Review
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:14 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 17:13 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 07 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & alat
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 09:24 WIB
KURS PAJAK 21 OKTOBER - 27 OKTOBER 2020
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 15:24 WIB
MATRIKS AREA KEBIJAKAN
Rabu, 14 Oktober 2020 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 14 OKTOBER - 20 OKTOBER 2020
Komunitas
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 17:33 WIB
GENE SIMMONS:
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 16:34 WIB
AGENDA PAJAK
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 14:10 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 10:31 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kolaborasi
Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:10 WIB
KONSULTASI
Selasa, 20 Oktober 2020 | 09:45 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 14:13 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 11:54 WIB
KONSULTASI
Reportase

Mencermati Area Kebijakan di Era Globalisasi

A+
A-
1
A+
A-
1
Mencermati Area Kebijakan di Era Globalisasi

ERA Globalisasi, yang salah satunya ditandai dengan adanya keterbukaan perdagangan (trade opennes), kerap memunculkan suatu polemik. Adapun polemik tersebut mencakup adanya dampak pada pekerja, iklim persaingan, serta dampak lingkungan dan standar sosial yang utamanya berkaitan dengan impor.

Pekerja berkeahlian rendah (low-skilled worker) di beberapa negara telah kehilangan pekerjaan. Salah satunya disebabkan banyaknya perusahaan dalam negeri yang tidak dapat bersaing dan terpaksa gulung tikar karena membludaknya produk impor.

Selain itu, globalisasi juga erat kaitannya dengan kemajuan teknologi. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan struktur perusahaan dari yang awalnya bersifat padat karya (labor-intensive) menjadi padat modal (capital-intensive). Kondisi ini tentu berdampak pada ketenagakerjaan, khususnya bagi para pekerja yang tergolong dalam kategori low-skilled worker.

Baca Juga: ‘Tarif Pajak yang Tidak Dapat Diterima’

Perusahaan yang memiliki modal atau kapabilitas bermobilitas tinggi akan lebih sulit untuk dipajaki. Alhasil, pekerja yang akan menanggung beban pajak beserta penyesuaiannya. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan intervensi dengan kebijakan-kebijakan yang sejatinya merupakan suatu bentuk perlindungan sosial.

Sesuai dengan World Development Report (WDR) yang dirilis oleh World Bank Group pada tahun ini, pemerintah perlu menyeimbangkan kebijakan yang menyasar pada hambatan perdagangan barang dan jasa – seperti subsidi dan aktivitas badan usaha milik negara (BUMN) – dengan kebijakan yang bersifat proteksi seperti pengenaan pajak, penyediaan payung hukum, serta pembangunan infrastruktur yang memadai.

Tabel berikut menjabarkan area-area kebijakan yang dapat menciptakan konsekuensi negatif terkait kerja sama perdagangan serta solusi kooperatif yang dirasa dapat menguntungkan kedua belah pihak. Adapun area-area kebijakan yang dimaksud mencakup pengenaan bea, pemberian subsidi, persyaratan, pengenaan pajak, kebijakan investasi asing, regulasi persaingan, serta pembangunan infrastruktur.

Baca Juga: Meski Ada Pandemi, BKPM Optimistis Target Investasi Bisa Tercapai


Pertama, dalam hal pengenaan bea dan pembatasan lainnya, solusi kooperatif yang ditawarkan berbentuk kesepakatan bersama dalam hal pengurangan proteksi dan penyediaan payung hukum untuk mengurangi ketidakpastian kebijakan. Dengan demikian, tidak terjadi suatu tarik-ulur antara kedua negara dalam melakukan transaksi perdagangan.

Kedua, solusi kooperatif dalam memitigasi pemberian subsidi yang bersifat mengganggu, yaitu dengan adanya suatu kajian yang mendalam oleh pemerintah pada masing-masing jenis subsidi. Kajian yang berbasis data dan penelitian yang valid akan dapat membantu pemerintah dalam mengambil keputusan-keputusan yang tidak berdampak buruk bagi mitra dagang dan memengaruhi hubungan bilateral.

Baca Juga: Tahun Depan, BKPM Bidik 1,3 Juta Tenaga Kerja Terserap dari Investasi

Ketiga, solusi kooperatif dalam hal aturan persyaratan lebih kepada adanya harmonisasi, pengakuan kedua belah pihak, serta payung hukum yang jelas pada para eksportir. Hal-hal tersebut diyakini dapat menurunkan biaya kepatuhan sehingga minat investasi asing pun dapat terjaga.

Selain itu, regulasi yang jelas, berkepastian, dan berimbang akan mendorong eksportir dari negara-negara mitra dagang untuk lebih memahami perspektif pemerintah dalam upaya melindungi konsumen, lingkungan, dan kekayaan intelektual

Keempat, solusi kooperatif dalam hal pajak penghasilan (PPh) badan dan kebijakan investasi asing mengacu pada koordinasi tarif pajak, yakni masalah Base Erosion and Profit Shifting (BEPS), misalnya, pajak pertambahan nilai (PPN) yang berbasis destination-based.

Baca Juga: Tiga Penyebab Rendahnya Serapan Insentif PPh Pasal 21 DTP

Dengan demikian, perusahaan hanya dipajaki berdasarkan lokasi sumber penghasilan. Hal ini dapat mengurangi motivasi negara-negara dalam bersaing menurunkan tarif pajak demi membuat salah satu perusahaan untuk berdomisili dan melakukan usaha di yurisdiksinya masing-masing.

Kelima, solusi kooperatif dalam hukum persaingan, kepemilikan publik, dan kontrol lebih kepada kerjasama dan kajian yang dapat mengontrol perilaku perusahaan. Perilaku kooperatif dari para pelaku usaha akan menciptakan iklim investasi maupun perdagangan yang adil dan sehat.

Terakhir, solusi kooperatif pada investasi infrastruktur yang memfasilitasi perdagangan lebih kepada koordinasi investasi untuk mengeksploitasi sinergi lintas negara. Infrastruktur tersebut dapat secara optimal mengurangi biaya perdagangan dan menghindari underinvestment akibat kurangnya koordinasi.

Baca Juga: Tumbuh Tipis, Investasi Masih Melambat dari Capaian Tahun Lalu

Pada intinya, kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah sudah seharusnya mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang ditimbulkan. Dengan demikian, pemerintah dapat menyeimbangkan fungsi proteksi sekaligus fungsi pendorong investasi atau kegiatan perdagangan. Dengan demikian, kebijakan yang optimal dan minim distorsi dapat dihasilkan.*

Topik : narasi data, matriks area kebijakan, PPh, PPN, subsidi, investasi
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Senin, 19 Oktober 2020 | 16:49 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 19 Oktober 2020 | 16:20 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 19 Oktober 2020 | 16:06 WIB
JEPANG
Senin, 19 Oktober 2020 | 12:36 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
berita pilihan
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 18:00 WIB
INGGRIS
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 17:33 WIB
GENE SIMMONS:
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 17:00 WIB
LITERASI PAJAK
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 16:54 WIB
KOTA BANDUNG
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 16:34 WIB
AGENDA PAJAK
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 16:06 WIB
PP 58/2020
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 15:45 WIB
KOTA PEKANBARU
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 15:38 WIB
PENANAMAN MODAL
Jum'at, 23 Oktober 2020 | 15:15 WIB
KINERJA INVESTASI