Fokus
Data & Alat
Rabu, 12 Mei 2021 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 12 -25 MEI 2021
Rabu, 05 Mei 2021 | 14:32 WIB
STATISTIK TARIF PAJAK
Rabu, 05 Mei 2021 | 08:55 WIB
KURS PAJAK 5 MEI - 11 MEI 2021
Selasa, 04 Mei 2021 | 16:30 WIB
KMK 25/2021
Komunitas
Sabtu, 15 Mei 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Rabu, 12 Mei 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Senin, 10 Mei 2021 | 17:30 WIB
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
Senin, 10 Mei 2021 | 10:18 WIB
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Reportase
Perpajakan.id

Di Depan Fitch Ratings, Sri Mulyani Beberkan Posisi Utang Indonesia

A+
A-
4
A+
A-
4
Di Depan Fitch Ratings, Sri Mulyani Beberkan Posisi Utang Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. 

JAKARTA, DDTCNews – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut posisi utang Indonesia masih tergolong rendah di tengah pandemi Covid-19.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah memperbesar pembiayaan pada APBN untuk menangani pandemi Covid-19 beserta dampaknya kepada masyarakat. Meski demikian, dia menyebut rasio utang Indonesia masih berada pada kisaran 38% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Rasio utang terhadap PDB Indonesia masih di kisaran 38% terhadap PDB. Masih relatif rendah tetapi harus diperhatikan," katanya dalam webinar Fitch on Indonesia 2021, Rabu (24/3/2021).

Baca Juga: Curhat Sri Mulyani saat Mengambil Kebijakan di Tengah Pandemi Covid-19

Sri Mulyani mengatakan APBN telah berperan sebagai countercyclical dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dari tekanan pandemi Covid-19. Pemerintah pun memperlebar defisit APBN hingga di atas 3% terhadap PDB sepanjang 2020-2022 untuk mendukung pemulihan ekonomi tersebut.

Dia menyebut fokus belanja pemerintah saat ini terdiri atas penanganan kesehatan, jaring pengaman sosial, dukungan UMKM, serta dorongan pemulihan dunia usaha. Dengan tingginya kebutuhan belanja akibat pandemi Covid-19, dia menilai posisi utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya.

Secara umum, Sri Mulyani menilai ada banyak faktor yang diwaspadai pemerintah saat ini, termasuk kenaikan imbal hasil atau yield obligasi AS (US Treasury), khususnya tenor 10 tahun. Menurutnya, kebijakan AS bisa mempengaruhi pasar keuangan Indonesia, terutama soal capital outflow.

Baca Juga: Kabar Baik! Indeks Keyakinan Konsumen Akhirnya di Zona Positif

"Pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen untuk melanjutkan upaya mempercepat pemulihan ekonomi dengan memperhatikan stabilitas ekonomi," ujarnya.

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah hingga akhir Februari 2021 mencapai Rp6.361 triliun. Posisi utang tersebut naik 2,05% dibandingkan dengan posisi pada Januari 2021 senilai Rp6.233 triliun.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat Fitch Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada posisi BBB, dengan outlook stabil. Sri Mulyani pun menyebut Fitch memandang Indonesia sebagai negara yang masih diminati investor.

Baca Juga: Kejaksaan Bantu Pemkab Ini Tagih Piutang Pajak Rp100 Miliar

Dia kemudian menegaskan pemerintah akan terus berupaya mempercepat penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. (kaw)

Topik : utang, Sri Mulyani, Indonesia, kebijakan fiskal
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 30 April 2021 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Jum'at, 30 April 2021 | 14:03 WIB
LAPORAN BANK INDONESIA
Jum'at, 30 April 2021 | 11:44 WIB
TATA KELOLA ORGANISASI
Jum'at, 30 April 2021 | 09:11 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL
berita pilihan
Minggu, 16 Mei 2021 | 15:01 WIB
THAILAND
Minggu, 16 Mei 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN SRAGEN
Minggu, 16 Mei 2021 | 13:01 WIB
PAJAK KENDARAAN
Minggu, 16 Mei 2021 | 12:01 WIB
PENINDAKAN HUKUM
Minggu, 16 Mei 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 16 Mei 2021 | 10:01 WIB
INSENTIF PAJAK DAERAH
Minggu, 16 Mei 2021 | 09:01 WIB
KOTA DEPOK
Minggu, 16 Mei 2021 | 08:01 WIB
EDUKASI PAJAK
Minggu, 16 Mei 2021 | 07:01 WIB
HASIL AUDIT BPKP
Minggu, 16 Mei 2021 | 06:01 WIB
ROKOK ILEGAL