Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Resesi Jangka Pendek Ekonomi Pasca-Brexit

0
0

LONDON, DDTCNews – Ernst and Young (EY) Item Club memprediksi pertumbuhan ekonomi Inggris akan mencapai 0,4% dari 2,6% akibat adanya ketidakpastian ekonomi sejak keputusan Inggris untuk hengkang dari Uni Eropa.

Selain itu, ada juga prediksi Bank Sentral Inggris yang akan memangkas suku bunga ke titik nol pada akhir 2016. Inggris akan menghadapi resesi ekonomi dalam jangka pendek selama setahun sebagai dampak dari Brexit.

“Munculnya ketidakpercayaan pasar pada Inggris akan menjadi salah satu penyebab jatuhnya mata uang pounds,” ungkap EY Item Club sebagaimana dikutip The Guardians.

Baca Juga: 'Seperti Berdiri di Dalam Ember dan Mengangkat Diri dengan Gagangnya'

Pemangkasan tarif pajak juga kemungkinan akan dilakukan. Hal tersebut karena pemerintah Inggris yang kini berusaha keras untuk mendorong ekonomi pasca keputusan mengejutkan dari hasil akhir voting.

Dalam laporan EY Item Club disebutkan, investasi usaha akan jatuh 2%  pada tahun depan dan tingkat pengangguran akan mencapai 7,1% pada 2019. Selain itu, laporan tersebut juga mengatakan tingkat konsumsi akan jatuh 0,6% persen di 2017 dengan pengaruh ke sejumlah sektor terbesar.

Sementara itu, harga penjualan perumahan atau properti akan jatuh sebanyak 4% persen. “Dalam situasi ini, harga jual perumahan terus melemah,” ungkap laporan itu.

Di tengah prediksi ekonomi yang suram, ekspor diprediksikan mengalami kenaikan sebesar 3,4% pada tahun depan karena lemahnya nilai mata uang pounds yang akan membuat produk Inggris menjadi lebih kompetitif.

Baca Juga: Bantu Toko Jalanan, Pungutan Baru bagi Peritel Online Diusulkan

Hal ini juga dikombinasikan dengan lemahnya permintaan domestik yang akan mengerek defisit neraca berjalan mencapai £58 miliar atau US$77 miliar pada 2017. (Amu)

“Munculnya ketidakpercayaan pasar pada Inggris akan menjadi salah satu penyebab jatuhnya mata uang pounds,” ungkap EY Item Club sebagaimana dikutip The Guardians.

Baca Juga: 'Seperti Berdiri di Dalam Ember dan Mengangkat Diri dengan Gagangnya'

Pemangkasan tarif pajak juga kemungkinan akan dilakukan. Hal tersebut karena pemerintah Inggris yang kini berusaha keras untuk mendorong ekonomi pasca keputusan mengejutkan dari hasil akhir voting.

Dalam laporan EY Item Club disebutkan, investasi usaha akan jatuh 2%  pada tahun depan dan tingkat pengangguran akan mencapai 7,1% pada 2019. Selain itu, laporan tersebut juga mengatakan tingkat konsumsi akan jatuh 0,6% persen di 2017 dengan pengaruh ke sejumlah sektor terbesar.

Sementara itu, harga penjualan perumahan atau properti akan jatuh sebanyak 4% persen. “Dalam situasi ini, harga jual perumahan terus melemah,” ungkap laporan itu.

Di tengah prediksi ekonomi yang suram, ekspor diprediksikan mengalami kenaikan sebesar 3,4% pada tahun depan karena lemahnya nilai mata uang pounds yang akan membuat produk Inggris menjadi lebih kompetitif.

Baca Juga: Bantu Toko Jalanan, Pungutan Baru bagi Peritel Online Diusulkan

Hal ini juga dikombinasikan dengan lemahnya permintaan domestik yang akan mengerek defisit neraca berjalan mencapai £58 miliar atau US$77 miliar pada 2017. (Amu)

Topik : brexit, inggris, dampak brexit
artikel terkait
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
berita pilihan
Jum'at, 24 Mei 2019 | 17:11 WIB
NEPAL
Jum'at, 24 Mei 2019 | 13:16 WIB
IRLANDIA
Kamis, 23 Mei 2019 | 15:04 WIB
PENGURANGAN EMISI KARBON
Kamis, 23 Mei 2019 | 11:48 WIB
PRANCIS
Kamis, 23 Mei 2019 | 11:09 WIB
ISRAEL
Rabu, 22 Mei 2019 | 14:40 WIB
ITALIA
Rabu, 22 Mei 2019 | 11:50 WIB
JEPANG
Selasa, 21 Mei 2019 | 18:24 WIB
EKONOMI DIGITAL