Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

PDB Positif, Kenaikan Pajak Penjualan Masih Dikhawatirkan, Ada Apa?

1
1

Ilustrasi. (foto: japan guide)

JAKARTA, DDTCNews – Ekonomi Jepang tumbuh 2,1% (year on year) pada kuartal I/2019. Meskipun positif, data tersebut masih menyisakan kekhawatiran jika rencana kenaikan pajak penjualan (sales tax) tetap dieksekusi pada Oktober 2019.

Berdasarkan data pemerintah, pertumbuhan 2,1% tersebut lebih dikarenakan impor yang turun 4,6%, lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor sekitar 2,4%. Neraca dari ekspor—impor ini menambah 0,4 poin persentase ke produk domestik bruto (PDB).

Kondisi tersebut sejatinya menjadi sinyal lemahnya permintaan. Selain itu, angka-angka yang dirilis pada Senin (20/5/2019) masih data awal. Pasalnya, data biasa berbeda secara signifikan ketika hasil revisi dirilis beberapa minggu kemudian.

Baca Juga: Diketahui Hindari Pajak, Facebook Jepang Kena Pungutan Tambahan

“Semua komponen terpenting dari PDB negatif. Ekonomi sudah memuncak, jadi kita cenderung mengalami resesi ringan. Tidak ada yang keberatan menunda kenaikan pajak atas konsumsi,” kata Kepala Ekonom Tokai Tokyo Research Center, seperti dikutip pada Selasa (21/5/2019).

Adapun konsumsi swasta turun dan belanja modal masing-masing mengalami penurunan 0,1% dan 0,3%. Fakta ini memunculkan keraguan terhadap perspektif pemerintah bahwa permintaan domestik yang kuat akan mengimbangi perlambatan ekspor.

Tidak mengherankan pula jika ada seruan dari beberapa mantan pembuat kebijakan untuk menunda kenaikan pajak penjualan untuk mengantisipasi memburuknya kondisi domestik maupun eksternal. Beberapa analis memperingatkan bahwa ekonomi masih menghadapi tantangan berat di kuartal mendatang.

Baca Juga: Raih Mayoritas Kursi Majelis Tinggi, PM Abe Kerek Tarif Pajak

“Pengeluaran konsumen kemungkinan akan tetap lemah karena upah tidak naik sebanyak itu. Pada kuartal kedua, PDB bisa menjadi nol atau sedikit negatif karena ekspor akan tetap lemah. Ini, dikombinasikan dengan melemahnya belanja modal, berarti ada risiko resesi,” jelas Kentaro Arita, ekonom senior Mizuho Research Institute.

Seperti diketahui, data PDB muncul ketika ada proyeksi Jepang akan dalam resesi karena ekspor dan output pabrik terpukul oleh perlambatan ekonomi China dan perang dangan China dan Amerika Serikat. Hal ini memunculkan spekulasi penundaan kenaikan pajak penjualan ketiga kalinya. Apalagi, ada pemilihan majelis tinggi.

Namun, Menteri Ekonomi Toshimitsu Motegi mengatakan tidak ada perubahan pada rencana pemerintah untuk menaikkan pajak penjualan dari 8% menjadi 10% pada Oktober 2019. Menurutnya, data-data menunjukkan fundamental perekonomian masih cukup kuat.

Baca Juga: PM Abe: Tarif Pajak Penjualan 10% Cukup untuk 10 Tahun Mendatang

“Tidak ada perubahan pada pandangan kami bahwa fundamental untuk mendukung permintaan domestik tetap solid,” ujarnya setelah data perekonomian dirilis, seperti dilansir The Japan Times. (kaw)

Kondisi tersebut sejatinya menjadi sinyal lemahnya permintaan. Selain itu, angka-angka yang dirilis pada Senin (20/5/2019) masih data awal. Pasalnya, data biasa berbeda secara signifikan ketika hasil revisi dirilis beberapa minggu kemudian.

