minggu, 30 September 2018 | 20:33 WIB
OECD INCLUSIVE FRAMEWORK ON BEPS
Jum'at, 28 September 2018 | 12:32 WIB
KASUS PENGHINDARAN PAJAK
berita pilihan
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 28 Desember 2017 | 17:12 WIB
HONG KONG
Minggu, 30 September 2018 | 20:33 WIB
OECD INCLUSIVE FRAMEWORK ON BEPS
Sabtu, 13 Agustus 2016 | 17:02 WIB
THAILAND
Kamis, 29 September 2016 | 12:01 WIB
INDIA
Rabu, 11 Oktober 2017 | 11:19 WIB
KROASIA
Senin, 29 Oktober 2018 | 11:40 WIB
AUSTRALIA BARAT
Selasa, 25 Juni 2019 | 14:28 WIB
FILIPINA
Selasa, 08 Agustus 2017 | 14:15 WIB
JEPANG
Kamis, 13 Oktober 2016 | 14:13 WIB
SWISS