Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

ATO: Hati-hati Ada Pencurian ID

0
0

SYDNEY, DDTCNews – Australian Taxation Office (ATO) memperingatkan kepada seluruh wajib pajak untuk melindungi identitas (ID) pajak mereka. Pasalnya, pencurian identitas biasanya marak terjadi selama waktu pelaporan pajak.

Asisten Komisaris Graham Whyte merekomendasikan agar wajib pajak melindungi nomor berkas pajak mereka dengan menghapus atau menghancurkan catatan itu dari dokumen sebelum membuangnya ke tong sampah. Selain itu, ia juga menyarankan agar wajib pajak tidak menginformasikan kata sandinya kepada siapa pun, dan menggantinya secara berkala.

“Dengan jumlah informasi pribadi yang dipertukarkan saat pelaporan pajak, kesempatan ini dimanfaatkan oleh kejahatan yang sangat terorganisir. Mereka menggunakan berbagai metode untuk mencuri informasi pribadi untuk melakukan penipuan restitusi pajak,” ujar Whyte.

Baca Juga: Melindungi Klien Pengemplang Pajak Ikut Dipenjara

Pada 2014-2015, terjadi lebih dari 32 ribu kasus pencurian identitas sebagaimana dilaporkan ATO. Dari jumlah tersebut, dilaporkan sebanyak lebih dari 22 ribu kasus pencurian ID terjadi di Juli-November yang berujung pada banyaknya kasus penipuan restitusi pajak yang harus dihadapi pihak ATO.

“Ada 677 insiden kejahatan identitas yang berkaitan dengan penipuan restitusi pajak yang ditangani oleh ATO,” tambahnya.

Whyte menekankan ATO telah mengupayakan berbagai cara untuk menjaga kerahasiaan data wajib pajak. Contohnya, seperti sistem yang sudah diterapkan berbagai bank, ATO kini mengirimkan notifikasi untuk memastikan pengguna ID adalah pemilik sebenarnya.

Baca Juga: OECD Rilis Catatan Kebijakan Pajak Ekonomi Digital

Notifikasi tersebut akan diterima wajib pajak melalui SMS atau email ketika akun online ATO wajib pajak di akses dan dihubungkan ke akun myGOV lainnya.

“Kami menggunakan analisis canggih untuk mengungkap tindak kejahatan identitas dan penipuan restitusi pajak. ATO juga secara konsisten memonitor sistem online yang dijalankannya untuk mengidentifikasi jika terjadi aktivitas yang tidak biasa,” jelas Whyte.

Sistem itu akan membantu otoritas untuk menghentikan kegiatan akses yang salah, tidak sah atau terindikasi penipuan restitusi, sekaligus juga memberikan keamanan ekstra dengan mencantumkan pemeriksaan ulang terhadap akun atau rekening bank palsu. 

Baca Juga: Perlunya Standarisasi Laporan Transparansi Pajak

Untuk mengatasi hal ini, sebagaimana dilansir Tax News, ATO telah bekerjasama dengan Identity Support Centre yang akan memberikan bantuan kepada wajib pajak yang ID-nya dicuri, disalahgunakan atau dibajak. Selain itu, ATO juga bekerja sama dengan lembaga penegak hukum untuk mengambil tindakan hukum terkait kasus penipuan ini. (Amu)

“Dengan jumlah informasi pribadi yang dipertukarkan saat pelaporan pajak, kesempatan ini dimanfaatkan oleh kejahatan yang sangat terorganisir. Mereka menggunakan berbagai metode untuk mencuri informasi pribadi untuk melakukan penipuan restitusi pajak,” ujar Whyte.

Baca Juga: Melindungi Klien Pengemplang Pajak Ikut Dipenjara

Pada 2014-2015, terjadi lebih dari 32 ribu kasus pencurian identitas sebagaimana dilaporkan ATO. Dari jumlah tersebut, dilaporkan sebanyak lebih dari 22 ribu kasus pencurian ID terjadi di Juli-November yang berujung pada banyaknya kasus penipuan restitusi pajak yang harus dihadapi pihak ATO.

“Ada 677 insiden kejahatan identitas yang berkaitan dengan penipuan restitusi pajak yang ditangani oleh ATO,” tambahnya.

Whyte menekankan ATO telah mengupayakan berbagai cara untuk menjaga kerahasiaan data wajib pajak. Contohnya, seperti sistem yang sudah diterapkan berbagai bank, ATO kini mengirimkan notifikasi untuk memastikan pengguna ID adalah pemilik sebenarnya.

Baca Juga: OECD Rilis Catatan Kebijakan Pajak Ekonomi Digital

Notifikasi tersebut akan diterima wajib pajak melalui SMS atau email ketika akun online ATO wajib pajak di akses dan dihubungkan ke akun myGOV lainnya.

“Kami menggunakan analisis canggih untuk mengungkap tindak kejahatan identitas dan penipuan restitusi pajak. ATO juga secara konsisten memonitor sistem online yang dijalankannya untuk mengidentifikasi jika terjadi aktivitas yang tidak biasa,” jelas Whyte.

Sistem itu akan membantu otoritas untuk menghentikan kegiatan akses yang salah, tidak sah atau terindikasi penipuan restitusi, sekaligus juga memberikan keamanan ekstra dengan mencantumkan pemeriksaan ulang terhadap akun atau rekening bank palsu. 

Baca Juga: Perlunya Standarisasi Laporan Transparansi Pajak

Untuk mengatasi hal ini, sebagaimana dilansir Tax News, ATO telah bekerjasama dengan Identity Support Centre yang akan memberikan bantuan kepada wajib pajak yang ID-nya dicuri, disalahgunakan atau dibajak. Selain itu, ATO juga bekerja sama dengan lembaga penegak hukum untuk mengambil tindakan hukum terkait kasus penipuan ini. (Amu)

Topik : berita pajak internasional, australian taxation office, australia, pencurian identitas pajak
artikel terkait
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 31 Agustus 2017 | 08:54 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 15 September 2016 | 06:02 WIB
ZIMBABWE
Senin, 17 Oktober 2016 | 10:15 WIB
ZIMBABWE
berita pilihan
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 28 Desember 2017 | 17:12 WIB
HONG KONG
Minggu, 30 September 2018 | 20:33 WIB
OECD INCLUSIVE FRAMEWORK ON BEPS
Sabtu, 13 Agustus 2016 | 17:02 WIB
THAILAND
Kamis, 29 September 2016 | 12:01 WIB
INDIA
Rabu, 11 Oktober 2017 | 11:19 WIB
KROASIA
Senin, 29 Oktober 2018 | 11:40 WIB
AUSTRALIA BARAT
Selasa, 08 Agustus 2017 | 14:15 WIB
JEPANG
Kamis, 13 Oktober 2016 | 14:13 WIB
SWISS
Jum'at, 19 Januari 2018 | 15:09 WIB
SWISS