JAKARTA, DDTCNews - Indonesia dan Australia melanjutkan kerja sama ekonomi melalui AustraliaāIndonesia Partnership for Economic Development (Prospera) fase II guna mendukung reformasi kelembagaan, mempercepat aksesi Indonesia ke OECD dan CPTPP, serta mengembangkan ekonomi digital dan hubungan bilateral.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan program kemitraan strategis Prospera fase II dengan Australia ini diperpanjang untuk periode 2026-2030.
"Saya mendorong seluruh kementerian dan lembaga untuk terlibat aktif serta menerjemahkan berbagai formulasi kebijakan menjadi hasil-hasil yang konkret bagi masyarakat," ujarnya, dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
Airlangga menyampaikan Prospera fase II berfokus mendukung dua agenda reformasi utama, termasuk proses aksesi Indonesia menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Proses aksesi menjadi negara OECD ditargetkan rampung pada 2028. Saat ini, Indonesia telah menyelesaikan 20 dari 25 bagian initial memorandum atau prosesnya sudah mencapai 80%.
Agenda reformasi lainnya, mempercepat aksesi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) segera disepakati. Indonesia diharapkan dapat memperoleh persetujuan seluruh negara anggota dalam pertemuan yang dijadwalkan pada November 2026.
Airlangga mengatakan Prospera juga mendukung pengembangan ekonomi digital. Kerja sama ini diharapkan membantu penyiapan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dukungan tersebut sejalan dengan upaya Indonesia memperkuat ekonomi digital, serta mempersiapkan penandatanganan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ASEAN di Manila, Filipina, pada November 2026.
Airlangga menambahkan kerja sama pariwisata dan konektivitas udara akan diperluas. Pemerintah mendorong penambahan penerbangan langsung antara kota-kota di Indonesia dan Australia.
"Keberhasilan Prospera fase II tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari perbaikan berkelanjutan pada kualitas kelembagaan ekonomi Indonesia serta manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Kemenko Perekonomian dan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia bersiap menggelar Prospera Advisory Board Meeting. Pertemuan itu dimaksudkan untuk meninjau arah strategis dan memfinalisasi rencana kerja strategis serta rencana kerja tahunan agar selaras dengan prioritas pembangunan nasional.
Secara umum, berbagai kegiatan dalam kemitraan ini bertujuan mendukung pemerintah Indonesia untuk merancang dan menerapkan kebijakan serta memperkuat kelembagaan guna memajukan kerja sama dan pembangunan ekonomi.
Adapun target output dari kemitraan ini adalah terciptanya kelembagaan ekonomi Indonesia yang kuat untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya tahan. Selain itu, kemitraan ini diharapkan dapat berkontribusi pada transformasi Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi.
Kerja sama kedua negara mencakup perencanaan yang bersifat konsultatif (consultative planning), keterlibatan bersama dalam menentukan prioritas dan kerangka kerja (responsive and prioritised engagement), serta kolaborasi dengan mitra-mitra di Indonesia melalui pendekatan yang fleksibel (locally led and adaptive delivery). (dik)
