Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Sri Mulyani Beri Kuliah Pengantar Ekonomi Makro di Kampus UI

A+
A-
3
A+
A-
3

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam memberikan kuliah perdana Pengantar Ilmu Ekonomi Makro di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Indonesia, Depok, Senin (5/2). (Foto: Kemenkeu

DEPOK, DDTCNews – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengisi materi kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kali ini, kuliah perdana Pengantar Ilmu Ekonomi Makro ia jabarkan kepada mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Senin (5/2).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut memaparkan ilmu ekonomi makro yang banyak berbicara tentang keseluruhan permintaan dan penawaran akan barang dan jasa, serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Sri Mulyani menjelaskan berbagai kebijakan yang disusun oleh pemerintah juga akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan karena tidak semua hal dapat diselesaikan oleh mekanisme pasar. Pada titik ini pemerintah punya kewenangan untuk melakukan intervensi.

Baca Juga: Belajar Pajak Digital, Peserta Taxplore UI Sambangi Menara DDTC

“Harga mempengaruhi inflasi, market bisa terjadi shock. Kemudian terjadi distruption. Disitu pemerintah masuk untuk intervensi,” paparnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa dalam makro ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Namun, PDB bukan satu-satunya indikator yang dilihat.

Terdapat indikator lain yang mulai dipakai untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, antara lain Human Development Index yang mengukur pendidikan, yaitu rata-rata lama sekolah. Dalam sektor kesehatan yakni rata-rata usia hidup dan kualitas kebahagiaan warga negaranya.

Baca Juga: Dosen FIA UI Beri Pendampingan Pengelolaan Perpajakan Dana Desa

“Bhutan mengembangkan happiness index. Saya gak tau sih cara mengukurnya tapi yang saya tahu kebahagiaan itu berpengaruh terhadap growth atau pertumbuhan ekonomi, orang yang cukup barang dan jasa, relatif happy,” terangnya.

Dalam pemaparannya, setidaknya ada empat peranan pemerintah dalam mencapai target ekonomi makro. Keempat peran itu ialah pertumbuhan ekonomi, menjaga angka pengangguran tidak tinggi, menjaga stabilitas harga dan menjaga stabilitas external balance.

"External balance itu hubungan Indonesia dengan dunia. Sedangkan GDP di compare antarnegara,” tutupnya. (Amu)

Baca Juga: Soal Pemajakan Ekonomi Digital, Ini Saran Pakar dari Australia

Sri Mulyani menjelaskan berbagai kebijakan yang disusun oleh pemerintah juga akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan karena tidak semua hal dapat diselesaikan oleh mekanisme pasar. Pada titik ini pemerintah punya kewenangan untuk melakukan intervensi.

Baca Juga: Belajar Pajak Digital, Peserta Taxplore UI Sambangi Menara DDTC

“Harga mempengaruhi inflasi, market bisa terjadi shock. Kemudian terjadi distruption. Disitu pemerintah masuk untuk intervensi,” paparnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa dalam makro ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Namun, PDB bukan satu-satunya indikator yang dilihat.

Terdapat indikator lain yang mulai dipakai untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, antara lain Human Development Index yang mengukur pendidikan, yaitu rata-rata lama sekolah. Dalam sektor kesehatan yakni rata-rata usia hidup dan kualitas kebahagiaan warga negaranya.

Baca Juga: Dosen FIA UI Beri Pendampingan Pengelolaan Perpajakan Dana Desa

“Bhutan mengembangkan happiness index. Saya gak tau sih cara mengukurnya tapi yang saya tahu kebahagiaan itu berpengaruh terhadap growth atau pertumbuhan ekonomi, orang yang cukup barang dan jasa, relatif happy,” terangnya.

Dalam pemaparannya, setidaknya ada empat peranan pemerintah dalam mencapai target ekonomi makro. Keempat peran itu ialah pertumbuhan ekonomi, menjaga angka pengangguran tidak tinggi, menjaga stabilitas harga dan menjaga stabilitas external balance.

"External balance itu hubungan Indonesia dengan dunia. Sedangkan GDP di compare antarnegara,” tutupnya. (Amu)

Baca Juga: Soal Pemajakan Ekonomi Digital, Ini Saran Pakar dari Australia
Topik : kampus, kuliah umum ekonomi, universitas indonesia
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Rabu, 16 Oktober 2019 | 15:08 WIB
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Selasa, 27 Maret 2018 | 19:32 WIB
PENDIDIKAN PAJAK
Kamis, 09 Maret 2017 | 08:44 WIB
INFORMASI PENDIDIKAN
Senin, 30 Oktober 2017 | 11:06 WIB
IYTC UNIVERSITAS INDONESIA
berita pilihan
Selasa, 21 Januari 2020 | 17:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019
Selasa, 21 Januari 2020 | 16:44 WIB
JEPANG
Selasa, 21 Januari 2020 | 16:41 WIB
OMNIBUS LAW
Selasa, 21 Januari 2020 | 16:24 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Selasa, 21 Januari 2020 | 15:32 WIB
SOSIALISASI PERPAJAKAN
Selasa, 21 Januari 2020 | 15:05 WIB
DKI JAKARTA
Selasa, 21 Januari 2020 | 15:05 WIB
AGENDA PAJAK
Selasa, 21 Januari 2020 | 14:52 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019
Selasa, 21 Januari 2020 | 14:40 WIB
FILIPINA