Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Wow, 57% Penduduk Dukung Pajak Minuman Bergula

2
2

Ilustrasi. 

JAKARTA, DDTCNews – Lebih dari setengah penduduk Australia Barat mendukung pengenaan pajak atas minuman yang mengandung gula. Selain itu, masyarakat juga mendukung adanya pembatasan penjualan minuman tersebut.

Hal ini terungkap dalam survei LiveLighter Cancer Council WA. Sebanyak 57% penduduk mendukung pajak minuman yang mengandung gula. Sebanyak 60% lebih suka membatasi penjualan di gedung milik pemerintah seperti rumah sakit dan pusat rekreasi umum.

Melissa Ledger, Direktur Pencegahan dan Penelitian Kanker mengungkapkan ada hubungan yang jelas antara konsumsi berlebihan pada minuman yang mengandung gula dengan tingkat kelebihan berat badan.

Baca Juga: Bank Jateng Genjot Digitalisasi Pembayaran Pajak Daerah

“Kita tahu minuman yang mengandung gula memiliki sedikit bahkan tidak ada nilai gizinya. Ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang dapat berpengaruh pada risiko munculnya sejumlah penyakit kronis, termasuk jantung dan kanker,” ujarnya, seperti dilansir dari The West Australian, Senin (29/10/2018).

Menurutnya, pengurangan tingkat obesitas memerlukan pendekatan terpadu dari berbagai sektor, termasuk peningkatan ketersediaan dan akses makanan bergizi. Selain itu, paparan terhadap pemasaran pilihan makanan yang kurang sehati juga perlu dikurangi.

Adapun rata-rata kaleng minuman yang dijual, mengandung setidaknya sembilan sendok the gula. Fakta ini jelas berisiko membatalkan manfaat dari diet sehat. Apalagi, jumlah gula itu lebih dari dua kali lipat ukuran per hari yang disarankan untuk orang dewasa.

Baca Juga: Penerimaan Tertekan, Sri Mulyani Tetap Lanjutkan Kebijakan Insentif

Hal tersebut diperparah dengan kebiasaan konsumsi lebih dari satu kaleng per hari. Oleh karena itu, dia mendukung adanya kebijakan pemerintah yang mulai berlaku pada pekan depan dengan membatasi penjualan minuman yang mengandung gula di rumah sakit.

Sebanyak dua per tiga orang dewasa di Australia Barat kelebihan berat badan dan menderita obesitas. Ini menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat. Masalah kesehatan ini, menurut Melissa, cukup mengkhawatirkan dan harus segera ditangani.

“Orang-orang akan membuat pilihan yang lebih baik tentang apa yang mereka konsumsi. Kebijakan ini akan memainkan peran penting dalam menghentikan tingkat obesitas yang terus meningkat selama ini,” jelasnya. (kaw)

Baca Juga: Pajak Penjualan Naik, Menkeu Jepang: Langkah Tambahan Belum Dibutuhkan

Melissa Ledger, Direktur Pencegahan dan Penelitian Kanker mengungkapkan ada hubungan yang jelas antara konsumsi berlebihan pada minuman yang mengandung gula dengan tingkat kelebihan berat badan.

Baca Juga: Bank Jateng Genjot Digitalisasi Pembayaran Pajak Daerah

“Kita tahu minuman yang mengandung gula memiliki sedikit bahkan tidak ada nilai gizinya. Ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang dapat berpengaruh pada risiko munculnya sejumlah penyakit kronis, termasuk jantung dan kanker,” ujarnya, seperti dilansir dari The West Australian, Senin (29/10/2018).

Menurutnya, pengurangan tingkat obesitas memerlukan pendekatan terpadu dari berbagai sektor, termasuk peningkatan ketersediaan dan akses makanan bergizi. Selain itu, paparan terhadap pemasaran pilihan makanan yang kurang sehati juga perlu dikurangi.

Adapun rata-rata kaleng minuman yang dijual, mengandung setidaknya sembilan sendok the gula. Fakta ini jelas berisiko membatalkan manfaat dari diet sehat. Apalagi, jumlah gula itu lebih dari dua kali lipat ukuran per hari yang disarankan untuk orang dewasa.

Baca Juga: Penerimaan Tertekan, Sri Mulyani Tetap Lanjutkan Kebijakan Insentif

Hal tersebut diperparah dengan kebiasaan konsumsi lebih dari satu kaleng per hari. Oleh karena itu, dia mendukung adanya kebijakan pemerintah yang mulai berlaku pada pekan depan dengan membatasi penjualan minuman yang mengandung gula di rumah sakit.

Sebanyak dua per tiga orang dewasa di Australia Barat kelebihan berat badan dan menderita obesitas. Ini menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat. Masalah kesehatan ini, menurut Melissa, cukup mengkhawatirkan dan harus segera ditangani.

“Orang-orang akan membuat pilihan yang lebih baik tentang apa yang mereka konsumsi. Kebijakan ini akan memainkan peran penting dalam menghentikan tingkat obesitas yang terus meningkat selama ini,” jelasnya. (kaw)

Baca Juga: Pajak Penjualan Naik, Menkeu Jepang: Langkah Tambahan Belum Dibutuhkan
Topik : Australia Barat, gula, pajak, sugar tax
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 14 September 2019 | 15:45 WIB
ZONE EURO EROPA
Selasa, 23 April 2019 | 11:16 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 31 Agustus 2017 | 08:54 WIB
ZIMBABWE
berita pilihan
Senin, 13 Mei 2019 | 13:33 WIB
FILIPINA
Jum'at, 12 April 2019 | 17:02 WIB
JERMAN
Jum'at, 12 April 2019 | 18:16 WIB
BREXIT
Jum'at, 12 April 2019 | 18:45 WIB
AMERIKA SERIKAT
Jum'at, 12 April 2019 | 19:02 WIB
FINLANDIA
Senin, 15 April 2019 | 10:30 WIB
AMERIKA SERIKAT
Senin, 15 April 2019 | 15:22 WIB
AMERIKA SERIKAT
Senin, 15 April 2019 | 18:24 WIB
NIGERIA
Senin, 15 April 2019 | 18:43 WIB
JEPANG