Baca Juga: Diketahui Hindari Pajak, Facebook Jepang Kena Pungutan Tambahan

“Semua komponen terpenting dari PDB negatif. Ekonomi sudah memuncak, jadi kita cenderung mengalami resesi ringan. Tidak ada yang keberatan menunda kenaikan pajak atas konsumsi,” kata Kepala Ekonom Tokai Tokyo Research Center, seperti dikutip pada Selasa (21/5/2019).

Adapun konsumsi swasta turun dan belanja modal masing-masing mengalami penurunan 0,1% dan 0,3%. Fakta ini memunculkan keraguan terhadap perspektif pemerintah bahwa permintaan domestik yang kuat akan mengimbangi perlambatan ekspor.

Tidak mengherankan pula jika ada seruan dari beberapa mantan pembuat kebijakan untuk menunda kenaikan pajak penjualan untuk mengantisipasi memburuknya kondisi domestik maupun eksternal. Beberapa analis memperingatkan bahwa ekonomi masih menghadapi tantangan berat di kuartal mendatang.

Baca Juga: Raih Mayoritas Kursi Majelis Tinggi, PM Abe Kerek Tarif Pajak

“Pengeluaran konsumen kemungkinan akan tetap lemah karena upah tidak naik sebanyak itu. Pada kuartal kedua, PDB bisa menjadi nol atau sedikit negatif karena ekspor akan tetap lemah. Ini, dikombinasikan dengan melemahnya belanja modal, berarti ada risiko resesi,” jelas Kentaro Arita, ekonom senior Mizuho Research Institute.

Seperti diketahui, data PDB muncul ketika ada proyeksi Jepang akan dalam resesi karena ekspor dan output pabrik terpukul oleh perlambatan ekonomi China dan perang dangan China dan Amerika Serikat. Hal ini memunculkan spekulasi penundaan kenaikan pajak penjualan ketiga kalinya. Apalagi, ada pemilihan majelis tinggi.

Namun, Menteri Ekonomi Toshimitsu Motegi mengatakan tidak ada perubahan pada rencana pemerintah untuk menaikkan pajak penjualan dari 8% menjadi 10% pada Oktober 2019. Menurutnya, data-data menunjukkan fundamental perekonomian masih cukup kuat.

Baca Juga: PM Abe: Tarif Pajak Penjualan 10% Cukup untuk 10 Tahun Mendatang

“Tidak ada perubahan pada pandangan kami bahwa fundamental untuk mendukung permintaan domestik tetap solid,” ujarnya setelah data perekonomian dirilis, seperti dilansir The Japan Times. (kaw)

Topik : Jepang, pajak penjualan, sales tax, PM Abe
Komentar
Dapatkan hadiah berupa merchandise DDTCNews masing-masing senilai Rp250.000 yang diberikan kepada dua orang pemenang. Redaksi akan memilih pemenang setiap dua minggu sekali, dengan berkomentar di artikel ini! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 13 Mei 2019 | 13:33 WIB
FILIPINA
Kamis, 14 Juli 2016 | 11:33 WIB
INGGRIS
Jum'at, 12 April 2019 | 17:02 WIB
JERMAN
Kamis, 14 Juli 2016 | 14:26 WIB
INGGRIS
berita pilihan
Rabu, 29 Maret 2017 | 15:50 WIB
MALAYSIA
Jum'at, 24 Maret 2017 | 10:56 WIB
AMERIKA SERIKAT
Selasa, 14 Februari 2017 | 11:55 WIB
THAILAND
Kamis, 06 Juli 2017 | 08:11 WIB
ETHIOPIA
Kamis, 18 Mei 2017 | 17:02 WIB
SPANYOL
Jum'at, 05 Agustus 2016 | 07:32 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 22 Maret 2017 | 15:36 WIB
INDIA
Kamis, 03 November 2016 | 07:07 WIB
KENYA
Rabu, 28 September 2016 | 17:07 WIB
PAKISTAN
Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:11 WIB
FILIPINA