JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Pajak (DJP) menggelar Kumpul Taxmin dan Kontributor Konten DJP 2026. Forum tahunan ini menjadi wadah penguatan kapasitas para pengelola media sosial dan kontributor konten internal DJP dalam mengomunikasikan isu perpajakan kepada masyarakat.
Kegiatan pada 5-7 Oktober 2026 ini mempertemukan Taxmin, pembuat konten, kontributor situs, serta Duta Komunikasi DJP dari berbagai unit kerja. Selain strategi komunikasi, peserta mendapatkan beragam materi, seperti pengelolaan media sosial, desain grafis, hingga penulisan artikel.
Adapun peserta kelas kontributor situs memperoleh pembekalan dari Kepala Seksi Pengelolaan Situs DJP Yacob Yahya. Selain mengulas berbagai aspek penting dalam penulisan artikel, Yacob mendorong para kontributor untuk terus mengeksplorasi ide dan mengembangkan kreativitas dalam menyajikan informasi kepada pembaca.
“Ada ungkapan ‘write drunk, edit sober’ yang artinya biarkan kreativitas mengalir tanpa batas saat menulis, tetapi gunakan logika dan pikiran yang jernih saat menyunting,” katanya, Selasa (6/10/2026).
Hal senada disampaikan perwakilan DDTC, yakni Chief Editor DDTCNews Kurniawan Agung Wicaksono, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut. Menurutnya, menulis membutuhkan kreativitas, tetapi pada saat yang sama sangat bertumpu pada logika.
Kurniawan mengatakan menulis bahkan lebih banyak mengandalkan sains daripada seni. Penulis perlu menguasai substansi, memperkaya referensi, memahami perspektif yang berbeda, sekaligus mampu menyusun gagasan secara logis agar mudah dipahami pembaca.
“Bekal utama menulis adalah logika yang tepat dan kreativitas tanpa henti. Keduanya didapat dari kebiasaan membaca. Karena itu, strong read, strong write,” ujarnya.
Menurut Kurniawan, prinsip tersebut tetap berlaku di tengah perkembangan artificial intelligence (AI). Kehadiran AI memang membuat proses menghasilkan teks menjadi jauh lebih cepat, tetapi menulis tidak berhenti pada menghasilkan rangkaian kata. Daya jelajah penulis akan berkorelasi dengan output.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak membedakan karakter berita, artikel pada Suluh Pajak DDTCNews, serta opini. Berita bertujuan menyampaikan fakta, artikel pada Suluh Pajak membantu publik memahami persoalan perpajakan, sedangkan opini menawarkan gagasan dan argumentasi.
Sesi penulisan artikel berlangsung interaktif. Peserta berdiskusi mengenai pencarian ide dan sudut pandang, pemanfaatan AI, hingga cara mengemas persoalan perpajakan menjadi tulisan yang relevan bagi pembaca. Sebagian peserta juga berbagi pengalaman menyangkut proses menulis selama ini.
Adapun 2 orang peserta teraktif mendapatkan buku dari DDTC berjudul Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda: Panduan, Interpretasi, dan Aplikasi (Edisi Kedua). Sebagai informasi, konsistensi penerbitan buku menjadi wujud konkret pesan Founder DDTC Darussalam, yaitu baca, tulis, dan publikasi.
Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut, para penulis diajak untuk terus menuangkan ide dan gagasan perpajakan melalui tulisan. Tidak hanya untuk publikasi di situs web ataupun majalah internal DJP, tulisan juga bisa dikirimkan untuk kanal Suluh Pajak DDTCNews.
Kanal hasil kolaborasi DJP dan DDTCNews tersebut menjadi ruang publikasi tulisan-tulisan karya pegawai DJP yang mengulas berbagai isu perpajakan, baik dari sisi kebijakan, administrasi, maupun dinamika praktik di lapangan.
Kehadiran kanal Suluh Pajak diharapkan menjadi wadah strategis bagi otoritas pajak untuk makin menggencarkan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat. Melalui tulisan yang komunikatif dan berbasis pengalaman, kanal ini juga berperan sebagai katalisator peningkatan literasi perpajakan nasional.
Sebagai informasi, setelah sesi pembekalan, peserta mengikuti dinamika kelompok untuk mempraktikkan penyusunan konten dan penulisan artikel. Kegiatan tahun ini menargetkan berbagai rancangan konten media sosial dan naskah artikel populer yang siap dikurasi. (kaw)
